JAKARTA -- Bayangkan sebuah dunia di mana lautan menjadi perangkap maut, dan makhluk-makhluk purba yang selama jutaan tahun berkuasa, tumbang dalam sekejap. Itulah yang terjadi pada peristiwa kepunahan massal terbesar dalam sejarah Bumi, yang disebut The Great Dying atau Kematian Besar, sekitar 252 juta tahun lalu.
Baca juga: Pemprov Jabar Sampaikan Pesan Untuk Siswa DI MPLSKini, para ilmuwan dari Universitas Stanford menemukan kemiripan yang meresahkan antara bencana kuno itu dengan dunia tempat kita tinggal saat ini. Jumat, 31 Juli 2026, menjadi pengingat bahwa sejarah Bumi mungkin berulang, dan kali ini, kita adalah aktor utamanya.
Baca juga: MPLS TK Santa Theresia Cimahi 2026 Jadi Awal Perjalanan Anak Hebat 'Grow to Shine in Veritas'Sebelum Kematian Besar, dasar lautan dihuni oleh makhluk-makhluk bercangkang seperti brakiopoda (kerang purba) dan lili laut (crinoid) yang hidup dengan metabolisme lambat. Mereka adalah penguasa ekosistem laut selama 280 juta tahun pertama kehidupan hewan di Bumi.
Baca juga: Di Balik 90 Siswa Dicoret dari SPMB Bandung: Bukan Sekadar Kecurangan, Ada Sistem yang Membuka CelahNamun semuanya berubah ketika letusan gunung berapi raksasa menyemburkan gas rumah kaca dalam jumlah luar biasa ke atmosfer. Bumi memanas, lautan kehilangan oksigen, dan kepunahan massal pun terjadi, mengakhiri periode Permian.
Baca juga: Klarifikasi 60 Ribu Kursi PTN Kosong, Antara Angka, Persepsi, dan Masalah Akses Pendidikan TinggiPenelitian baru yang dipimpin oleh ilmuwan Stanford, Jose Andres Marquez dan rekannya, kini mengungkap mengapa beberapa spesies bertahan sementara yang lain musnah. Jawabannya terletak pada metabolisme dan toleransi terhadap panas serta kekurangan oksigen."Temuan kami menunjukkan bahwa, di berbagai kelompok organisme, tingkat kepunahan jauh lebih tinggi bagi mereka yang lebih rentan terhadap peningkatan suhu air dan penurunan ketersediaan oksigen," ujar Marquez.Metabolisme lambat dari fauna Paleozoikum (zaman purba) membuat mereka sangat rentan terhadap perubahan drastis ini. Sebaliknya, fauna 'modern' seperti moluska, ikan, bintang laut, dan bulu babi yang memiliki metabolisme lebih efisien, berhasil bertahan.Para peneliti membuktikan ini dengan membandingkan toleransi 38 spesies berbeda terhadap kondisi panas dan kekurangan oksigen pada peristiwa kepunahan Permian-Trias. Mereka memasukkan 9 spesies fauna Paleozoikum dan 29 spesies fauna modern.Hasilnya menunjukkan bahwa fauna Paleozoikum jauh lebih sensitif terhadap suhu dan kadar oksigen dibandingkan fauna modern. "Metabolisme aerobik fauna Paleozoikum lebih cepat terbatas oleh oksigen seiring peningkatan suhu air," jelas para penulis dalam makalah mereka yang terbit di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences.Yang menarik, fauna Paleozoikum ternyata lebih mampu bertahan dalam kondisi kekurangan oksigen (hipoksia) saat mereka dalam keadaan istirahat. Namun keuntungan ini hilang ketika mereka dalam keadaan aktif.Para peneliti tidak mengesampingkan bahwa faktor stres lingkungan lainnya, seperti pengasaman laut, mungkin juga berkontribusi pada kondisi mematikan pada Kematian Besar. Namun temuan ini sudah cukup untuk memberikan gambaran yang jelas tentang masa depan yang mengancam."Berita buruknya adalah, kita sedang berada di jalur menuju tingkat pemanasan seperti pada periode Permian-Trias dalam skenario terburuk," kata ilmuwan Stanford, Erik Sperling.Sperling mengingatkan bahwa dunia saat ini memiliki kemiripan yang mencolok dengan dunia sebelum Kematian Besar. "Kepunahan massal terbesar sepanjang masa dimulai dari dunia yang sangat mirip dengan hari ini, dengan lautan yang relatif dingin dan relatif kaya oksigen, lalu terjadi injeksi karbon dioksida raksasa ke dalam sistem Bumi," jelasnya.Pada Kematian Besar, suhu meningkat 8 hingga 12 derajat Celsius selama ribuan tahun. Saat ini, hanya dalam beberapa ratus tahun emisi, suhu diproyeksikan naik 1,5 hingga 4 derajat Celsius di atas level pra-industri pada tahun 2100.Perbedaan besarnya adalah, kali ini kita yang melepaskan emisi tersebut ke atmosfer. Kita tidak bisa menghentikan gunung berapi meletus, tetapi kita bisa menghentikan pembakaran bahan bakar fosil."Berita baiknya adalah, kita masih di titik di mana kita bisa mengubah keadaan dan melakukan sesuatu tentang hal itu," ujar Sperling penuh harap.Sperling menekankan pentingnya memahami masa lalu untuk mempersiapkan masa depan. "Memahami bagaimana Bumi dan biota Bumi merespons saat itu dapat memberi tahu kita tentang apa yang akan terjadi," katanya.Penelitian ini menjadi peringatan keras bahwa perubahan iklim bukan sekadar masalah lingkungan, tetapi ancaman eksistensial yang dapat memicu kepunahan massal seperti yang pernah terjadi 252 juta tahun lalu.Namun di balik ancaman itu, masih ada secercah harapan. Kita masih punya waktu, masih bisa bertindak, dan masih bisa memilih untuk tidak mengulangi kesalahan sejarah yang sama.Bumi telah memberi kita pelajaran dari masa lalu. Kini terserah pada kita, apakah mau mendengarkan atau mengulangi tragedi yang sama.(Wy/Red)
Bagikan: