JAKARTA -- Bursa kripto terbesar di dunia, Binance, menjadi sasaran salah satu peretasan siber paling fantastis dalam sejarah industri aset digital. Dalam waktu kurang dari 30 menit, peretas berhasil menguras aset kripto senilai US$6,3 miliar, atau sekitar Rp114 triliun, dari platform tersebut.
Baca juga: Soegiharto Santoso: Menko AHY Layak Raih Special Honorary Leadership Award di ASOCIO Digital & AI Summit 2026Insiden itu terjadi pada Kamis malam, 29 Oktober 2026, waktu setempat. Pendiri Binance, Changpeng Zhao, mengonfirmasi bahwa platformnya menjadi target serangan siber. Namun, ia menegaskan bahwa dana milik pengguna tetap aman.
Baca juga: Disdagin Bandung Gandeng SBM ITB Tingkatkan Daya Saing IKMSeperti dilansir BBC News Indonesia, Binance menyatakan sekitar setengah dari aset yang dicuri telah berhasil dibekukan. Meski begitu, sejumlah besar dana masih berada di tangan peretas, dan upaya pelacakan masih jauh dari tuntas.
Baca juga: Presiden Prabowo Instruksikan Peningkatan Investasi Berkualitas, Hilirisasi, dan Percepatan PerizinanDugaan kuat mengarah ke Korea Utara. Perusahaan analitik blockchain TRM Labs dan Chainalysis menyatakan memiliki “keyakinan tinggi” bahwa serangan itu dilakukan oleh TraderTraitor, unit peretasan elit Korea Utara yang juga dikenal sebagai Lazarus Group. Kesimpulan itu didasarkan pada intelijen on-chain dan off-chain yang kuat, serta kemiripan karakteristik serangan dengan aksi peretasan sebelumnya yang dikaitkan dengan Pyongyang.CNN Indonesia melaporkan bahwa Pangolin Intelligence, perusahaan pelacak blockchain berbasis di Singapura, juga meyakini unit peretas Korea Utara berada di balik serangan tersebut. Analis Pangolin menyebut permainan kucing-kucingan baru saja dimulai, dan Korea Utara kemungkinan akan memanfaatkan jaringan pencucian uang untuk mengubah aset curian menjadi uang yang dapat digunakan.
Baca juga: APKOMINDO dan APTIKNAS Dukung The 8th Indonesia 4.0 Conference & Expo 2026, Dorong Adopsi AI dan Transformasi Industri NasionalDari sisi modus operandi, investigasi awal Binance mengungkap bahwa peretasan kemungkinan besar terjadi melalui laptop milik seorang insinyur DevOps yang telah diretas. Menurut laporan Kontan, akses tidak sah itu memungkinkan penyerang masuk ke service container dan mengirimkan transaksi penarikan tanpa izin. Namun, Binance menegaskan belum menemukan bukti adanya kebocoran private key dompet.Head of Asia-Pacific Binance, SB Seker, menyatakan perusahaan akan menanggung seluruh kerugian akibat insiden tersebut menggunakan dana Secure Asset Fund for Users (SAFU) dan dana perusahaan. Layanan penyetoran aset juga dipastikan tidak terdampak.Pemerintah Amerika Serikat bergerak cepat. Presiden Donald Trump, seperti dikutip Antara, menyatakan otoritas penegak hukum AS tengah menyelidiki kasus ini. “Kami belum tahu pasti. Kami sedang mencermatinya, kasus peretasan pada Binance itu… Itu memang peretasan,” ujar Trump. FBI juga menyatakan sedang bekerja sama dengan mitra publik dan swasta untuk memahami cakupan aktivitas dan mengevaluasi potensi dampaknya.Di dalam negeri, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan pembobolan Binance tidak berdampak langsung terhadap ekosistem kripto Indonesia. Anggota Dewan Komisioner OJK, Adi Budiarso, menyatakan belum ada laporan dampak maupun kerugian langsung dari masyarakat Indonesia, termasuk pengguna platform TokoCrypto yang terafiliasi dengan Binance. OJK menegaskan bahwa regulasi dalam negeri mewajibkan 70 persen aset kripto disimpan di lembaga kustodian, sebuah mitigasi yang dinilai memadai.Peretasan ini melampaui rekor sebelumnya, yakni pencurian US$1,5 miliar dari bursa Bybit pada 2025 yang juga dikaitkan dengan Korea Utara. Selama beberapa tahun terakhir, aktor-aktor yang terkait dengan Pyongyang memang gencar menargetkan perusahaan mata uang kripto untuk pencurian besar-besaran. Lembaga keamanan negara-negara Barat menilai dana curian itu digunakan untuk membiayai program pengembangan senjata nuklir dan rudal Korea Utara.Hingga kini, sekitar US$3 miliar aset telah berhasil dibekukan secara on-chain. Binance juga telah menangguhkan sementara layanan penarikan aset sembari meningkatkan keamanan sistem. Namun, perburuan terhadap sisa dana dan identitas para pelaku masih berlangsung, dan hingga berita ini diturunkan, belum ada kepastian apakah seluruh aset yang hilang dapat dipulihkan.(Drt/Red)
Bagikan: