CIMAHI -- Pesta Pelindung Santo Dominikus di Yayasan Santo Dominikus Cimahi menjadi momentum untuk menghubungkan kehidupan iman dengan perjalanan pendidikan para siswa. Dalam perayaan Ekaristi tersebut, Pastor Junaidi SSC mengajak anak-anak melihat tugas, pekerjaan rumah, dan berbagai kesulitan belajar sebagai bagian dari proses yang harus dijalani dengan tekun.
Baca juga: MPLS Ditutup Spirit Pendidikan Pancawaluya Harus DigelorakanPerayaan berlangsung dalam suasana khidmat sekaligus penuh interaksi antara pastor, para suster, guru, siswa, alumni, dan keluarga besar yayasan. Rangkaian perayaan digelar menjelang peringatan Pesta Pelindung Santo Dominikus yang disebut berlangsung pada 8 Agustus.
Baca juga: Aksi Ekologi Tutup MPLS Pancawaluya 2026, Sekda: Karakter Hebat Dibangun dari Kebiasaan Sederhana di RumahDikutip dari dokumentasi perayaan Ekaristi Yayasan Santo Dominikus Cimahi, Pastor Junaidi menyampaikan bahwa teladan Santo Dominikus dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, terutama melalui semangat doa, pewartaan sabda, kecintaan terhadap kebenaran, dan keberanian menghadapi tantangan.
Baca juga: Pemprov Jabar Sampaikan Pesan Untuk Siswa DI MPLSPesan tersebut disampaikan setelah pembacaan Injil Matius mengenai panggilan untuk menyangkal diri, memikul salib, dan mengikuti Kristus. Bagi Pastor Junaidi, pesan itu tidak berhenti pada konteks keagamaan, tetapi dapat didekatkan dengan pengalaman anak-anak di sekolah.
Baca juga: MPLS TK Santa Theresia Cimahi 2026 Jadi Awal Perjalanan Anak Hebat 'Grow to Shine in Veritas'Pastor Junaidi membuka homilinya dengan pertanyaan sederhana kepada para siswa. Ia bertanya apakah ada di antara mereka yang pernah merasa malas bangun pagi untuk berangkat sekolah.Jawaban anak-anak kemudian mengarah pada berbagai alasan yang dekat dengan keseharian mereka. Tugas, pekerjaan rumah, dan kewajiban belajar menjadi beberapa hal yang disebut dapat membuat siswa kehilangan semangat.Namun, Pastor Junaidi justru mengajak mereka melihat situasi tersebut dari perspektif berbeda.“Salib adalah sesuatu beban yang harus kalian pikul, tetapi itu membawa kepada keselamatan,” ujar Pastor Junaidi dalam homilinya.Dalam konteks pendidikan, ia mengajak anak-anak tidak langsung menghindari kesulitan. Belajar dengan tekun, menyelesaikan tugas, dan menghadapi kewajiban sekolah dipandang sebagai bagian dari proses pertumbuhan.Makna “salib” dalam pesan tersebut bukan sekadar beban, melainkan pengalaman yang perlu dijalani dengan ketekunan dan tanggung jawab.Pendidikan pun tidak hanya ditempatkan sebagai sarana untuk memperoleh kemampuan akademik. Anak-anak diharapkan berkembang dalam iman, kecerdasan, karakter, dan kehidupan sosial.Pesan tersebut kemudian dikaitkan dengan sosok Santo Dominikus yang menjadi pelindung Yayasan Santo Dominikus. Pastor Junaidi menguji pengetahuan siswa dengan menanyakan siapa Santo Dominikus dan siapa yang mendampingi mereka dalam proses pendidikan.Pertanyaan itu sekaligus mengarahkan anak-anak untuk mengenali para suster Dominikan yang mendampingi pendidikan di lingkungan yayasan. Suasana menjadi lebih cair ketika siswa dari berbagai jenjang diminta maju ke depan.Mereka memperkenalkan diri sekaligus menyebutkan semangat atau identitas yang mereka kenal dari sekolah masing-masing. Interaksi tersebut membuat perayaan Ekaristi berlangsung lebih dekat dengan kehidupan para siswa.Salah seorang siswa SMP kelas 7C bernama Jonatan, yang biasa dipanggil Jajang, ikut