27 Jun, 2026

Manusia dan Kera Sudah Tertawa dengan Cara yang Sama Selama Jutaan Tahun

Indofakta.com, 2026-06-26 20:20:57 WIB

Bagikan:

JAKARTA -- Tawa mungkin terdengar sebagai ekspresi paling manusiawi. Namun penelitian terbaru menunjukkan bahwa kebiasaan itu jauh lebih tua daripada peradaban, bahkan lebih tua daripada kemunculan Homo sapiens. Jauh di dalam jejak evolusi, manusia ternyata masih menyimpan pola tawa yang sama dengan kerabat terdekatnya di dunia primata.

Baca juga: Arti Mimpi Kehabisan Air Menurut Psikologi, Islam, dan Primbon Jawa

Melansir dari media Science Alert, kesimpulan itu muncul dari penelitian yang membandingkan tawa manusia dengan empat spesies kera besar, yakni gorila, orangutan, simpanse, dan bonobo. Hasilnya menunjukkan bahwa pola dasar tawa hampir tidak berubah sejak manusia dan kera besar berpisah dari leluhur bersama sekitar 15 juta tahun lalu.

Baca juga: Wali Kota Wesly Diwakili Wakil Wali Kota Hadiri Khitanan Massal Gratis STM Babuttaqwa

Untuk sampai pada temuan tersebut, para peneliti menganalisis kembali rekaman suara 13 kera besar yang sebelumnya direkam saat digelitik. Rekaman itu kemudian dibandingkan dengan suara empat anak kecil yang sedang bermain dan tertawa di rumah.

Baca juga: Wali Kota Wesly Hadiri dan Apresiasi Konser Bertabur Bintang DPD PASU Kota Pematangsiantar

Hasilnya memperlihatkan kesamaan yang mencolok. Baik manusia maupun kera besar menghasilkan tawa dengan ritme yang relatif seragam, diselingi jeda-jeda teratur di antara letupan suara. Pola ritmis ini diduga menjadi salah satu jejak evolusi yang masih bertahan hingga kini.

Baca juga: Pemko Pematangsiantar Gelar Pertemuan dengan Pedagang Pasar Dwikora, Langkah Cepat Pasca Bencana

"Kami sangat mirip dengan kera besar lainnya karena sudah tertawa dengan cara yang sama selama 15 juta tahun," kata Chiara De Gregorio, primatolog dari University of Warwick, Inggris.

Temuan yang dipublikasikan dalam jurnal Communications Biology itu memperkuat pandangan bahwa tawa bukan sekadar ekspresi spontan, melainkan bagian dari sistem komunikasi sosial yang diwariskan sejak nenek moyang primata.

Pada manusia, tawa berkembang menjadi bentuk komunikasi yang jauh lebih kompleks. Irama, tempo, hingga intonasinya berubah mengikuti konteks sosial. Seseorang dapat mengeluarkan senyum kecil yang sopan di ruang rapat, cekikikan saat bercanda dengan teman, hingga terbahak-bahak ketika benar-benar terhibur.

"Kami bisa dibilang ahli dalam tertawa," ujar De Gregorio.

Banyak spesies hewan juga mengeluarkan suara yang menyerupai tawa ketika bermain atau digelitik. Namun pola vokalisasi mereka umumnya tidak mengikuti ritme yang sama seperti manusia dan kera besar. Tikus, misalnya, mengeluarkan suara ultrasonik yang nyaris tak terdengar telinga manusia ketika digelitik.

Selama ini, penelitian mengenai asal-usul tawa lebih banyak berfokus pada ekspresi wajah primata daripada karakteristik suara yang mereka hasilkan. Kajian terbaru ini membuka perspektif baru bahwa evolusi tawa juga dapat ditelusuri melalui pola vokalisasinya.

Brittany Florkiewicz, peneliti komunikasi hewan dari Lyon College yang tidak terlibat dalam studi tersebut, menilai hasil penelitian ini sejalan dengan teori evolusi komunikasi sosial. Menurut dia, masih diperlukan penelitian serupa terhadap spesies lain yang juga menunjukkan perilaku bermain, seperti anjing, kuda, atau kucing. Perbandingan itu dapat membantu menjelaskan karakteristik yang benar-benar unik pada manusia sekaligus memperlihatkan sifat-sifat yang masih diwarisi dari leluhur bersama.

Mengapa Manusia Tertawa?

Jika penelitian pertama menjelaskan asal-usul tawa, kajian lain mencoba menjawab pertanyaan yang lebih mendasar: mengapa manusia tertawa?

Selama puluhan tahun, para ilmuwan mengemukakan berbagai teori. Ada yang menganggap humor lahir dari pelanggaran terhadap norma, ada yang melihatnya sebagai bentuk ejekan terhadap kesombongan, sementara teori lain menyebut humor muncul ketika dua makna yang saling bertentangan bertemu dalam satu situasi.

Namun telaah terhadap lebih dari 100 publikasi ilmiah selama satu dekade terakhir menawarkan kemungkinan berbeda. Tawa diduga merupakan mekanisme evolusi yang membantu manusia bertahan hidup.

Menurut kajian tersebut, proses munculnya tawa berlangsung dalam tiga tahap. Pertama, otak mendeteksi situasi yang membingungkan atau tidak sesuai harapan. Kedua, otak menyadari bahwa situasi tersebut ternyata tidak berbahaya. Ketiga, tawa muncul sebagai sinyal bahwa ancaman telah berlalu.

Dengan kata lain, tawa merupakan pesan biologis yang menyatakan bahwa kondisi telah aman.

Hipotesis ini menjelaskan mengapa tawa sering muncul setelah seseorang lolos dari situasi menegangkan. Ketika ancaman ternyata tidak nyata atau berhasil dilewati, tubuh melepaskan ketegangan melalui gelak tawa. Respons yang sama juga menjelaskan mengapa tawa mudah menular. Sinyal bahwa situasi aman menyebar kepada orang-orang di sekitar sehingga memperkuat rasa kebersamaan.

Fungsi sosial inilah yang diduga membuat tawa bertahan selama jutaan tahun dalam perjalanan evolusi manusia.

Manfaatnya tidak berhenti pada hubungan sosial. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa tertawa dapat membantu menurunkan tekanan darah, memperkuat sistem kekebalan tubuh, serta mengurangi kecemasan dan depresi. Di lingkungan rumah sakit, humor mulai dimanfaatkan sebagai terapi pendamping untuk meningkatkan kenyamanan pasien. Di ruang kelas, humor terbukti membantu menciptakan suasana belajar yang lebih rileks dan efektif.

Dari sudut pandang evolusi, tawa mungkin bukan sekadar respons terhadap sesuatu yang lucu. Ia merupakan mekanisme biologis yang membantu manusia mengenali kapan harus waspada dan kapan ancaman telah berakhir. Karena itu, tidak mengherankan jika seseorang sering kali justru tertawa setelah selamat dari kecelakaan kecil atau peristiwa yang nyaris membahayakan dirinya.

Di balik bunyi yang tampak sederhana, tawa ternyata menyimpan jejak panjang perjalanan evolusi. Setiap gelak yang terdengar hari ini membawa warisan yang telah bertahan selama jutaan tahun, jauh sebelum manusia mengenal bahasa, budaya, bahkan peradaban. (Wy/Red)

Bagikan:

© 2026 Copyright: Indofakta Online