JAKARTA -- Sebuah sidang pengadilan mendadak berubah menjadi komedi. Seorang pemuda yang dituduh mencuri laptop milik seorang mahasiswi memberikan pembelaan yang membuat seluruh ruang sidang hening, lalu menahan tawa.
Baca juga: Kemunculan Maturin di Serial "It: Welcome to Derry", Kura-kura Kosmik yang Selama Ini Hanya MitosPerkara bermula ketika mahasiswi tersebut melaporkan pemuda itu ke polisi. Laptopnya hilang, dan pemuda itulah yang terakhir terlihat membawanya. Sidang pun digelar, seperti dilansir dari ketawa.com.
Baca juga: Tanggap Bencana, Pemkab Simalungun Tinjau Longsor di Kecamatan?Silou?Kahean: Keselamatan Masyarakat Jadi Prioritas"Saya sama sekali tidak mencurinya, Yang Mulia," kata pemuda itu membela diri. Ia lalu mulai bercerita dengan wajah serius, seolah sedang membacakan kronologi bencana nasional.
Baca juga: Serius Tangani Kerusakan Jalan, Sekda Simalungun Pimpin Rapat Koordinasi, Hasilkan Empat Langkah Penanganan DisepakatiMenurut pengakuannya, suatu hari sang mahasiswi pulang dari kampus. Ia meminta tolong pemuda itu membawakan laptopnya. Pemuda itu, yang mungkin sedang tidak punya kesibukan lain, mengiyakan.Dalam perjalanan, sang mahasiswi mengajaknya mampir ke kost. Di sana, ia membuka baju dan celananya. Lalu ia mengatakan sesuatu yang membuat pemuda itu harus berpikir keras.
Baca juga: Bupati Samosir Salurkan 1,25 Juta Bibit Kopi untuk 245 Kelompok Tani"Saya boleh mengambil miliknya yang paling berharga," ujar pemuda itu menirukan perkataan sang mahasiswi. Hakim mulai mengernyit. Jaksa penuntut umum menundukkan kepala, entah menahan tawa atau sedang mencari pasal yang tepat.Pemuda itu melanjutkan pembelaannya. Ia mengaku sempat bingung. Baju wanita tentu tidak berguna baginya. Celananya juga terlalu kecil. "Apa boleh buat, terpaksa saya mengambil laptopnya," katanya.Ruang sidang hening selama beberapa detik. Hakim tampak memijat pelipisnya. Ada yang berbisik bahwa ini pertama kalinya mereka mendengar alasan pencurian yang terdengar seperti hasil musyawarah keluarga.Hingga kini, belum diketahui bagaimana putusan hakim. Namun, satu hal yang pasti: pemuda itu telah memberikan pelajaran penting tentang arti "barang paling berharga". Bagi sebagian orang, itu bisa berarti laptop. Bagi yang lain, bisa jadi baju dan celana. Tergantung ukuran badan.(Drt/Red)
Bagikan: