10 Jul, 2026

Pelajar PKL Jadi Tenaga Murah di Hotel Labuan Bajo

Indofakta.com, 2026-07-10 13:59:48 WIB

Bagikan:

JAKARTA -- Labuan Bajo kembali memamerkan wajah paling bersih dari industri pariwisata. Di luar, kota ini dijual sebagai masa depan, sebagai ruang tumbuh, sebagai etalase yang menjanjikan. Tetapi di balik citra itu, ada pelajar SMK yang justru diperas tenaganya atas nama praktik kerja lapangan. Mereka bekerja seperti karyawan, ikut shift malam, menerima penalti jam kerja, dan pulang dengan tubuh letih tanpa upah yang layak.

Baca juga: Pangdam III/Slw Beri Pengarahan kepada 2.211 Personel Satuan TP Tahap IV di Dodik Secata Rindam III/Siliwangi

Pada Jumat, 10 Juli 2026, melansir dari media Floresa.co yang mengungkap kesaksian yang sulit diputarbalikkan: pelajar PKL di hotel-hotel Labuan Bajo mengaku diperlakukan seperti staf, hanya saja staf digaji. Pengakuan itu bukan sekadar keluhan anak sekolah yang belum paham dunia kerja. Ia menunjukkan betapa kaburnya batas antara pendidikan dan eksploitasi.

Baca juga: Pangdam III/Siliwangi Berikan Pengarahan kepada 2.211 Personel Satuan TP Tahap IV di Dodik Secata Rindam III/Siliwangi

Masalahnya bukan pada PKL itu sendiri. Program ini memang dirancang sebagai jembatan antara sekolah dan dunia kerja. Siswa SMK perlu mengenal ritme industri, budaya pelayanan, disiplin, dan tanggung jawab. Tetapi jembatan itu berubah menjadi jalan satu arah ketika siswa ditempatkan untuk menutup kebutuhan operasional hotel, bukan untuk belajar di bawah pembimbingan yang memadai.

Baca juga: Prof. Asep Mulyana Apresiasi Kekompakan Adhyaksa 696, Reuni Terbesar Sepanjang Sejarah Angkatan

Di banyak kasus, polanya nyaris sama. Siswa diberi tugas yang setara dengan pekerja tetap, tetapi tanpa status, tanpa upah, dan sering kali tanpa perlindungan. Mereka melayani tamu, membersihkan ruangan, mengisi kekosongan shift, sampai bekerja hingga tengah malam. Saat melakukan kesalahan, yang datang bukan evaluasi pendidikan, melainkan tekanan dan ancaman verbal. Dalam situasi seperti itu, kata praktik hanya menjadi selimut tipis bagi kerja murah.

Pihak industri kerap berdalih bahwa semua itu bagian dari proses belajar. Argumen itu tidak sepenuhnya keliru. Dunia kerja memang keras, dan siswa memang perlu mengenalnya. Tetapi pembelajaran yang sah tetap memiliki batas: ada jam yang wajar, ada pendampingan, ada evaluasi, ada ruang aman untuk gagal dan memperbaiki diri. Begitu siswa diperlakukan sebagai tenaga pengganti, bukan peserta didik, alasan pendidikan runtuh dengan sendirinya.

Baca juga: Pemprov Jabar Kaji Strategi Peningkatan APK Perguruan Tinggi

Tanggung jawab juga tidak bisa dibebankan hanya kepada hotel. Sekolah ikut bertanya jawab. Jika penempatan dilakukan tanpa pengawasan rutin, tanpa kunjungan serius, dan tanpa kanal pengaduan yang nyata, maka sekolah ikut membuka pintu bagi penyimpangan. Guru pembimbing tidak boleh berhenti pada serah terima siswa. Setelah itu, mereka wajib memastikan apakah anak didik benar-benar belajar atau justru diserap menjadi roda penggerak bisnis.

Pemerintah daerah pun tak bisa bersembunyi di balik jargon kemitraan pendidikan. Dinas pendidikan dan instansi terkait semestinya menjadikan kasus ini sebagai alarm, bukan sekadar bahan rapat. PKL yang menyimpang bukan hanya mencederai siswa, tetapi juga merusak integritas pendidikan vokasi. Jika industri terus dibiarkan memperlakukan pelajar sebagai tenaga cadangan, maka SMK hanya akan melahirkan lulusan yang sudah lelah sebelum sempat bekerja.

Pertanyaan paling penting kini bukan lagi apakah ada eksploitasi, melainkan mengapa praktik seperti ini bisa bertahan begitu lama. Jawabannya ada pada pertemuan kepentingan yang sunyi: industri mendapat tenaga murah, sekolah merasa terbantu oleh relasi kerja sama, dan siswa dipaksa diam karena status mereka lemah. Dalam relasi yang timpang seperti itu, yang paling mudah dikorbankan selalu peserta didik.

PKL seharusnya menjadi ruang belajar, bukan ruang pembiasaan penindasan. Jika industri ingin menyebutnya pendidikan, maka pendidikan itu harus punya martabat. Tanpa itu, yang tersisa hanyalah tenaga muda yang diperas secara halus, dibungkus kata praktik, dan dijual sebagai bagian dari masa depan.

(Wy/Red)

Bagikan:

© 2026 Copyright: Indofakta Online