18 Oct, 2026

"Adab Lebih Penting daripada Adat" Edison Siahaan Kritik Tradisi yang Berpotensi Melahirkan Nepotisme

Indofakta.com, 2026-10-18 10:14:12 WIB

Bagikan:

SAMOSIR – Di tengah kuatnya tradisi dan tatanan adat Batak yang diwariskan secara turun-temurun, sebuah pertanyaan mendasar muncul: apakah seseorang sudah bisa disebut baik hanya karena memahami dan menjalankan adat, jika dalam kehidupan sehari-hari ia belum mampu berlaku adil terhadap sesama?

Baca juga: Jejak Emas di Balik Gerimis Sentul: Ketika Brankas Bicara, Siapa yang Diam?

Pertanyaan itulah yang menjadi inti pemikiran Edison Siahaan (65), seorang pria yang melihat bahwa adat dan adab merupakan dua hal yang sama-sama penting, tetapi tidak seharusnya ditempatkan pada posisi yang keliru.

Baca juga: Ketika Pengemudi Ojol Disebut Pengusaha Mikro: Siapa yang Sebenarnya Mendapat Untung?

Bagi Edison, adat merupakan identitas budaya yang patut dijaga dan dihormati. Namun, adab adalah cerminan kualitas seseorang dalam memperlakukan orang lain. Adat menunjukkan bagaimana seseorang terikat pada tradisi, sedangkan adab memperlihatkan bagaimana ia menggunakan nilai-nilai kemanusiaan dalam kehidupan nyata.

Baca juga: Dapur Kosong di Balik Piring Makan Bergizi

Pemikiran tersebut disampaikannya saat berkunjung bersama tiga orang sahabatnya ke Partukkoan Samosir, Jumat malam (16/10/2026), di rumah Oscar Habeahan (51).

Baca juga: SAL yang Terombang-ambing: Ketika Dana Darurat Negara Menjadi Alat Tarik-Ulur Kekuasaan Fiskal

Ketiga sahabat Edison datang dari Jakarta untuk mendaki Gunung Pusuk Buhit. Dua di antaranya berasal dari suku Jawa, sedangkan seorang lainnya bermarga Lumban Tobing.

Dalam suasana santai, di tengah percakapan dan hembusan angin Danau Toba Samosir, obrolan mereka berkembang menjadi pembahasan yang lebih luas mengenai kehidupan sosial, budaya, dan cara masyarakat memaknai adat dan adab.

Dari perbincangan itulah Edison menyampaikan pandangan yang cukup tajam mengenai kehidupan masyarakat Batak.

Menurutnya, masyarakat Batak masih sangat kuat mempertahankan tatanan adat. Namun, dalam penerapannya, nilai-nilai adab yang seharusnya menjadi dasar perilaku manusia justru perlu mendapat perhatian lebih besar.

“Batak sampai sekarang masih menerapkan tatanan adat, bukan adab,” ungkap Edison.

Pernyataan itu bukan berarti dirinya menolak adat Batak. Sebaliknya, ia mengajak masyarakat melihat kembali tujuan dan nilai-nilai yang seharusnya terkandung di dalamnya.

Sebab, menurut Edison, mempertahankan adat tidak cukup hanya dengan menjalankan ritual, memahami hubungan kekerabatan, mengetahui silsilah keluarga, atau memenuhi kewajiban dalam setiap kegiatan adat. Semua itu perlu diimbangi dengan perilaku yang mencerminkan kejujuran, keadilan, penghormatan, dan kepedulian terhadap sesama.

Baginya, adat akan kehilangan sebagian makna luhurnya apabila hanya dipertahankan sebagai aturan sosial, tetapi tidak diwujudkan dalam tindakan yang manusiawi.

Edison menilai, salah satu persoalan yang patut direnungkan adalah kecenderungan sebagian orang menempatkan hubungan kekerabatan sebagai pertimbangan utama dalam menentukan sikap dan mengambil keputusan.

Dalam masyarakat yang memiliki ikatan kekeluargaan kuat, hubungan semarga dan kedekatan keluarga memang dapat menjadi sumber solidaritas. Ikatan tersebut dapat mempererat persaudaraan dan menumbuhkan rasa saling membantu.

Namun, persoalan muncul ketika ikatan itu digunakan untuk mengutamakan kepentingan kelompok sendiri, bahkan ketika keputusan yang diambil seharusnya didasarkan pada kemampuan, kelayakan, dan kepentingan bersama.

Edison menyoroti situasi ketika seseorang memperoleh pangkat, jabatan, atau kedudukan penting, kemudian lebih mengutamakan keluarga maupun orang yang memiliki marga sama dengannya.

Dalam keadaan seperti itu, hubungan kekerabatan berisiko mengalahkan pertimbangan objektif.

Orang yang memiliki kemampuan dan memenuhi persyaratan bisa saja tersisih, sementara orang yang lebih dekat secara kekeluargaan justru mendapatkan prioritas.

Jika praktik semacam ini terjadi, persoalannya bukan lagi sekadar hubungan keluarga, melainkan menyangkut keadilan dan tanggung jawab moral seseorang terhadap jabatan yang dipercayakan kepadanya.

“Bagi saya, yang utama itu adab, bukan sekadar adat. Pejabat yang beradab akan mengutamakan kualitas, bukan marga atau hubungan keluarga,” tegasnya.

Pandangan tersebut menjadi pengingat bahwa jabatan bukanlah milik keluarga, bukan pula hak kelompok tertentu. Jabatan merupakan amanah yang harus dijalankan dengan tanggung jawab, profesionalitas, dan keberpihakan pada kepentingan yang lebih luas.

Seseorang boleh saja bangga terhadap marganya, menghormati leluhurnya, dan menjalankan adat dengan sungguh-sungguh. Namun, kebanggaan itu tidak seharusnya berubah menjadi alasan untuk memberikan perlakuan istimewa kepada orang tertentu tanpa mempertimbangkan kemampuan dan kelayakannya.

Bagi Edison, kesamaan marga tidak otomatis menjadikan seseorang paling pantas dipercaya. Sebaliknya, perbedaan marga juga tidak seharusnya menjadi alasan untuk menutup kesempatan bagi orang yang memiliki kemampuan.

Menurutnya, keadilan tidak ditentukan oleh siapa saudara kita, melainkan oleh apa yang layak diterima seseorang berdasarkan kemampuan, tanggung jawab, dan aturan yang berlaku.

Dalam menjelaskan pandangannya, Edison merujuk pada sila kedua Pancasila, yakni Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.

Menurutnya, sila tersebut mengandung pesan penting bahwa kehidupan bermasyarakat harus dibangun dengan menghormati martabat setiap manusia serta memperlakukan sesama secara adil.

Kata adil dan beradab bukan sekadar rangkaian kalimat yang dihafalkan dalam kehidupan berbangsa. Keduanya harus tercermin dalam keputusan dan tindakan sehari-hari.

Seseorang dapat berbicara lantang tentang persaudaraan, tetapi makna persaudaraan itu patut dipertanyakan apabila ia hanya membela orang-orang yang memiliki hubungan keluarga dengannya.

Seseorang juga dapat mengaku menjunjung tinggi adat, tetapi pengakuan itu belum cukup apabila dalam praktiknya ia mengabaikan hak orang lain atau menggunakan kedudukan untuk menguntungkan kelompok sendiri.

Dalam pandangan Edison, adab justru diuji ketika seseorang memiliki kesempatan untuk memilih antara kepentingan pribadi dan kepentingan bersama.

"Apakah ia tetap berlaku adil ketika yang membutuhkan bantuan bukan keluarganya sendiri? Apakah ia memberikan kesempatan kepada orang yang lebih mampu meskipun berbeda marga? Dan apakah ia berani mengambil keputusan yang benar meskipun keputusan tersebut tidak menguntungkan kerabatnya?."

Pertanyaan-pertanyaan seperti itulah yang menurutnya perlu menjadi bahan refleksi.

Sebab, keadilan akan sulit terwujud apabila seseorang hanya menggunakan ukuran kedekatan pribadi dalam menentukan siapa yang harus dibantu, dipercaya, atau diberikan kesempatan.

Nilai kemanusiaan menuntut seseorang untuk melihat orang lain sebagai manusia yang memiliki martabat dan hak, bukan semata-mata sebagai anggota keluarga, kelompok, atau marga tertentu.

Dalam konteks pelayanan publik, prinsip ini semakin penting. Pejabat dituntut melayani masyarakat secara adil, bukan hanya orang-orang yang memiliki hubungan dekat dengannya.

Dengan demikian, adab bukan sekadar persoalan sopan santun dalam berbicara. Adab juga berkaitan dengan integritas, tanggung jawab, kejujuran, serta kemampuan menempatkan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi.

Salah satu hal yang menjadi perhatian Edison adalah bagaimana hubungan kekerabatan dapat memengaruhi pola pikir dan perilaku seseorang.

Dalam masyarakat Batak, marga memiliki kedudukan penting. Marga menjadi bagian dari identitas, sejarah keluarga, dan hubungan persaudaraan yang diwariskan lintas generasi.

Kehidupan adat juga mengajarkan nilai kebersamaan, penghormatan kepada orang tua, serta tanggung jawab dalam hubungan sosial.

Namun, nilai-nilai tersebut perlu dipahami secara bijaksana agar tidak disalahgunakan untuk membenarkan tindakan yang bertentangan dengan keadilan.

Membantu keluarga yang mengalami kesulitan, misalnya, merupakan bentuk kepedulian yang wajar. Akan tetapi, mengutamakan keluarga dalam pengangkatan jabatan atau pembagian kesempatan tanpa mempertimbangkan kemampuan dan aturan merupakan persoalan yang berbeda.

"Di sinilah pentingnya membedakan solidaritas kekeluargaan dengan nepotisme."

Solidaritas mendorong seseorang membantu sesama tanpa harus merugikan hak orang lain. Sebaliknya, nepotisme terjadi ketika hubungan keluarga digunakan untuk memberikan keuntungan atau kedudukan secara tidak patut.

Menurut pemikiran Edison, adat seharusnya menjadi kekuatan yang membangun karakter dan mempererat hubungan antarmanusia, bukan menjadi alasan untuk mengesampingkan kualitas seseorang.

Ia mengingatkan bahwa masyarakat perlu berani menilai suatu tindakan berdasarkan benar atau salahnya, bukan semata-mata berdasarkan siapa yang melakukannya.

Jika tindakan seseorang dianggap keliru, hubungan kekerabatan tidak seharusnya menjadi tameng untuk menghindari kritik. Demikian pula, jika seseorang memiliki kemampuan dan berhak mendapatkan kesempatan, ia tidak seharusnya dipinggirkan hanya karena tidak memiliki hubungan keluarga dengan pihak yang berwenang.

Sikap seperti itu merupakan bagian dari penerapan adab dalam kehidupan bermasyarakat.

Menghormati marga adalah bagian dari menjaga identitas, tetapi menjadikan marga sebagai ukuran utama dalam menentukan kelayakan seseorang dapat menjauhkan masyarakat dari prinsip keadilan.

Edison juga menghubungkan pemikirannya dengan nilai-nilai kerohanian dan kehidupan yang dikehendaki Tuhan.

Baginya, manusia tidak cukup hanya menunjukkan ketaatan melalui simbol, ucapan, atau pelaksanaan berbagai kewajiban sosial dan keagamaan. Ketaatan juga perlu tercermin dalam cara seseorang memperlakukan orang lain.

Menghormati sesama, berlaku jujur, tidak mengambil hak orang lain, dan tidak menyalahgunakan kekuasaan merupakan bagian dari perilaku yang menunjukkan kualitas moral seseorang.

Seseorang tidak seharusnya merasa lebih baik hanya karena berasal dari keluarga terpandang, memiliki marga tertentu, atau menduduki jabatan tinggi.

Nilai kemanusiaan justru mengajarkan bahwa setiap orang harus mampu menahan kepentingan dirinya ketika kepentingan tersebut bertentangan dengan keadilan.

Dalam kehidupan sehari-hari, sikap itu dapat dimulai dari hal sederhana: tidak merendahkan orang lain, tidak membeda-bedakan perlakuan berdasarkan latar belakang, tidak menggunakan kedekatan untuk memperoleh keuntungan yang tidak semestinya, serta berani mengakui kesalahan.

Edison melihat bahwa nilai-nilai seperti itulah yang perlu terus dihidupkan agar adat, agama, dan kehidupan sosial berjalan searah dengan prinsip kemanusiaan.

Adat dan nilai kerohanian semestinya membantu manusia menjadi lebih baik. Karena itu, keduanya perlu diwujudkan dalam perilaku yang dapat dirasakan manfaatnya oleh orang lain.

Bukan hanya terlihat dalam upacara, tetapi juga hadir ketika seseorang membuat keputusan, memegang amanah, dan berhadapan dengan orang yang membutuhkan keadilan.

Pandangan Edison dapat menjadi bahan perenungan di tengah kehidupan masyarakat Batak yang memiliki tradisi dan ikatan kekerabatan kuat.

Namun, kritik terhadap praktik sosial tidak seharusnya dimaknai sebagai penolakan terhadap adat Batak itu sendiri.

Adat merupakan bagian penting dari warisan budaya yang menyimpan nilai sejarah, identitas, dan kebersamaan. Pelestariannya tetap penting agar generasi berikutnya mengenal asal-usul dan memahami tanggung jawab sosialnya.

Persoalannya adalah bagaimana nilai-nilai adat tersebut diterapkan tanpa mengorbankan prinsip keadilan.

Tradisi yang baik seharusnya mampu menyesuaikan penerapannya dengan tuntutan kehidupan yang semakin kompleks, termasuk dalam urusan pendidikan, pekerjaan, pemerintahan, dan pelayanan publik.

Masyarakat dapat tetap menjalankan adat dengan penuh penghormatan, tetapi pada saat yang sama harus berani menolak tindakan yang merugikan orang lain.

Seseorang dapat menghormati hubungan semarga tanpa harus menganggap orang semarganya selalu paling benar. Seseorang dapat membantu kerabat tanpa harus mengorbankan hak orang lain. Dan seseorang dapat bangga terhadap identitas budayanya tanpa merendahkan masyarakat dari suku yang berbeda.

"Justru melalui sikap seperti itu, nilai luhur adat dapat semakin kuat karena diwujudkan dalam perilaku yang adil dan manusiawi."

Dalam perbincangannya bersama tiga sahabat dari latar belakang berbeda, pemikiran Edison juga mengingatkan bahwa nilai kemanusiaan tidak dibatasi oleh suku atau marga.

"Perbedaan latar belakang tidak menghalangi seseorang untuk membangun persahabatan, saling menghormati, dan berbagi pandangan tentang kehidupan."

Hal yang sama semestinya berlaku dalam kehidupan bermasyarakat. Perbedaan marga tidak boleh menjadi penghalang untuk memberikan kesempatan, sedangkan kesamaan marga tidak boleh menjadi alasan untuk mengistimewakan seseorang secara tidak adil.

Pemikiran Edison mengarah pada satu persoalan mendasar: bagaimana menilai kualitas seseorang?

Apakah dari seberapa sering ia terlibat dalam kegiatan adat? Seberapa luas ia memahami silsilah keluarga? Atau seberapa tinggi kedudukannya dalam masyarakat?

Bagi Edison, semua itu bukan satu-satunya ukuran. Kualitas seseorang juga harus dilihat dari bagaimana ia bersikap kepada orang lain, bagaimana ia mengambil keputusan, serta bagaimana ia menggunakan kekuasaan dan kesempatan yang dimilikinya.

Orang yang beradab tidak hanya tahu cara menghormati kerabatnya, tetapi juga mampu menghormati orang yang tidak memiliki hubungan apa pun dengannya.

Orang yang beradab tidak hanya membela keluarganya ketika menghadapi persoalan, tetapi juga berani mengakui jika keluarganya melakukan kesalahan.

Dan orang yang beradab tidak menjadikan jabatan sebagai sarana untuk menguntungkan kelompok sendiri, melainkan sebagai tanggung jawab untuk memberikan manfaat yang lebih luas.

Dalam konteks inilah, kritik Edison menjadi relevan. Sebab, tantangan dalam kehidupan bermasyarakat bukan hanya mempertahankan identitas budaya, melainkan memastikan bahwa nilai-nilai luhur budaya benar-benar hadir dalam perilaku manusia.

Adat tanpa adab berisiko menjadi sekadar formalitas. Sebaliknya, adat yang dijalankan dengan adab dapat menjadi kekuatan untuk membangun masyarakat yang saling menghormati dan menjunjung keadilan.

Bagi Edison, menjaga adat tetap penting. Namun, manusia tidak boleh berhenti pada kebanggaan terhadap identitasnya sendiri. Ia harus melangkah lebih jauh dengan membuktikan bahwa nilai-nilai yang diwariskan leluhur mampu membentuk pribadi yang jujur, adil, dan bertanggung jawab.

Pesannya sederhana, tetapi menyimpan makna yang mendalam bagi masyarakat Batak maupun masyarakat Indonesia secara luas.

Adat menjaga identitas, tetapi adab menentukan bagaimana identitas itu diwujudkan dalam kehidupan. Marga boleh menjadi kebanggaan, tetapi keadilan harus tetap menjadi pegangan.

“Pada intinya, manusia beradab jauh lebih penting daripada sekadar manusia beradat,” pungkas Edison.

Sebuah pernyataan yang mengajak setiap orang untuk bercermin: jangan sampai kita begitu sibuk mempertahankan adat, tetapi lupa memperbaiki perilaku; begitu bangga terhadap marga, tetapi mengabaikan keadilan; atau begitu kuat berbicara tentang persaudaraan, tetapi justru menutup mata terhadap ketidakadilan yang terjadi di sekitar kita..(jst)

Bagikan:

© 2026 Copyright: Indofakta Online