maju dan menyampaikan nilai pendidikan yang ia kenal. Ia menyebut semangat cerdas dan cinta kebenaran.Percakapan dengan para siswa juga memperlihatkan bahwa pendidikan di Yayasan Santo Dominikus tidak hanya diarahkan pada pencapaian akademik. Ada nilai-nilai yang ingin dibawa ke dalam kehidupan sehari-hari.Salah satu gagasan utama yang muncul dalam perayaan tersebut adalah perubahan. Pastor Junaidi menegaskan bahwa proses pendidikan harus membawa anak-anak menuju perubahan yang baik.Perubahan tersebut mencakup kehidupan iman, perkembangan intelektual, dan kemampuan bersosialisasi. Anak-anak diajak memahami bahwa sekolah bukan hanya tempat untuk memperoleh pengetahuan, tetapi juga ruang untuk membentuk karakter.Ia kemudian meminta siswa menjawab arah perubahan yang diharapkan. Jawaban yang muncul adalah perubahan menuju sesuatu yang lebih baik.Semangat tersebut selaras dengan tema perayaan yang mengangkat gagasan “Transfigurasi dalam karya pendidikan selaras dengan karisma pendiri.”Transfigurasi dalam konteks tersebut ditempatkan sebagai semangat untuk mengalami perubahan tanpa kehilangan akar nilai yang menjadi dasar pendidikan Yayasan Santo Dominikus.Karena itu, pendidikan tidak semata-mata dipahami sebagai proses transfer pengetahuan. Ada dimensi pembentukan manusia yang menjadi bagian penting dari perjalanan siswa sejak jenjang TK hingga SMP.Anak-anak diarahkan untuk bertumbuh dalam iman, kemampuan berpikir, kehidupan sosial, dan karakter. Proses tersebut membutuhkan keterlibatan siswa, guru, orang tua, para suster, dan seluruh komunitas pendidikan.Pastor Junaidi juga mengingatkan siswa agar tidak memisahkan kehidupan sekolah dari kehidupan iman. Tugas sekolah, persahabatan, proses belajar, maupun persoalan yang muncul dalam keseharian dapat menjadi bagian dari perjalanan untuk membentuk pribadi yang lebih matang.“Jangan lupa sertakan Tuhan di dalam kehidupan kalian sehingga kalian menyatakan Tuhan dan juga membawa Tuhan dalam kehidupan kalian untuk menjadi yang lebih baik lagi,” kata Pastor Junaidi.Pesan itu menjadi salah satu titik penting dalam Pesta Pelindung Santo Dominikus. Iman tidak hanya ditempatkan dalam kegiatan liturgi, tetapi juga dihubungkan dengan perilaku dan keputusan sehari-hari.Dalam konteks pendidikan, anak-anak diajak untuk memiliki semangat belajar sekaligus menjadikan nilai kebenaran dan kasih sebagai pedoman. Teladan Santo Dominikus kemudian ditempatkan sebagai salah satu sumber inspirasi bagi siswa untuk tekun berdoa, mewartakan kebaikan, dan mencintai kebenaran.Setelah homili, perayaan berlanjut dengan doa umat. Doa-doa tersebut mencakup Gereja, pemimpin Gereja, para imam, keluarga besar Yayasan Santo Dominikus, orang tua, guru, dan pemerhati pendidikan.Doa untuk keluarga besar yayasan secara khusus memohon agar seluruh anggota komunitas pendidikan mampu bertumbuh dalam persatuan dan terus berbagi kasih melalui karya pendidikan.Para orang tua dan guru juga menjadi bagian penting dalam doa. Mereka didoakan agar mampu mendampingi anak-anak dengan kasih dan kebijaksanaan.Pendampingan tersebut diharapkan membantu anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang beriman, berkarakter, mencintai kebenaran, dan menjalani kehidupan dengan sukacita.Doa juga dipanjatkan bagi para pendahulu serta anggota Yayasan Santo Dominikus yang telah meninggal dunia. Dalam rangkaian doa tersebut, mereka dikenang sebagai bagian dari perjalanan panjang komunitas yayasan.Perayaan Ekaristi