MAKASSAR – Inovasi perguruan tinggi jangan hanya berhenti di ruang pameran. Inovasi harus dihilirisasi sampai ke sawah, sampai ke petani, dan harus membuat petani kaya.
Baca juga: Memperingati Hari Tani Nasional 2026:Menanam Penghargaan kepada Petani dari Kebun SekolahPesan tegas itu disampaikan Dr. Jan S. Maringka, S.H., M.H., Ketua Dewan Pembina Lembaga Sinergi Desa Indonesia, dalam National Studium Generale & Innovation Expo di Politeknik Negeri Ujung Pandang (PNUP), Rabu (28/10/2026).
Baca juga: Personel Kodam III/Siliwangi Berikan Pembekalan Bela Negara dan Wawasan Kebangsaan kepada Mahasiswa Baru UNDIRADi hadapan ratusan mahasiswa dan sivitas akademika, dalam momentum Hari Sumpah Pemuda ke-98, Jan Maringka menegaskan kampus adalah kunci kedaulatan pangan nasional.
Baca juga: Cetak Lulusan Siap Kerja, 32 SMK Jabar Gandeng 64 Perusahaan Lintas Sektor“Perguruan tinggi memiliki peran strategis. Jangan biarkan riset bagus hanya jadi laporan. Harus jadi solusi nyata untuk ketahanan pangan kita,” ujar Jan Maringka.
Baca juga: Jawa Barat Perkuat Sistem Perlindungan Murid, POKJA BSAN Cirebon-Sumedang Jadi Model Kolaborasi DaerahKegiatan bertema “Peran Perguruan Tinggi dalam Membangun Kedaulatan Pangan melalui Hilirisasi Inovasi dan Sinergi Desa Menuju Indonesia Emas 2045” itu juga menghadirkan Dr. Adhi Indra Hermanu, Direktur Hilirisasi dan Kemitraan Kemendikti Saintek, dan Assoc. Prof. Dr. Ir. Sugeng Santoso, Staf Ahli Bidang Ekonomi Maritim Kemenko Pangan.Soroti Alih Fungsi Lahan dan Luncurkan SDOMantan Inspektur Jenderal Kementerian Pertanian RI periode 2021–2023 itu membongkar persoalan utama pangan nasional: produksi, distribusi, perubahan iklim, hingga alih fungsi Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) menjadi pabrik dan perumahan.“Jika lahan pertanian habis jadi industri, mau makan apa kita nanti? Ini harus jadi perhatian bersama,” tegasnya.Untuk menjawab persoalan itu, Jan Maringka memperkenalkan gagasan Program Sinergi Desa Online (SDO). Program ini adalah platform yang mempertemukan supply dan demand sektor pertanian secara langsung.“Melalui SDO, petani tahu apa yang dibutuhkan pasar, kapan harus panen, dan berapa harga yang layak. Distribusi lebih efisien, harga tidak anjlok, ekonomi berputar di desa,” jelasnya.Ia menekankan pembangunan kedaulatan pangan harus dimulai dari penguatan lumbung pangan desa, dengan dukungan teknologi dan tata kelola yang terintegrasi antara pemerintah, kampus, dunia usaha, dan masyarakat desa.Usai kuliah umum, Jan Maringka meninjau langsung Innovation Expo karya mahasiswa PNUP, mulai dari mesin penetas telur otomatis hingga mesin pengolahan pangan yang siap dihilirisasi untuk industri pangan pedesaan.Ia pun mengapresiasi PNUP yang telah menjadi jembatan antara dunia pendidikan dan kebutuhan lapangan.“Ini tidak saja memberikan kesempatan bertemunya dunia pendidikan dan pengetahuan, tapi bagaimana implementasinya di lapangan dalam membangun ketahanan pangan,” katanya.Di akhir, Jan Maringka mengaitkan gerakan ini dengan visi besar pemerintah.“Dengan sinergi bersama masyarakat desa, maka perputaran ekonomi ini akan berada di wilayah pedesaan. Ini sejalan dengan Asta Cita kedua Presiden Prabowo Subianto untuk swasembada pangan. Desa Kuat, Indonesia Hebat!” pungkasnya.(Rls/Muzer)
Bagikan: