15 Jun, 2026

El Niño Resmi Dimulai, Dunia Bersiap Hadapi Cuaca Ekstrem dan Potensi Rekor Suhu Baru

Indofakta.com, 2026-06-14 18:27:29 WIB

Bagikan:

WASHINGTON D.C. -- Dunia kembali memasuki fase iklim yang paling diawasi para ilmuwan. Fenomena El Niño kini telah resmi dinyatakan dimulai oleh National Oceanic and Atmospheric Administration dan Japan Meteorological Agency, memunculkan kekhawatiran akan meningkatnya cuaca ekstrem, gelombang panas, kekeringan, hingga banjir besar di berbagai belahan dunia.

Baca juga: Iran Bidik Starlink dan Bisnis Elon Musk di Timur Tengah, Ketegangan dengan AS Meningkat

Bagi banyak orang, El Niño mungkin hanya terdengar sebagai istilah cuaca yang muncul sesekali di pemberitaan. Namun dalam praktiknya, fenomena ini memiliki dampak yang sangat nyata terhadap kehidupan sehari-hari. Dari harga pangan yang melonjak, hasil panen yang menurun, kebakaran hutan yang meluas, hingga meningkatnya risiko bencana hidrometeorologi.

Baca juga: Buku Catatan yang Hilang Akhirnya Pecahkan Misteri Fosil Ikan Berusia 55 Juta Tahun

Para ilmuwan kini memperingatkan bahwa El Niño yang baru terbentuk ini berpotensi berkembang menjadi kategori sangat kuat atau bahkan "super El Niño". Jika proyeksi tersebut terwujud, dunia bisa menghadapi salah satu peristiwa El Niño paling intens yang pernah tercatat dalam sejarah modern.

Baca juga: Hiu Goblin Terekam Hidup di Habitat Aslinya untuk Pertama Kali, Terlihat pada Kedalaman Lebih dari 1.200 Meter

Fenomena El Niño terjadi ketika angin pasat yang biasanya bertiup dari timur ke barat di kawasan Samudra Pasifik tropis melemah. Kondisi ini membuat massa air hangat yang selama ini terkonsentrasi di bagian barat Pasifik bergerak ke arah timur.

Baca juga: Korea Selatan Bangkit, Ceko Tumbang 2-1 dalam Laga Sarat Drama di Piala Dunia 2026

Pergerakan air hangat tersebut bukan sekadar perubahan arus laut biasa. Saat suhu permukaan laut meningkat, atmosfer ikut memanas. Efek berantainya kemudian terasa di berbagai wilayah dunia melalui perubahan pola hujan, suhu udara, hingga intensitas badai.

Menurut para peneliti, suhu permukaan laut di kawasan Pasifik tengah dan timur telah berada lebih dari 0,5 derajat Celsius di atas normal selama beberapa pekan terakhir. Model iklim juga menunjukkan kondisi tersebut kemungkinan besar akan bertahan setidaknya enam bulan ke depan.

Matthew Rosencrans dari National Weather Service menjelaskan bahwa saat ini terjadi pelemahan angin pasat dalam skala luas di kawasan Pasifik. Akibatnya, laut dan atmosfer mengalami proses yang diibaratkan seperti "air yang bergoyang ke arah timur", membawa panas dalam jumlah besar menuju wilayah yang biasanya lebih dingin.

Yang membuat para ilmuwan semakin waspada adalah peluang El Niño kali ini berkembang menjadi peristiwa yang sangat kuat. NOAA memperkirakan terdapat peluang sekitar 63 persen bahwa fenomena ini akan mencapai kategori "super El Niño", yakni ketika suhu permukaan laut di wilayah ekuator Pasifik meningkat lebih dari 2 derajat Celsius di atas rata-rata normal.

Bahkan beberapa model iklim memperkirakan anomali suhu dapat mencapai 2,6 hingga 3 derajat Celsius. Jika itu terjadi, rekor yang tercipta pada super El Niño 1982-1983 berpotensi terlampaui.

Peristiwa El Niño 1982-1983 sendiri tercatat sebagai salah satu yang paling merusak dalam sejarah. Banjir besar yang dipicu fenomena tersebut menyebabkan ribuan korban jiwa di Peru dan memicu gangguan ekonomi di berbagai negara.

Dampak El Niño kali ini juga diperkirakan akan semakin besar karena terjadi di tengah tren pemanasan global yang terus meningkat. Saat ini suhu rata-rata bumi telah naik sekitar 1,36 derajat Celsius dibanding era pra-industri.

Kombinasi antara pemanasan global dan El Niño berpotensi mendorong suhu bumi ke level yang belum pernah tercatat sebelumnya.

Sejumlah ilmuwan bahkan memperkirakan tahun 2027 berpeluang menjadi tahun terpanas dalam sejarah pengamatan modern.

Namun dampaknya tidak hanya soal suhu.

El Niño dikenal sebagai fenomena yang mengubah "peluang cuaca" di berbagai wilayah dunia. Dengan kata lain, fenomena ini membuat sejumlah kejadian cuaca ekstrem menjadi lebih mungkin terjadi.

Beberapa dampak yang diperkirakan muncul antara lain:

Curah hujan lebih tinggi dan potensi banjir di sebagian wilayah Amerika.

Kekeringan lebih parah di Asia Tenggara.

Risiko kebakaran hutan meningkat di sejumlah negara tropis.

Gangguan musim hujan di kawasan Asia Selatan.

Penurunan produksi pertanian akibat cuaca ekstrem.

Kenaikan harga komoditas pangan global.


Bagi kawasan Asia Tenggara, ancaman utama datang dari potensi cuaca yang lebih panas dan lebih kering dari biasanya.

Kondisi tersebut dapat memengaruhi produksi berbagai komoditas penting, termasuk beras. Jika hasil panen menurun di negara-negara produsen utama, dampaknya bisa merambat ke pasar global dalam bentuk kenaikan harga pangan.

Weston Anderson dari University of Maryland mengingatkan bahwa gangguan produksi beras dapat memicu efek berantai pada sistem pangan dunia. Negara-negara eksportir besar berpotensi membatasi ekspor untuk menjaga pasokan domestik, yang pada akhirnya membuat harga semakin mahal di pasar internasional.

Kekhawatiran serupa juga muncul terhadap komoditas lain seperti kopi, kakao, dan berbagai produk pertanian yang sensitif terhadap perubahan cuaca.

Sementara itu, Chloe Brimicombe dari University of Oxford menilai dunia perlu mempersiapkan diri jauh lebih serius menghadapi fenomena semacam ini.

Menurutnya, perubahan iklim global berpotensi memperkuat dampak El Niño pada masa depan. Karena itu, perencanaan jangka panjang menjadi semakin penting, baik untuk sektor pangan, energi, kesehatan, maupun mitigasi bencana.

Bagi masyarakat umum, pesan terpenting dari para ilmuwan sebenarnya cukup sederhana: El Niño bukan sekadar fenomena cuaca yang terjadi jauh di tengah Samudra Pasifik. Dampaknya bisa terasa langsung di meja makan, tagihan kebutuhan sehari-hari, hingga risiko bencana di lingkungan sekitar.

Dengan El Niño yang kini resmi dimulai dan peluang terbentuknya super El Niño yang terus meningkat, dunia memasuki periode yang akan sangat menentukan bagi ketahanan pangan, stabilitas ekonomi, dan kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem dalam beberapa bulan ke depan.

(Wy/Red)

Bagikan:

© 2026 Copyright: Indofakta Online