kemudian berlangsung hingga penerimaan Komuni dan rangkaian doa penutup. Seluruh peserta mengikuti prosesi tersebut dalam suasana khidmat sebelum menerima berkat Tuhan.Perayaan tidak hanya diikuti siswa. Para suster, guru, alumni, petugas liturgi, panitia, paduan suara, organis, dan berbagai unsur keluarga besar Yayasan Santo Dominikus turut terlibat.Keterlibatan tersebut terlihat sejak awal hingga akhir perayaan. Para siswa dari jenjang pendidikan yang berbeda berada dalam satu ruang bersama guru dan para suster untuk mengikuti rangkaian Ekaristi.Setelah perayaan, mewakili dari pihak yayasan yakni Bapak Damianus Unyir, S.Pd selaku kepala sekolah SMP Santo Mikael menyampaikan terima kasih kepada Pastor Junaidi SSC yang telah memimpin Ekaristi. Apresiasi juga diberikan kepada seluruh pihak yang terlibat dalam persiapan dan pelaksanaan kegiatan.Paduan suara dan organis turut mendapat apresiasi karena mendukung suasana liturgi. Alumni juga disebut sebagai bagian dari komunitas yang tetap terlibat dalam kegiatan yayasan.Keterlibatan berbagai unsur tersebut membuat Pesta Pelindung Santo Dominikus tidak hanya menjadi perayaan keagamaan. Kegiatan tersebut juga menjadi kesempatan mempertemukan berbagai generasi dalam satu komunitas pendidikan.Pastor Junaidi yang bertugas di Paroki Santo Mikael Waringin kemudian memperkenalkan dirinya kepada para siswa, guru, dan para suster yang belum mengenalnya.Ia mengatakan senang dapat melayani Ekaristi dalam Pesta Pelindung Santo Dominikus. Ia juga mengajak seluruh peserta untuk tetap saling menyapa ketika kembali bertemu di tempat lain.“Kalau kita sudah jumpa, kalau jumpa di mana pun boleh saling menyapa,” ujarnya.Pesan tersebut disampaikan dalam suasana akrab menjelang berakhirnya perayaan. Pastor Junaidi kemudian menyampaikan ucapan selamat pesta kepada seluruh keluarga besar Yayasan Santo Dominikus.Ajakan itu langsung disambut para siswa dengan ucapan “Selamat pesta” secara bersama-sama. Setelah itu, seluruh peserta berdiri dan mengikuti rangkaian akhir sebelum menerima berkat.Pastor Junaidi mengajak seluruh peserta hening sejenak untuk mempersiapkan diri menerima berkat Tuhan. Berkat kemudian diberikan dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus.Bagi Yayasan Santo Dominikus Cimahi, Pesta Pelindung Santo Dominikus menjadi ruang untuk mengenang teladan pelindung yayasan sekaligus memperkuat identitas pendidikan yang dijalankan komunitas tersebut.Pesan yang disampaikan Pastor Junaidi memiliki titik tekan yang jelas: tantangan dalam pendidikan tidak selalu harus dilihat sebagai sesuatu yang menghambat. Bagi siswa, tugas dan kewajiban belajar dapat menjadi bagian dari proses membangun ketekunan dan tanggung jawab.Pada saat yang sama, semangat perubahan yang diangkat dalam perayaan menempatkan pendidikan sebagai proses yang lebih luas daripada pencapaian akademik.Anak-anak diharapkan bertumbuh dalam tiga ranah yang disebut dalam homili, yakni iman, intelektual, dan sosial. Ketiganya menjadi bagian dari upaya membentuk pribadi yang mampu menghadapi perubahan dengan tetap berpegang pada nilai kebenaran dan kasih.Pesta Pelindung Santo Dominikus akhirnya tidak hanya berbicara mengenai sosok santo yang menjadi pelindung yayasan. Perayaan tersebut juga menjadi pengingat bahwa sekolah merupakan ruang pembentukan manusia, tempat anak-anak belajar menghadapi tantangan, mengenali tanggung jawab, dan perlahan mengubah diri menjadi pribadi yang lebih baik.(Wy)
Bagikan: