Samosir – Di perbukitan yang berada di antara Desa Pardomuan I dan Desa Huta Tinggi, Kecamatan Pangururan, berdiri sebuah batu raksasa yang hingga kini masih terjaga. Masyarakat setempat mengenalnya sebagai Batu Bolon, sebuah batu yang diyakini menjadi tempat bersemayam dan duduknya leluhur, Raja Stempang.
Baca juga: Pemkab Samosir Dukung Penguatan Investasi Internasional untuk Pengembangan TSTH2Menurut HS, salah seorang keturunan sekaligus ahli waris kawasan tersebut, Batu Bolon bukanlah batu biasa. Batu itu merupakan peninggalan bersejarah yang memiliki nilai budaya dan menjadi saksi perjalanan leluhur mereka.
Baca juga: Satpol PP Pematangsiantar Patroli Kamtibmas di Wilayah Strategis «"Batu on ma batu parhundulan ni oppungta manatap Pangururan, Tao Toba dohot Dolok Pusuk Buhit," ujarnya.»Yang berarti, "Batu ini adalah tempat leluhur kami memandang Pangururan, Danau Toba, dan Gunung Pusuk Buhit."
Baca juga: Pagelaran Seni Budaya di PRSU, Wali Kota Wesly Sebut Pematangsiantar Kaya Keberagaman Seni, Budaya, Kuliner, serta Kreativitas Selain menjadi tempat menatap, kawasan di sekitar Batu Bolon juga dipercaya sebagai lokasi permukiman leluhur pada masa lampau. Keyakinan tersebut diperkuat dengan keberadaan Mual Batu Bolon, sebuah mata air yang tidak pernah mengering meski musim kemarau panjang melanda.
Baca juga: Pemkab. Samosir Dukung Penguatan Investasi Internasional untuk Pengembangan TSTH2Keberadaan batu besar beserta mata air itu menjadi bukti yang diyakini masyarakat sebagai jejak sejarah yang patut dijaga. Karena itu, Batu Bolon dinilai layak dipugar dan ditetapkan sebagai situs budaya agar generasi muda tetap mengenal warisan sejarah nenek moyangnya serta tidak kehilangan identitas budaya Batak.Di sekitar Batu Bolon juga terbentang lahan yang cukup luas, yang menurut ahli waris merupakan peninggalan Raja Stempang dan diwariskan secara turun-temurun kepada pemegang hak kesulungan. Kawasan ini bahkan direncanakan menjadi salah satu lokasi pembangunan Tugu Raja Stempang sebagai simbol penghormatan terhadap leluhur.DRaja Stempang merupakan putra Raja Naiambaton. Dari keturunannya lahir berbagai marga, antara lain Sitanggang, Sigalingging, Simanihuruk, Sidauruk, Ginting, Garingging, Tendang, Banuarea, Manik, Beringin, Gajah, dan Berasa. Kini keturunan Raja Stempang telah tersebar ke berbagai daerah di Indonesia maupun mancanegara, yang dalam istilah Batak sering disebut telah merantau di Desa Na Ualu atau delapan penjuru mata angin.Batu Bolon bukan sekadar bongkahan batu berukuran besar. Ia merupakan simbol sejarah, identitas, dan warisan budaya yang menghubungkan generasi masa kini dengan jejak para leluhur. Melestarikannya berarti menjaga akar sejarah agar tetap hidup sepanjang zaman.(Jst)
Bagikan: