LOS ANGELES -- Ada satu kondisi pada masa kehamilan yang selama ini sering dianggap “biasa”, tetapi bagi sebagian perempuan justru berubah menjadi pengalaman yang melemahkan tubuh secara ekstrem, ketika mual tidak lagi sekadar datang di pagi hari, melainkan berlangsung terus-menerus tanpa henti hingga mengganggu kemampuan makan dan minum.
Baca juga: Rasa Lelah yang Tak Kunjung Hilang Bisa Jadi Sinyal Tubuh Sedang Meminta PertolonganPada Rabu, 15 April 2026, laporan penelitian yang dikutip dari Newsweek serta dipublikasikan di jurnal Nature Genetics kembali memantik perhatian dunia medis terhadap hyperemesis gravidarum (HG), yaitu kondisi mual dan muntah berat pada kehamilan yang jauh lebih parah dibanding morning sickness pada umumnya.
Baca juga: Hantavirus Andes: Mengapa Virus dengan Empat Protein Bisa Membunuh Begitu Cepat?Penelitian ini dilakukan oleh tim dari Keck School of Medicine of USC di Los Angeles bersama sejumlah kolaborator internasional, dengan skala yang disebut sebagai salah satu yang terbesar dalam studi genetika kehamilan sejauh ini.
Baca juga: Kemenkes Siapkan Aturan Bungkus Rokok Seragam, Industri Tembakau dan Petani Ramai-Ramai MenolakDalam studi tersebut, para peneliti menganalisis data genetik dari 10.974 perempuan yang pernah mengalami HG dan membandingkannya dengan 461.461 perempuan tanpa kondisi tersebut, yang berasal dari berbagai latar belakang etnis seperti Eropa, Asia, Afrika, dan Amerika Latin, sebagaimana dilaporkan dalam publikasi Nature Genetics.
Baca juga: Waspada! 10 Gejala Kolesterol Tinggi yang Sering Diabaikan, Bisa Jadi Tanda Bahaya Serangan Jantung dan StrokeHG sendiri memengaruhi sekitar 2 persen ibu hamil di dunia. Meski terlihat kecil secara persentase, dampaknya bisa sangat berat, mulai dari dehidrasi, kekurangan gizi, hingga kondisi yang memerlukan perawatan di rumah sakit.Dalam laporan yang dikutip dari Newsweek, kondisi ini juga disebut dapat meningkatkan risiko komplikasi bagi ibu maupun janin jika tidak ditangani dengan tepat.Kamis, 16 April 2026, sehari setelah publikasi lanjutan hasil riset tersebut, para peneliti menegaskan bahwa temuan ini memberikan gambaran yang jauh lebih jelas tentang peran genetika dalam memicu kondisi HG.Peneliti utama Marlena Fejzo dari USC menjelaskan bahwa besarnya jumlah sampel dalam penelitian ini memungkinkan ilmuwan melihat pola genetik yang sebelumnya tidak terlihat dalam studi-studi kecil.“Karena ini adalah studi HG terbesar yang pernah dilakukan, kami dapat mengungkap detail penting yang sebelumnya tidak diketahui,” ujar Fejzo, dikutip dari Newsweek.Dalam temuan terbaru ini, peneliti mengidentifikasi enam gen baru yang sebelumnya belum pernah dikaitkan dengan HG, melengkapi daftar gen yang sudah lebih dulu diketahui seperti GDF15, GFRAL, IGFBP7, dan PGR.Gen GDF15 kembali menjadi sorotan utama karena dianggap sebagai faktor genetik paling kuat yang berkaitan dengan risiko HG.Para peneliti menjelaskan bahwa variasi pada gen ini dapat memengaruhi seberapa sensitif tubuh perempuan terhadap hormon yang memicu rasa mual selama kehamilan.Namun demikian, mereka menegaskan bahwa pengaruh gen-gen baru ini terhadap peningkatan risiko tergolong kecil dan bukan satu-satunya faktor penentu.“Perlu dicatat bahwa varian genetik baru ini hanya berhubungan dengan perubahan risiko yang kecil,” kata Fejzo kepada Newsweek.Salah satu temuan yang menarik perhatian adalah gen TCF7L2, yang juga dikenal sebagai salah satu faktor risiko kuat untuk diabetes tipe 2 dan diabetes gestasional.Para peneliti menduga gen ini mungkin berkaitan dengan hormon GLP-1, yaitu hormon usus yang berperan dalam pengaturan nafsu makan, kadar gula darah, dan rasa mual, meskipun mekanisme pastinya masih perlu diteliti lebih lanjut.Selain itu, sejumlah gen baru lainnya juga berkaitan dengan pengaturan nafsu makan, sinyal mual, metabolisme insulin, serta cara otak memproses pengalaman yang membuat tubuh menolak makanan tertentu.Beberapa temuan utama dalam penelitian ini antara lain:Enam gen baru berhasil diidentifikasi terkait hyperemesis gravidarumPenelitian melibatkan hampir setengah juta perempuan dari berbagai populasi duniaGDF15 tetap menjadi faktor genetik paling dominanHG dapat menyebabkan dehidrasi, kekurangan gizi, hingga rawat inapTerdapat kaitan dengan komplikasi kehamilan lain seperti preeklamsia dan berat badan lahir rendah
Dikutip dari Nature Genetics, studi ini juga menemukan adanya hubungan antara gen-gen yang terkait HG dengan sejumlah komplikasi kehamilan lain, termasuk risiko persalinan prematur dan gangguan pertumbuhan janin.Meski pemahaman ilmiah terus berkembang, pilihan pengobatan untuk HG hingga kini masih terbatas.Obat seperti ondansetron (Zofran), yang umum digunakan dalam praktik medis, dilaporkan hanya membantu meredakan gejala pada sebagian pasien saja.Dalam laporan yang sama, tim peneliti juga telah mendapatkan izin untuk memulai uji klinis metformin, obat yang biasa digunakan untuk diabetes, guna menguji apakah obat tersebut dapat mengurangi sensitivitas terhadap hormon GDF15 sebelum kehamilan.Di tengah kemajuan penelitian ini, para ilmuwan menegaskan bahwa HG bukanlah kondisi yang disebabkan oleh satu gen tunggal, melainkan hasil interaksi kompleks antara genetika, hormon, dan respons tubuh yang belum sepenuhnya dipahami.Dan di titik itu, penelitian ini tidak hanya membuka daftar gen baru, tetapi juga memperluas satu pertanyaan besar yang masih menggantung: sejauh mana tubuh manusia benar-benar bisa dipahami ketika ia sedang menjalani salah satu perubahan biologis paling kompleks dalam hidupnya.(Wy/Red)
Bagikan: