15 Oct, 2026

Deni Nursani dan Angelica Justicia Majid Ikuti Advokasi Pencegahan Penurunan Stunting

Indofakta.com, 2026-10-15 03:24:09 WIB

Bagikan:

Bandung -- Anggota Komisi IV DPRD Kota Bandung, Deni Nursani, S.Pd.I. dan Angelica Justicia Majid menghadiri kegiatan Advokasi Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting di Kabupaten/Kota dengan Prevalensi Tinggi, di Aula Dinas Kesehatan Kota Bandung pada hari Selasa tanggal, 13 Oktober.  2026.

Baca juga: Melalui West Java Challenge 2026, Rieke Suryaningsih Berharap Lahir Bibit Atlet Anggar Baru

Dalam sambutannya, Anggota Komisi IV DPRD Kota Bandung, Deni Nursani, S.Pd.I.  menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam upaya pencegahan dan percepatan penurunan stunting.

Baca juga: Harapan Legislatif Jabar Kabupaten/Kota Tingkatkan Kualitas Pembangunan

Menurut Deni, penanganan stunting tidak cukup hanya melalui intervensi pemenuhan gizi, tetapi juga harus diiringi dengan peningkatan kualitas pendidikan, kesehatan ibu dan anak, serta perbaikan sanitasi lingkungan.

Baca juga: HUT PIRA ke-18 Momentum Perempuan PIRA harus Peduli kompak bergerak berdampak

Deni menjelaskan bahwa persoalan stunting perlu ditangani sejak tahap awal kehidupan, bahkan sebelum seorang anak dilahirkan. Persiapan calon orang tua, khususnya remaja dan calon ibu, menjadi salah satu aspek penting yang harus mendapat perhatian.

Baca juga: Toni Wijaya dan Edwin Senjaya Dikukuhkan Sebagai Wakil Ketua Dewan Pertimbangan MUI Kota Bandung

Ia menyoroti kondisi remaja yang belum siap secara fisik maupun mental untuk memasuki kehidupan berkeluarga. Selain itu, kondisi calon ibu yang mengalami kekurangan darah atau anemia juga dapat meningkatkan risiko terhadap kesehatan ibu dan bayi.

“Pencegahan stunting harus dimulai dari hulu. Kita perlu memperhatikan kesiapan remaja, calon pengantin, hingga kondisi kesehatan ibu sebelum kehamilan,” ujarnya.

Deni juga menyoroti keterkaitan antara persoalan pendidikan dan risiko stunting. Remaja yang putus sekolah berpotensi menghadapi berbagai persoalan sosial dan ekonomi, mulai dari terbatasnya kesempatan kerja hingga rendahnya pendapatan keluarga.

Kondisi tersebut dapat berdampak pada pola asuh, pemenuhan kebutuhan gizi, dan kualitas tumbuh kembang anak. Oleh karena itu, ia mendorong agar sekolah dan lingkungan pendidikan turut berperan aktif memberikan edukasi kepada remaja mengenai kesehatan reproduksi, kesiapan fisik dan mental, serta pentingnya menghindari pernikahan pada usia yang belum siap.

Selain faktor pendidikan dan kesehatan, Deni menegaskan bahwa sanitasi lingkungan merupakan aspek yang tidak boleh diabaikan dalam penanganan stunting.

Ia menambahkan, pemberian makanan bergizi kepada anak tidak akan memberikan hasil optimal apabila lingkungan tempat tinggalnya tidak sehat. Salah satu persoalan yang perlu diperhatikan adalah kondisi sumber air bersih yang berdekatan dengan septic tank atau sumber pencemaran lainnya, sehingga berisiko terkontaminasi bakteri.

“Pemenuhan asupan makanan harus dibarengi dengan sanitasi yang baik. Rumah, ketersediaan jamban yang layak, dan sumber air bersih juga harus menjadi perhatian dalam upaya pencegahan stunting” katanya.

Ia menilai, perbaikan sanitasi dan akses terhadap air bersih harus menjadi bagian dari strategi penanganan stunting secara menyeluruh. Dengan demikian, upaya peningkatan gizi anak dapat berjalan seiring dengan penciptaan lingkungan yang sehat.

Lebih lanjut, Deni mengapresiasi berbagai upaya yang telah dilakukan dalam pencegahan dan percepatan penurunan stunting. Namun, ia mengingatkan bahwa keberhasilan program tersebut membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, tidak hanya satu organisasi perangkat daerah atau OPD.

Pemerintah daerah perlu memperkuat koordinasi lintas sektor dengan melibatkan tenaga kesehatan, lembaga pendidikan, akademisi, serta masyarakat. Peran keluarga dan lingkungan tempat tinggal juga menjadi bagian penting dalam memastikan upaya pencegahan stunting berjalan secara berkelanjutan.

Deni berharap pendekatan yang menyeluruh tersebut dapat memperkuat upaya pemerintah dalam memutus rantai kemiskinan dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia sejak usia dini.

Ia menegaskan bahwa pencegahan stunting merupakan tanggung jawab bersama yang harus dimulai dari keluarga, didukung oleh lingkungan yang sehat, serta diperkuat melalui kebijakan dan kerja sama lintas sektor.

"Dengankolaborasi yang terarah dan berkelanjutan, upaya percepatan penurunan stunting diharapkan dapat berjalan lebih efektif serta memberikan dampak nyata bagi kesehatan dan kualitas hidup generasi mendatang," katanya. (Y CHS/Rls-HmsDPRDBdg).

Bagikan:

© 2026 Copyright: Indofakta Online