PARIS -- Hanya beberapa hari sebelum Piala Dunia 2026 resmi dimulai, FIFA kembali diterpa badai yang mengingatkan publik pada salah satu periode paling kelam dalam sejarah organisasi sepak bola dunia tersebut. Presiden FIFA Gianni Infantino kini menjadi sasaran pengaduan pidana yang diajukan oleh mantan Presiden UEFA Michel Platini, sosok yang pernah digadang-gadang sebagai pewaris takhta FIFA sebelum karier politiknya runtuh akibat kasus yang kini justru menjadi sumber gugatan baru.
Baca juga: Satgas Kizi TNI Kontingen Garuda XX-U Monusco Raih Medali Kehormatan PBBPengaduan tersebut diajukan di Paris, Prancis, pada Senin, 8 Juni 2026. Platini menuduh Infantino bersama mantan Direktur Hukum FIFA Marco Villiger dan mantan Kepala Audit serta Kepatuhan FIFA Domenico Scala melakukan upaya terkoordinasi untuk menggagalkan dirinya menjadi Presiden FIFA pada pemilihan 2016.
Baca juga: Serangan Brutal di Gaza: Kucing Memakan Jasad Korban, Rumah Sakit Dikepung, dan Zona Kemanusiaan DibombardirKasus ini membuka kembali luka lama yang selama satu dekade terus menghantui sepak bola dunia. Pada 2015, ketika skandal korupsi FIFA mengguncang organisasi tersebut hingga ke akar-akarnya, Platini merupakan kandidat terkuat untuk menggantikan Sepp Blatter sebagai presiden baru. Namun situasi berubah drastis setelah muncul penyelidikan terhadap pembayaran 2 juta franc Swiss yang diterima Platini dari Blatter.
Baca juga: Inter Milan Bungkam Como 2-0, Asa Scudeto Liga Italia Tetap TerjagaPembayaran yang nilainya setara sekitar Rp39 miliar itu menjadi dasar penyelidikan etik FIFA yang berujung pada larangan beraktivitas bagi Platini. Hukuman tersebut praktis menghancurkan peluangnya untuk memimpin FIFA. Di tengah kekosongan itu, Gianni Infantino yang saat itu menjabat Sekretaris Jenderal UEFA muncul sebagai kandidat alternatif dan akhirnya memenangkan pemilihan presiden FIFA pada 2016.
Baca juga: Athletic Bilbao Permalukan Real Madrid, Mbappe Gagal Penalti Lagi!Kini, setelah bertahun-tahun berlalu, Platini berusaha membalik narasi yang selama ini melekat pada dirinya. Setelah memperoleh pembebasan hukum dari pengadilan Swiss pada 2022 dan kembali memenangkan proses banding pada 2025, Platini merasa memiliki dasar kuat untuk mempertanyakan mengapa dirinya sampai disingkirkan dari panggung politik sepak bola internasional.Menurut tim hukumnya, proses yang menjatuhkan Platini bukan sekadar penegakan aturan etik. Mereka menduga terdapat upaya sistematis untuk menghalangi jalannya menuju kursi tertinggi FIFA. Tuduhan tersebut secara langsung menempatkan Infantino sebagai pihak yang disebut paling diuntungkan dari kejatuhan mantan atasannya itu.Kasus ini memiliki dimensi yang jauh lebih besar dibanding sekadar perseteruan pribadi dua tokoh sepak bola. Jika tuduhan Platini terbukti memiliki dasar kuat, maka pertanyaan mengenai legitimasi transisi kekuasaan FIFA pasca-era Blatter akan kembali mengemuka. Artinya, salah satu momen paling menentukan dalam sejarah modern FIFA dapat dipandang dari perspektif yang sama sekali berbeda.Bagi Infantino, waktu munculnya kasus ini menjadi tantangan serius. Piala Dunia 2026 merupakan proyek terbesar sepanjang masa kepemimpinannya. Turnamen yang digelar bersama Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada tersebut menjadi edisi pertama dengan 48 peserta dan diproyeksikan menghasilkan pendapatan lebih dari US$9 miliar atau sekitar Rp146 triliun.Selama hampir satu dekade memimpin FIFA, Infantino berhasil memperluas jangkauan komersial organisasi tersebut. Pendapatan meningkat, sponsor bertambah, jumlah peserta Piala Dunia diperbesar, serta berbagai kompetisi baru diperkenalkan. Dari sisi bisnis, FIFA berada dalam posisi yang sangat kuat.Namun keberhasilan tersebut tidak pernah sepenuhnya menghapus kritik mengenai tata kelola organisasi. Sejumlah pengamat menilai reformasi yang dijanjikan FIFA setelah skandal 2015 tidak sepenuhnya mengubah budaya kekuasaan di dalam organisasi. Struktur memang berubah, tetapi kritik terhadap sentralisasi pengaruh di sekitar presiden FIFA tetap bermunculan.Gugatan Platini muncul tepat ketika FIFA berusaha menampilkan citra keberhasilan dan stabilitas menjelang pesta sepak bola terbesar di dunia. Alih-alih hanya berbicara tentang pertandingan pembuka, stadion megah, atau bintang-bintang yang akan berlaga, perhatian publik kini juga tertuju pada pertarungan hukum dan politik yang berlangsung di balik layar.Menariknya, kasus ini juga menghidupkan kembali rivalitas yang sebelumnya tidak terlalu terlihat di ruang publik. Hubungan Platini dan Infantino dulunya merupakan hubungan atasan dan bawahan di UEFA. Ketika Platini memimpin organisasi sepak bola Eropa itu, Infantino menjadi salah satu orang kepercayaannya. Namun perjalanan politik FIFA mengubah hubungan tersebut menjadi salah satu konflik paling menarik dalam sejarah administrasi sepak bola modern.Hingga saat ini FIFA belum memberikan tanggapan rinci terhadap pengaduan terbaru tersebut. Tidak ada pula indikasi bahwa kasus ini akan berdampak langsung terhadap penyelenggaraan Piala Dunia 2026. Namun secara reputasi, tekanan terhadap FIFA dipastikan meningkat seiring besarnya perhatian media internasional terhadap turnamen tersebut.Masih banyak pertanyaan yang belum terjawab. Bukti apa yang dimiliki tim hukum Platini? Apakah terdapat dokumen baru yang belum pernah dipublikasikan? Sejauh mana otoritas Prancis akan menindaklanjuti pengaduan tersebut? Dan yang paling penting, apakah tuduhan konspirasi ini dapat dibuktikan secara hukum atau hanya akan menjadi babak baru dalam perang panjang antara dua tokoh yang pernah berada di sisi yang sama?Yang jelas, ketika jutaan penggemar bersiap menikmati pertandingan terbesar di dunia, FIFA kembali dihadapkan pada kenyataan bahwa masa lalu belum benar-benar pergi. Bayang-bayang skandal yang sempat mengguncang organisasi itu satu dekade lalu kini muncul kembali pada saat yang paling tidak diinginkan.Bagi Michel Platini, ini adalah upaya mencari keadilan atas kesempatan yang menurutnya telah dirampas. Bagi Gianni Infantino, ini adalah ujian terbesar terhadap warisan kepemimpinannya sejak menjabat Presiden FIFA pada 2016. Dan bagi dunia sepak bola, kasus ini menjadi pengingat bahwa perebutan kekuasaan di balik layar sering kali sama sengitnya dengan pertandingan yang berlangsung di atas lapangan (Wy/Red)
Bagikan: