JAKARTA -- Kopi sudah menjadi bagian dari rutinitas pagi jutaan orang Indonesia. Namun, di balik kenikmatan dan efek segarnya, banyak yang masih bertanya-tanya: apakah kebiasaan ini aman bagi jantung?
Baca juga: IGEX 2026 di Ciwalk Bandung Berlangsung Sukses, APTIKNAS TECHSUMMIT Dorong Kolaborasi AI dan Ekonomi Kreatif IndonesiaKekhawatiran itu masuk akal. Kafein dalam kopi bersifat stimulan dan dapat memicu peningkatan denyut jantung serta tekanan darah untuk sementara waktu, seperti dilansir Radar Bojonegoro. Namun, sejumlah penelitian justru menunjukkan hasil yang sebaliknya.
Baca juga: Dulu Kumuh Banyak Sampah, Kini Kinclong! Pasar Cijerah Bandung Lulus SNI Pertama, Ada Food Market-nyaAmerican Heart Association (AHA) dalam pernyataan ilmiahnya yang diterbitkan pada Juli 2026 menyimpulkan bahwa konsumsi kafein hingga 400 miligram per hari umumnya aman bagi orang dewasa sehat. Jumlah itu setara dengan sekitar tiga hingga lima cangkir kopi berukuran 237 mililiter, meskipun kandungan kafein setiap jenis kopi bisa berbeda, seperti dilansir Harvard T.H. Chan School of Public Health.
Baca juga: Pemkot Bandung Gandeng Kemenkes Bangun Central Medical Unit di Ujungberung, Target Jadi 2028Yang menarik, batas aman itu bukan sekadar tidak berbahaya. AHA menyebut konsumsi kafein dalam jumlah moderat justru dikaitkan dengan risiko lebih rendah terhadap sejumlah gangguan kardiovaskular, termasuk penyakit jantung koroner, stroke, gagal jantung, hingga fibrilasi atrium.
Baca juga: Soegiharto Santoso: Menko AHY Layak Raih Special Honorary Leadership Award di ASOCIO Digital & AI Summit 2026Kesimpulan itu bukan tanpa dasar. Sejumlah kajian ilmiah yang dirujuk European Society of Cardiology pada 2025 juga menemukan korelasi serupa, seperti dilansir Radar Bojonegoro. Bahkan, tinjauan dari University of California, San Francisco, yang memimpin penulisan pernyataan AHA tersebut, menegaskan bahwa hubungan antara kopi dan kesehatan jantung tidak sesederhana "baik" atau "buruk".Ada beberapa faktor yang membuat efek kopi terhadap jantung tidak seragam pada setiap orang. Faktor pertama adalah genetik. Sebagian orang memiliki sensitivitas lebih tinggi terhadap kafein, sehingga efek peningkatan denyut jantung lebih terasa, terutama bagi mereka yang jarang mengonsumsi kopi.Faktor kedua adalah cara penyajian. AHA mencatat bahwa kopi yang diseduh dengan kertas filter atau kopi instan cenderung lebih baik bagi jantung dibandingkan kopi yang tidak difilter, seperti espresso atau kopi tubruk. Proses penyaringan membantu menangkap senyawa kafestol yang dapat meningkatkan kadar kolesterol jahat (LDL) dalam darah.Faktor ketiga adalah tambahan bahan lain. Gula, krimer, atau sirup berperasa dalam jumlah besar dapat menambah asupan kalori dan menutupi potensi manfaat kopi itu sendiri. Kopi hitam tanpa tambahan apa pun dinilai sebagai pilihan paling sehat.Meski begitu, ada kelompok yang perlu lebih berhati-hati. Orang dengan hipertensi yang belum terkontrol, gangguan irama jantung tertentu, atau mereka yang sering mengalami jantung berdebar disarankan memperhatikan respons tubuh setelah minum kopi. Bagi kelompok ini, konsultasi dengan tenaga medis tetap diperlukan sebelum mempertahankan kebiasaan minum kopi.Selain itu, waktu minum kopi juga berpengaruh. Mengonsumsi kopi terlalu dekat dengan waktu tidur dapat mengganggu kualitas istirahat, yang pada akhirnya berdampak buruk bagi kesehatan jantung secara keseluruhan.Yang perlu dicatat, sebagian besar penelitian tentang kopi dan jantung bersifat observasional. Artinya, temuan ini menunjukkan korelasi, bukan hubungan sebab-akibat. Para peneliti belum bisa memastikan apakah manfaat yang teramati berasal dari kafein itu sendiri atau dari senyawa lain dalam kopi, seperti polifenol dan antioksidan yang memiliki sifat antiradang.Hingga kini, belum ada bukti yang cukup untuk mengatakan bahwa kopi secara langsung mencegah penyakit jantung. Namun, bukti yang ada juga tidak menunjukkan bahwa kopi dalam jumlah wajar memperburuk kesehatan jantung pada orang dewasa sehat.Kesimpulannya, minum kopi setiap hari pada dasarnya masih dapat dilakukan oleh orang dewasa sehat selama jumlahnya terkendali. Kuncinya bukan menghindari kopi sepenuhnya, melainkan memperhatikan jumlah, cara penyajian, dan respons tubuh masing-masing.(Drt/Red)
Bagikan: