SANTIAGO -- Sebagian besar virus pernapasan mengikuti pola yang relatif mudah dipahami. Mereka menyerang paru-paru, merusak jaringan, memicu peradangan, lalu menyebabkan gangguan pernapasan. Namun hantavirus Andes tampaknya menolak mengikuti aturan tersebut.
Baca juga: Kemenko Perekonomian Dukung ASOCIO Digital AI Summit 2026, Jakarta Siap Jadi Pusat Kolaborasi AI Asia–OseaniaVirus ini berkembang biak secara perlahan selama berminggu-minggu tanpa menimbulkan gejala berarti. Akan tetapi ketika penyakit mulai muncul, kondisi pasien dapat berubah drastis hanya dalam hitungan jam. Seorang penderita yang masih dapat berbicara pada siang hari bisa saja berada di ruang perawatan intensif beberapa jam kemudian.
Baca juga: Pameran IFBEX 2026: Membangun Ekosistem Waralaba, Kemitraan, dan Transformasi Digital Secara TerintegrasiParadoks itulah yang kembali menjadi sorotan setelah wabah hantavirus Andes yang terjadi di kapal pesiar MV Hondius pada 2026. Sedikitnya tiga orang meninggal dunia dan sembilan lainnya jatuh sakit, beberapa di antaranya dalam kondisi kritis. Lebih dari 150 orang yang berpotensi terpapar harus menjalani pemantauan selama beberapa minggu.
Baca juga: Wamenkop RI Tinjau Koperasi Desa Merah Putih Mangga Dua, 96 Persen Progres Pembangunan TercapaiPeristiwa tersebut kembali mengingatkan dunia bahwa meskipun jarang terjadi, hantavirus termasuk salah satu penyakit menular dengan tingkat kematian yang sangat tinggi.
Baca juga: Perawatan Kecantikan Dengan Alat dari Korea Hadir di INTAN DERMA BEAUTY CimahiYang membuat hantavirus Andes berbeda adalah target serangannya.Virus influenza, RSV, maupun virus penyebab COVID-19 menyerang sel-sel paru secara langsung. Kerusakan jaringan paru menjadi salah satu penyebab utama gangguan pernapasan pada penyakit tersebut.Hantavirus Andes justru mengambil jalur yang berbeda.Menurut virolog klinis Pablo Vial dari Universidad del Desarrollo di Santiago, Chili, sasaran utama virus ini bukanlah paru-paru, melainkan lapisan pembuluh darah kecil yang tersebar di seluruh tubuh.Pembuluh darah kapiler yang seharusnya menjaga cairan tetap berada dalam sirkulasi darah mulai kehilangan kemampuan mempertahankan penghalangnya. Akibatnya, plasma darah merembes keluar menuju jaringan tubuh, termasuk ke paru-paru.Yang mengejutkan, sel-sel yang terinfeksi tidak langsung mati.Virus tetap berada di dalamnya sambil memanipulasi berbagai mekanisme biologis sehingga mampu bertahan tanpa memicu alarm besar dari sistem kekebalan tubuh.Dalam dunia virologi, hantavirus tergolong sederhana.Virus Andes hanya memiliki empat protein utama. Jumlah ini jauh lebih sedikit dibandingkan banyak virus pernapasan lain yang memiliki perlengkapan biologis lebih kompleks.Namun keterbatasan itu justru menunjukkan kecanggihan evolusinya.Keempat protein tersebut mampu menjalankan fungsi penting:- membantu virus memasuki sel;
- memperbanyak materi genetik virus;
- membentuk struktur pelindung virus;
- menghindari respons imun tubuh.Para peneliti menggambarkan hantavirus sebagai virus yang diam-diam bekerja di balik layar. Virus ini dapat menghambat respons antivirus sekaligus menghindari deteksi sistem kekebalan.Karena itulah masa inkubasinya sangat panjang. Gejala dapat muncul hingga 45 hari setelah seseorang terpapar.Dalam periode tersebut, tubuh sering kali tidak menyadari ancaman yang sedang berkembang.Salah satu pertanyaan terbesar dalam penelitian hantavirus hingga hari ini adalah apa yang sebenarnya menyebabkan pembuluh darah tiba-tiba bocor.Para ilmuwan belum memiliki jawaban pasti.Yang diketahui, pada suatu titik selama infeksi berlangsung, sambungan protein yang mengikat sel-sel pembuluh darah mulai mengendur. Celah-celah mikroskopis terbuka.Cairan darah kemudian mengalir keluar.Fenomena ini terjadi sangat cepat.Dalam hitungan jam, paru-paru dapat dipenuhi cairan. Jantung kesulitan memompa darah secara efektif. Tekanan darah menurun drastis. Pasien masuk ke fase syok yang mengancam nyawa.Kecepatan perubahan kondisi inilah yang membuat hantavirus Andes sangat ditakuti oleh tenaga medis.Pada banyak kasus, kematian terjadi ketika pasien baru tiba di rumah sakit atau dalam 24 jam pertama setelah dirawat.Di sinilah misteri kedua muncul.Penyakit ini mampu menyebabkan gagal napas berat, syok, bahkan kematian. Namun pasien yang berhasil melewati fase kritis sering kali pulih secara mengejutkan.Dalam waktu 48 hingga 72 jam setelah fase kebocoran berhenti, fungsi pembuluh darah dapat kembali normal.Berbeda dengan influenza berat atau COVID-19 yang sering meninggalkan jaringan parut pada paru-paru, banyak penyintas hantavirus tidak mengalami kerusakan permanen yang signifikan.Para ilmuwan menduga antibodi yang terbentuk selama infeksi berperan penting dalam menghentikan perkembangan penyakit. Namun mekanisme biologis yang memungkinkan sel-sel terinfeksi tetap bertahan hidup masih menjadi teka-teki.Hingga kini, belum ada penjelasan lengkap mengenai bagaimana virus dapat menyebabkan kerusakan akut yang begitu besar tanpa meninggalkan luka jangka panjang pada sebagian besar penyintas.Sebagian besar pasien berat membutuhkan dukungan oksigen intensif.Namun pada kasus yang lebih serius, ventilator tidak lagi cukup.Dokter kemudian menggunakan ECMO atau Extracorporeal Membrane Oxygenation, sebuah sistem yang sering disebut sebagai mesin jantung-paru buatan.Teknologi ini bekerja dengan cara:- mengeluarkan darah dari tubuh;
- memberikan oksigen secara eksternal;
- mengembalikan darah ke dalam sirkulasi tubuh.Dengan cara tersebut, paru-paru dan jantung mendapatkan kesempatan untuk beristirahat sementara tim medis berupaya mempertahankan kehidupan pasien.Pengalaman klinis di Chili menunjukkan bahwa transisi menuju kondisi kritis dapat berlangsung sangat cepat. Dalam beberapa kasus, pasien memerlukan ventilator dan ECMO hanya beberapa jam setelah gejala berat muncul.Meskipun hantavirus telah dikenal selama lebih dari tiga dekade, dunia medis masih belum memiliki terapi spesifik yang terbukti efektif.Beberapa pendekatan pernah diuji, antara lain:- obat antivirus;
- terapi steroid;
- terapi antiinflamasi;
- plasma penyintas.Hasilnya masih beragam.Plasma dari pasien yang telah sembuh menunjukkan potensi membantu penderita yang baru memasuki fase gejala awal karena mengandung antibodi yang dapat menghambat masuknya virus ke dalam sel.Namun terapi tersebut belum menjadi standar global.Belum tersedia pula vaksin yang dapat digunakan secara luas untuk mencegah infeksi hantavirus Andes.Dalam beberapa tahun terakhir, perhatian ilmuwan mulai tertuju pada molekul sinyal sistem imun yang disebut sitokin.Dua nama muncul berulang kali dalam penelitian:- Interleukin-6 (IL-6);
- Bradikinin.Kadar kedua molekul tersebut ditemukan meningkat pada pasien dengan penyakit yang lebih berat.IL-6 sebenarnya berfungsi membantu tubuh melawan infeksi. Namun pada kondisi tertentu, molekul ini juga dapat memicu peradangan berlebihan dan memperbesar kemungkinan kebocoran pembuluh darah.Temuan terbaru menunjukkan bahwa jalur sinyal tertentu dari IL-6 mungkin menjadi kunci yang membuka "keran" kebocoran kapiler.Jika hipotesis ini terbukti benar, beberapa obat yang saat ini sedang dikembangkan berpotensi digunakan untuk menghentikan proses tersebut sebelum pasien memasuki fase kritis.Sementara itu, sejumlah peneliti juga meneliti obat bernama icatibant yang telah digunakan untuk mengobati penyakit genetik langka berupa pembengkakan jaringan. Obat ini bekerja dengan menghambat efek bradikinin dan dinilai memiliki potensi sebagai terapi hantavirus pada masa depan.Wabah di MV Hondius memperlihatkan bahwa ancaman hantavirus belum sepenuhnya dipahami.Virus ini memang jauh lebih jarang dibanding influenza atau COVID-19. Namun tingkat kematian yang dapat mencapai sekitar 20 hingga 40 persen pada kasus terdiagnosis membuatnya tetap menjadi perhatian serius dalam kesehatan global.Yang lebih menantang, hantavirus Andes merupakan satu-satunya hantavirus yang diketahui dapat menular dari manusia ke manusia.Karena masa inkubasinya dapat mencapai enam minggu, otoritas kesehatan harus memantau penumpang, kru kapal, dan kontak erat dalam waktu yang jauh lebih lama dibanding banyak penyakit menular lainnya.Hantavirus Andes hanya membawa empat protein. Dari sudut pandang biologis, ia tampak seperti lawan yang sederhana.Namun kesederhanaan itu menipu.Virus ini mampu bersembunyi selama berminggu-minggu, memanipulasi sistem kekebalan tubuh, membuka kebocoran pembuluh darah yang belum sepenuhnya dipahami ilmuwan, lalu membawa sebagian pasien menuju kondisi kritis dalam waktu yang sangat singkat.Di saat yang sama, para penyintas dapat pulih hampir sepenuhnya seolah tubuh mereka berhasil membalikkan kerusakan yang baru saja terjadi.Kontras itulah yang membuat hantavirus Andes tetap menjadi salah satu misteri paling menarik dalam dunia penyakit menular modern. Semakin banyak ilmuwan mempelajarinya, semakin jelas bahwa ancaman terbesar virus ini bukan hanya pada tingkat kematiannya, melainkan pada betapa banyak rahasia biologis yang masih belum berhasil dipecahkan.(Wy/Red)
Bagikan: