CIMAHI -- Halaman SD Santo Yusup Cimahi dipenuhi tawa dan semangat para siswa pada Kamis, 23 Juli 2026. Perayaan Hari Anak Nasional tahun ini tidak diisi dengan upacara atau perlombaan seperti biasanya, melainkan menghadirkan pengalaman belajar yang mengajak anak-anak mengenal alam melalui permainan edukatif. Kegiatan bertajuk "Berkawan dengan Alam 2026" tersebut menjadi cara sekolah menanamkan kepedulian terhadap lingkungan dengan pendekatan yang menyenangkan dan mudah dipahami anak-anak.
Baca juga: Di Balik 90 Siswa Dicoret dari SPMB Bandung: Bukan Sekadar Kecurangan, Ada Sistem yang Membuka CelahSejak pagi, suasana sekolah tampak berbeda. Beragam alat permainan telah disiapkan di halaman, mulai dari kartu bergambar, ring anyaman, hingga alat pancing mainan. Seluruh media permainan dibuat sederhana dan ramah lingkungan sehingga anak-anak dapat belajar sambil berinteraksi langsung dengan teman-temannya.
Baca juga: Klarifikasi 60 Ribu Kursi PTN Kosong, Antara Angka, Persepsi, dan Masalah Akses Pendidikan TinggiPerayaan Hari Anak Nasional kali ini diselenggarakan bekerja sama dengan Eco Camp Bandung, komunitas yang telah lama bergerak dalam pendidikan lingkungan berbasis pengalaman. Kolaborasi tersebut menghadirkan berbagai aktivitas yang dirancang agar siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga merasakan langsung bagaimana menjaga bumi dapat dimulai dari tindakan sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
Baca juga: SPMB Butuh PenyempurnaanBagi SD Santo Yusup Cimahi, pendidikan lingkungan tidak cukup disampaikan melalui teori di ruang kelas. Anak-anak perlu mengalami sendiri proses belajar agar nilai-nilai kepedulian terhadap alam tumbuh menjadi kebiasaan yang melekat hingga dewasa.
Baca juga: Legislatif Jabar Dukung Sekolah MaungBegitu kegiatan dimulai, ratusan siswa dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil yang didampingi fasilitator dari Eco Camp Bandung. Pendekatan ini membuat setiap anak memperoleh kesempatan untuk aktif bertanya, berdiskusi, sekaligus mencoba seluruh permainan secara bergantian.Permainan pertama mengajak siswa mengenal berbagai jenis tanaman melalui kartu bergambar. Di atas setiap kartu terdapat ilustrasi buah-buahan, sayuran, tanaman obat, rempah-rempah, hingga berbagai hasil alam yang akrab dengan kehidupan sehari-hari.Setiap siswa diminta mengambil satu kartu kemudian menempatkannya pada kategori yang tepat. Meskipun terlihat sederhana, permainan tersebut justru memunculkan banyak diskusi menarik di antara para peserta.Beberapa anak tampak yakin ketika menempatkan kartu bergambar apel ke kelompok buah-buahan. Namun ketika muncul kartu bergambar tomat, suasana berubah menjadi lebih seru. Sebagian siswa beranggapan tomat adalah sayuran karena sering digunakan dalam masakan, sementara yang lain mengatakan tomat merupakan buah.Perbedaan pendapat tersebut tidak langsung dijawab oleh fasilitator. Sebaliknya, anak-anak diajak berpikir bersama dengan mengamati ciri-ciri tanaman serta mengingat pengalaman mereka dalam kehidupan sehari-hari.Pendekatan seperti ini membuat proses belajar berlangsung secara alami. Anak-anak tidak merasa sedang diuji atau dihakimi ketika memberikan jawaban yang kurang tepat. Mereka justru belajar saling mendengarkan, berdiskusi, dan menemukan jawaban bersama.Suasana semakin meriah ketika setiap kelompok berhasil menyelesaikan tantangan. Tepuk tangan dan sorak gembira terdengar dari berbagai sudut halaman sekolah. Wajah-wajah penuh rasa ingin tahu menunjukkan bahwa belajar ternyata bisa berlangsung dengan cara yang sangat menyenangkan.Melalui permainan sederhana tersebut, siswa mulai memahami bahwa alam menyediakan begitu banyak sumber kehidupan yang selama ini sering mereka jumpai tanpa benar-benar mengenalnya. Mereka belajar membedakan buah, sayuran, tanaman obat, dan berbagai hasil alam lainnya dengan cara yang lebih mudah diingat.Setelah permainan kartu selesai, kegiatan berlanjut dengan permainan lempar ring. Berbagai gambar benda yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari disusun di atas lapangan, mulai dari botol plastik sekali pakai, sedotan, kantong plastik, styrofoam, tumbler, kotak makan, hingga tas belanja yang dapat digunakan berulang kali.Tugas siswa adalah melempar ring ke arah benda yang paling