22 Oct, 2026

Oberlison Saragi Raih Juara III Sayembara Menulis Seminari 2026 dengan “Satu Meja Seribu Persaudaraan”

Indofakta.com, 2026-10-21 14:44:45 WIB

Bagikan:

PEMATANGSIANTAR -- Oberlison Saragi dari Seminari Christus Sacerdos Pematangsiantar meraih juara ketiga Sayembara Penulisan Artikel Tingkat Seminari Menengah Katolik Se-Indonesia Tahun 2026. Artikelnya berjudul “Satu Meja Seribu Persaudaraan” diumumkan resmi oleh Komisi Seminari Konferensi Waligereja Indonesia pada Rabu, 21 Oktober 2026.

Baca juga: Bayang-Bayang Emas Hitam: Jaksa yang Memburu Korupsi, Kini Terperangkap di Asap Pembangkit yang Gelap

Karya Oberlison menempati posisi penting di antara 125 naskah yang masuk seleksi. Judul yang dipilihnya langsung menyentuh inti tema sayembara tentang kasih dan persaudaraan Santo Fransiskus Asisi.

Baca juga: Jejak Emas di Balik Gerimis Sentul: Ketika Brankas Bicara, Siapa yang Diam?

Sayembara digagas Komisi Seminari KWI bekerja sama dengan Mingguan HIDUP dan Paguyuban Gembala Utama. Tujuannya memperkuat kemampuan berpikir kritis para seminaris di seluruh Indonesia.

Baca juga: Ketika Pengemudi Ojol Disebut Pengusaha Mikro: Siapa yang Sebenarnya Mendapat Untung?

Kegiatan berlangsung dari 16 Juni hingga 15 Oktober 2026. Tema utama dikaitkan dengan Tahun Yubileum Khusus Fransiskus 2026, yaitu “Menggali dan menghidupi spiritualitas kasih dan persaudaraan Santo Fransiskus Asisi terhadap segenap ciptaan Allah.”

Baca juga: Dapur Kosong di Balik Piring Makan Bergizi

Peserta diberi dua pilihan topik. Pertama, persoalan alam ciptaan dan solusinya melalui nilai-nilai Laudato Si’. Kedua, persoalan sosial dan solusinya melalui nilai-nilai Fratelli Tutti.

Artikel Oberlison masuk dalam jalur kedua. Judul “Satu Meja Seribu Persaudaraan” mengisyaratkan upaya menghubungkan pengalaman sehari-hari dengan semangat persaudaraan universal yang diajarkan Paus Fransiskus.

Sebanyak 125 seminaris dari 14 seminari menengah ikut serta. Angka itu mewakili sekitar 27 persen dari total seminari di Indonesia.

Christus Sacerdos Pematangsiantar menjadi seminari dengan peserta terbanyak. Tiga puluh dua orang dari seminari ini ikut serta, termasuk Oberlison.

Mayoritas peserta berasal dari wilayah barat. Tujuh puluh tujuh orang atau 62 persen datang dari seminari di Sumatera dan Jawa. Wilayah tengah dan timur menyumbang 48 peserta atau 38 persen.

Tidak ada peserta dari seminari di Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku. Data ini menunjukkan partisipasi yang belum merata di seluruh wilayah Indonesia.

Dewan juri diketuai MT Felix Sitorus. Anggota lainnya adalah Febry Silaban, Frans Hasiholan Siagian, Lukas Teguh Jatmiko, dan Denis Guritno.

Penilaian berfokus pada kualitas substansi dan intensitas penggunaan kecerdasan buatan. Artikel yang ditulis tanpa bantuan AI mendapat nilai lebih tinggi.

Kualitas substansi dinilai melalui tiga dimensi. Verum mencakup kebenaran fakta, logika, metode, dan rujukan. Bonum menilai manfaat, etika, relevansi, dan intensi tulisan. Pulchrum melihat struktur, bahasa, estetika, serta integrasi ketiga unsur tersebut.

Selain juara utama, dewan juri memilih sepuluh artikel terbaik lainnya. Tiga di antaranya juga berasal dari Christus Sacerdos Pematangsiantar, yaitu karya Paul Gery Gultom, Andrean Sembiring, dan Andreas Situmorang.

Keputusan dewan juri diserahkan secara resmi kepada Sekretaris Komisi Seminari KWI, RP Daniel Erwin Manullang, OFM Cap. Dokumen itu menjadi dasar pengumuman resmi pada 21 Oktober 2026.

Artikel Oberlison menjadi salah satu karya yang berhasil menembus seleksi ketat. Judulnya mengajak pembaca melihat meja makan sebagai ruang sederhana yang bisa menumbuhkan persaudaraan lintas perbedaan.

Partisipasi yang masih terkonsentrasi di wilayah barat menjadi catatan. Upaya memperluas jangkauan ke seminari di wilayah lain masih terbuka untuk pengembangan di masa depan.

Penilaian yang memasukkan unsur penggunaan AI menunjukkan perhatian terhadap tantangan penulisan di era teknologi. Dewan juri menekankan pentingnya keaslian karya sebagai bagian dari pembentukan karakter calon imam.

Hasil sayembara menempatkan Oberlison Saragi di posisi terhormat. Artikel “Satu Meja Seribu Persaudaraan” menjadi bukti bahwa seminaris mampu mengangkat nilai persaudaraan secara konkret dan orisinal di tingkat nasional. (Drt/Red)

 

Sumber:Hidupkatolik.com

Bagikan:

© 2026 Copyright: Indofakta Online