5 Nov, 2026

Como Bantai Lens 9-1, Madrid Nyaris Kalah, Arsenal Keringetan!

Indofakta.com, 2026-11-05 08:11:13 WIB

Bagikan:

LENS -- Papan skor di Stadion Bollaert-Delelis berhenti di angka yang nyaris tidak masuk akal: 1-9. Como 1907, tim debutan di Liga Champions, melumat tuan rumah Lens dengan sembilan gol tanpa ampun pada matchday keempat fase liga 2026/2027, Kamis (5/11/2026) dini hari WIB.

Baca juga: Pengadilan Jerman Putuskan Terdakwa Pembunuhan WNI Isaac Hansen Dirawat di Psikiatri Forensik

Kemenangan ini bukan sekadar tiga poin. Como menjadi tim tamu pertama dalam sejarah Liga Champions yang mampu mencetak sembilan gol dalam satu pertandingan. Catatan itu sekaligus menyamai margin kemenangan terbesar sepanjang sejarah kompetisi, menyamai kemenangan 8-0 Liverpool atas Besiktas dan Real Madrid atas Malmo.

Baca juga: Gempa Besar 7,7 Guncang Panama, Warga Kabur ke Jalan

Anastasios Douvikas menjadi bintang utama dengan hat-trick pada menit ke-7, 32, dan 57. Penyerang asal Yunani itu kini memuncaki daftar pencetak gol Liga Champions dengan enam gol dari empat pertandingan. Nico Paz menambah satu gol dan dua assist, sementara Lucas Da Cunha, Marc-Oliver Kempf, Mattia Liberali, Martin Baturina, dan Matteo Papaccioli melengkapi pesta gol Como.

Baca juga: Trump Sepakat Beli Diesel dari Rusia Demi Turunkan Harga Jelang Midterms, Putar Haluan dari Sanksi

Satu-satunya gol Lens lahir dari kaki Ruben Aguilar pada menit ke-65. Itu pun hanya menjadi catatan pinggir di tengah kehancuran tim Prancis tersebut. Pelatih Como, Cesc Fabregas, menyebut malam itu sebagai malam sempurna. "Semua berjalan sesuai keinginan kami," ujarnya.

Baca juga: Ronaldo Cetak Gol ke-980, Suporter Al Nassr Tetap Setia Meski Sedang Konflik dengan Portugal

Kemenangan ini membawa Como ke posisi keempat klasemen dengan sembilan poin, hanya kalah selisih gol dari Barcelona dan Aston Villa. Bagi Lens, kekalahan ini menjadi pukulan telak di hadapan pendukung sendiri.

Di Athena, Real Madrid meraih tiga poin, tetapi caranya jauh dari kata meyakinkan. Los Blancos menang 3-2 atas AEK Athens lewat gol dramatis Federico Valverde di menit ke-90+2.

Madrid tertinggal lebih dulu pada menit ke-12 melalui Aboubakary Koita. Jude Bellingham menyamakan kedudukan pada menit ke-32 dengan gol tumit yang memanfaatkan umpan silang Marc Cucurella. Stavros Pilios membawa AEK kembali unggul pada menit ke-75, sebelum Kylian Mbappe menyamakan kedudukan tiga menit berselang.

Valverde kemudian memastikan kemenangan dengan tendangan jarak jauh di masa injury time. Hasil ini menjaga rekor 100 persen Madrid di fase liga dengan 12 poin dari empat laga, hanya kalah selisih gol dari Paris Saint-Germain di puncak klasemen. Namun, pola permainan rapuh dan kecenderungan tertinggal lebih dulu menjadi sinyal yang tidak bisa diabaikan.

Arsenal tidak mencetak sembilan gol. Mereka hanya mencetak dua, tetapi itu cukup untuk membawa pulang tiga poin dari markas Slavia Praha dengan kemenangan 2-1.

Noni Madueke membuka keunggulan pada menit ke-9 setelah memanfaatkan tekanan Viktor Gyokeres di lini tengah. Gyokeres kemudian menggandakan skor pada menit ke-38, memanfaatkan kelengahan lini belakang Slavia.

Slavia memperkecil ketertinggalan pada menit ke-90 melalui Wiktor Nowak. Arsenal bertahan hingga akhir dan mengamankan kemenangan yang sempat membuat Mikel Arteta menahan napas. Kemenangan ini membawa Arsenal ke posisi ketiga klasemen dengan 10 poin, tertinggal dua angka dari Madrid dan PSG.

Matchday keempat menyajikan kontras yang tajam. Di satu sisi, ada tim debutan yang mencetak sembilan gol. Di sisi lain, raksasa Eropa harus berjuang hingga detik terakhir untuk mengalahkan lawan yang di atas kertas lebih lemah.

Liverpool menjadi korban kejutan lain. The Reds kalah 2-3 di markas Fenerbahce setelah dua kali unggul lebih dulu. Kekalahan ini memperlihatkan bahwa tidak ada tempat yang aman di format fase liga yang baru.

Bagi Como, kemenangan 9-1 bukan sekadar tiga poin. Itu adalah pernyataan bahwa tim yang dibangun dengan visi Fabregas tidak datang ke Liga Champions hanya untuk berpartisipasi. Pertanyaannya kini sederhana: apakah ini awal dari sesuatu yang lebih besar, atau hanya ledakan satu malam yang akan dikenang sebagai anomali dalam sejarah kompetisi. (Drt/Red)

Bagikan:

© 2026 Copyright: Indofakta Online