ramah lingkungan. Setiap kali ring berhasil mendarat tepat di atas gambar tumbler atau kotak makan, sorak sorai langsung terdengar dari teman-temannya.Permainan tersebut mengajarkan bahwa menjaga bumi dapat dimulai dari pilihan-pilihan sederhana. Anak-anak memahami bahwa membawa botol minum sendiri atau menggunakan kotak makan yang dapat dipakai berulang kali merupakan salah satu cara mengurangi sampah plastik.Tanpa disadari, mereka mulai memahami konsep gaya hidup ramah lingkungan melalui pengalaman yang menyenangkan. Pesan tentang pentingnya mengurangi penggunaan plastik sekali pakai tersampaikan tanpa harus melalui ceramah panjang.Beberapa siswa bahkan terlihat saling mengingatkan untuk membawa tumbler dan kotak makan dari rumah ketika kembali bersekolah. Kebiasaan kecil seperti itulah yang diharapkan dapat terus tumbuh dalam kehidupan sehari-hari.Puncak kegiatan berlangsung saat permainan memancing sampah dimulai. Sebuah kain biru dibentangkan menyerupai kolam, sementara kartu-kartu bergambar berbagai jenis sampah disebarkan di atasnya.Anak-anak memegang alat pancing mainan yang dilengkapi magnet kecil di ujungnya. Dengan penuh semangat mereka berusaha menangkap sebanyak mungkin kartu bergambar sampah.Namun permainan tidak berhenti setelah sampah berhasil dipancing. Setiap anak diminta menjelaskan apakah sampah yang diperoleh termasuk organik atau anorganik, apakah masih dapat didaur ulang, dan bagaimana cara mengelolanya dengan benar.Pertanyaan-pertanyaan sederhana dari fasilitator membuat anak-anak mulai berpikir lebih jauh mengenai perjalanan sampah setelah dibuang. Mereka belajar bahwa tidak semua sampah harus berakhir di tempat pembuangan akhir karena sebagian masih memiliki nilai guna apabila dipilah dengan benar.Permainan tersebut juga mengenalkan konsep reduce, reuse, dan recycle dengan bahasa yang mudah dipahami anak-anak. Tanpa harus menghafalkan istilah, mereka langsung mempraktikkan cara berpikir yang lebih peduli terhadap lingkungan.Selama kegiatan berlangsung, para fasilitator Eco Camp Bandung lebih banyak mengajukan pertanyaan dibandingkan memberikan jawaban. Cara ini mendorong siswa untuk berpikir kritis, berdiskusi, dan menemukan sendiri alasan mengapa menjaga lingkungan menjadi tanggung jawab bersama.Pendekatan berbasis pengalaman seperti ini membuat setiap permainan memiliki makna yang lebih dalam. Anak-anak tidak hanya memperoleh pengetahuan baru, tetapi juga membangun rasa percaya diri untuk mengemukakan pendapat dan bekerja sama dengan teman-temannya.Di sela-sela kegiatan, Kepala SD Santo Yusup Cimahi menyampaikan bahwa pendidikan lingkungan akan lebih efektif apabila diberikan melalui pengalaman nyata. Menurutnya, kepedulian terhadap bumi tidak cukup menjadi slogan, melainkan harus diwujudkan melalui tindakan sederhana yang dilakukan setiap hari."Hari ini kami diajak membangun komitmen bersama. Peduli terhadap bumi bukan sekadar slogan, melainkan tindakan nyata yang dimulai dari kebiasaan kecil setiap hari," ujarnya.Pernyataan tersebut menjadi gambaran filosofi pendidikan yang diterapkan SD Santo Yusup Cimahi. Sekolah tidak hanya berupaya mencetak siswa yang memiliki kemampuan akademik, tetapi juga membangun karakter yang peduli terhadap sesama dan lingkungan.Keberhasilan kegiatan ini tidak diukur dari banyaknya permainan yang berhasil diselesaikan ataupun hadiah yang dibawa pulang. Nilai yang paling penting adalah tumbuhnya kesadaran bahwa setiap anak memiliki peran dalam menjaga kelestarian bumi.Melalui aktivitas sederhana seperti mengenali tanaman, memilih barang yang ramah lingkungan, memilah sampah, hingga berdiskusi bersama teman, siswa belajar bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.Perayaan Hari Anak Nasional di SD Santo Yusup Cimahi akhirnya menjadi lebih dari sekadar kegiatan tahunan. Momentum tersebut berubah menjadi ruang belajar yang menyenangkan, penuh interaksi, dan sarat makna.Di balik kartu bergambar, ring anyaman, dan alat pancing mainan, tersimpan pelajaran tentang tanggung jawab, kepedulian, kerja sama, serta pentingnya menjaga alam sebagai rumah bersama. Dari halaman sekolah itulah benih-benih cinta lingkungan mulai ditanam, tumbuh bersama tawa dan rasa ingin tahu anak-anak yang kelak akan menjadi generasi penerus penjaga bumi. (Wy/Red)
Bagikan: