SAMUDRA PASIFIK -- Selama lebih dari satu abad sejak pertama kali ditemukan, hiu goblin menjadi salah satu penghuni laut dalam yang paling misterius di dunia. Para ilmuwan mengenalnya melalui spesimen yang tidak sengaja tertangkap dan kemudian dibawa ke permukaan. Namun bagaimana perilaku hewan tersebut di habitat aslinya masih menjadi teka-teki besar.
Baca juga: Trump Klaim Kesepakatan Damai dengan Iran Hampir Tercapai, Harga Minyak Global Langsung TurunKini misteri itu mulai terpecahkan.
Baca juga: Bill Gates Bersaksi dalam Investigasi Kongres AS soal Jeffrey Epstein, Sorotan Baru pada Relasi Para Tokoh BerpengaruhUntuk pertama kalinya, para peneliti berhasil merekam hiu goblin (Mitsukurina owstoni) secara langsung di lingkungan alaminya di laut dalam. Rekaman langka tersebut memberikan gambaran baru mengenai kehidupan salah satu spesies hiu paling unik yang pernah ditemukan.
Baca juga: Arsenal Dapat Angin Segar dalam Perburuan Nico Williams, Mikel Arteta Berpeluang Akhiri Misi Dua TahunTemuan ini menjadi tonggak penting dalam penelitian biota laut dalam karena selama ini pengamatan terhadap hiu goblin hanya dilakukan melalui individu yang telah tertangkap dan dibawa ke permukaan laut.
Baca juga: Chelsea Incar Arda Guler Rp2,2 Triliun, Xabi Alonso Siapkan Reuni yang Bisa Mengubah Masa Depan The BluesHiu goblin pertama kali ditemukan pada tahun 1898 di perairan dalam Jepang. Hingga kini, spesies tersebut diketahui tersebar di berbagai wilayah Samudra Atlantik, Samudra Hindia, dan Samudra Pasifik, terutama di kawasan laut dalam yang minim cahaya matahari.Bagi banyak orang, penampilan hiu goblin mungkin terlihat tidak biasa. Hewan ini memiliki moncong panjang dan pipih serta rahang yang dapat melontar keluar dari wajahnya ketika berburu mangsa.Namun bentuk tubuh yang unik itu merupakan hasil adaptasi terhadap lingkungan laut dalam yang memiliki karakter sangat berbeda dibandingkan ekosistem laut dangkal.Salah satu kemampuan paling mengesankan dari hiu goblin adalah mekanisme rahangnya yang sangat cepat. Ketika mendeteksi mangsa, rahang tersebut dapat meluncur ke depan seperti ketapel untuk menangkap target yang berada di luar jangkauan normal.Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa rahang hiu goblin mampu melesat dengan kecepatan sekitar 3,1 meter per detik. Kemampuan ini membuatnya tetap menjadi predator efektif meskipun dikenal sebagai perenang yang relatif lambat.Selama bertahun-tahun, pengetahuan mengenai cara berburu hiu goblin diperoleh dari pengamatan terhadap spesimen yang telah dibawa ke akuarium atau tangki penelitian.Karena itu, keberhasilan merekam spesies ini langsung di habitat aslinya dianggap sebagai pencapaian penting dalam dunia ilmu kelautan.Menariknya, pengamatan tersebut tidak hanya terjadi satu kali.Para peneliti berhasil mendokumentasikan hiu goblin dalam dua kesempatan berbeda di Samudra Pasifik, yang diduga mewakili individu jantan dan betina.Pengamatan pertama dilakukan pada tahun 2019 saat ekspedisi kapal penelitian E/V Nautilus menjelajahi ekosistem laut dalam di sekitar Pulau Jarvis, Pasifik Tengah.Dalam misi tersebut, kendaraan bawah laut kendali jarak jauh bernama Hercules merekam seekor hiu goblin jantan pada kedalaman sekitar 1.237 meter.Berdasarkan perkiraan parameter pertumbuhan yang digunakan peneliti, individu tersebut memiliki panjang sekitar 3,43 meter dan diperkirakan berusia sekitar 51,5 tahun, meskipun estimasi usia tersebut masih bersifat dugaan ilmiah.Pengamatan kedua berlangsung pada tahun 2024 di lereng Palung Tonga yang berada di kawasan Pasifik Barat.Temuan ini bahkan lebih mengejutkan karena memperluas catatan kedalaman hidup hiu goblin hingga 697 meter lebih dalam dibandingkan batas maksimum yang sebelumnya diketahui.Sebelumnya, hiu goblin diketahui hidup hingga kedalaman sekitar 1.300 meter. Namun pengamatan terbaru menunjukkan spesies tersebut mampu bertahan pada kedalaman yang jauh lebih ekstrem.Meski kualitas gambar yang diperoleh tidak sepenuhnya sempurna, para ilmuwan tidak menemukan adanya clasper atau organ reproduksi yang biasanya dimiliki hiu jantan. Karena itu, individu kedua diduga merupakan hiu goblin betina.Penelitian ini menghasilkan sejumlah temuan penting, di antaranya:- Pengamatan langsung pertama hiu goblin di habitat alaminya.
- Perluasan wilayah sebaran spesies di Samudra Pasifik.
- Penambahan catatan kedalaman hidup hingga 697 meter lebih dalam dari data sebelumnya.
- Konfirmasi penggunaan habitat gunung bawah laut dan lereng palung laut dalam.
- Informasi baru mengenai perilaku serta preferensi habitat spesies tersebut.Bagi para ilmuwan, temuan ini bukan sekadar menambah daftar pengetahuan tentang penghuni laut dalam.Informasi mengenai sebaran wilayah, kedalaman hidup, dan habitat yang digunakan menjadi data penting dalam upaya konservasi spesies yang hidup jauh dari jangkauan manusia.Hal tersebut semakin relevan mengingat meningkatnya berbagai aktivitas manusia di wilayah laut dalam, termasuk eksplorasi sumber daya dan perubahan lingkungan global yang berpotensi memengaruhi ekosistem bawah laut.Tim peneliti menyatakan bahwa pengamatan ini berhasil memperluas pemahaman mengenai sebaran geografis hiu goblin di Samudra Pasifik sekaligus memperluas catatan rentang kedalaman hidup spesies tersebut hingga 697 meter dari batas yang sebelumnya diketahui.Penelitian juga mengonfirmasi bahwa hiu goblin memanfaatkan habitat gunung bawah laut di Pasifik Tengah serta kawasan lereng dekat palung laut di Pasifik Barat sebagai bagian dari lingkungan hidupnya.Di tengah meningkatnya ancaman terhadap berbagai spesies ikan bertulang rawan, termasuk hiu dan pari, informasi semacam ini dinilai penting untuk membantu penyusunan strategi konservasi yang lebih efektif.Masih banyak hal yang belum diketahui mengenai kehidupan hiu goblin. Namun rekaman yang berhasil diperoleh dari kedalaman laut Pasifik ini setidaknya membuka sedikit tabir dari dunia gelap yang selama ribuan tahun menjadi rumah bagi salah satu predator paling misterius di muka Bumi. (Wy/Red)
Bagikan: