20 May, 2026

Pengelolaan Pelabuhan Laut dan Udara Regional Jawa Barat Perlu Dioptimalkan

Indofakta.com, 2025-05-19 06:45:00 WIB

Bagikan:

ADHIKARYA PARLEMEN

Baca juga: Rekomendasi LKPJ Gubernur Jabar Tahun 2025 Di Sektor Pendapatan Harus Jadi Perhatian

BANDUNG — Dalam upaya peningkatan strategi besar untuk meningkatkan konektivitas regional dan daya saing ekonomi, Pemerintah Provinsi Jawa Barat terus mendorong optimalisasi pengelolaan pelabuhan laut dan udara di wilayahnya. 
Seiring dengan pertumbuhan industri, perdagangan, dan pariwisata, pelabuhan laut dan udara .

Baca juga: Legislatif Dukung Kebijakan Gubernur Pengendalian Alih Fungsi Lahan di Wilayah Provinsi Jawa Barat

Hal itu, diungkapkan Anggota Komisi 4 DPRD Jawa Barat, Ir. Prasetyawati Prasetyawati, MM dalam keterangannya kepada media baru-baru ini.

Baca juga: Kang Edwin Senjaya Tebar Bantuan Sarana Olahraga hingga Sekolah Anak Kurang Mampu di Margasari

nfrastruktur , ungkap Prasetyawati merupakan hal  yang harus  diprioritaskan untuk ditata ulang dan ditingkatkan.

Baca juga: DPRD Jabar Dukung Penyelesaian DOB Baru

Jawa Barat memiliki sejumlah pelabuhan laut strategis seperti Pelabuhan Cirebon, Pelabuhan Patimban di Subang, serta pelabuhan-pelabuhan pendukung di pantai selatan. Khususnya Pelabuhan Patimban, yang sejak 2020 telah dikembangkan menjadi pelabuhan internasional, kini menjadi fokus utama dalam pengembangan logistik dan ekspor otomotif nasional.

"Oleh karena itu, Pelabuhan Patimban menjadi bagian dari rencana jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan pada Pelabuhan Tanjung Priok, serta mempercepat arus barang dari dan ke kawasan industri di Karawang, Bekasi, dan Subang," jelas Prasetyawati.


Menurut Prasetyawati, untuk mendukung hal itu akses jalan dan konektivitas dengan jalur kereta api harus dipercepat

Pemerintah pusat dan provinsi harus bersinergi dalam pembangunan jalan tol akses Patimban yang ditargetkan rampung pada akhir 2025.

Selain itu,  Pelabuhan Cirebon juga harus direvitalisasi untuk memperkuat distribusi barang di wilayah timur Jawa Barat.

“Khususnya untuk komoditas pertanian, bahan bakar, dan logistik pendukung industri kecil dan menengah,” ujarnya.
Sedangkan di sektor udara, Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati di Majalengka kini menjadi titik tumpu pengembangan penerbangan domestik dan internasional. Setelah sempat mengalami stagnasi dan kurangnya akses langsung, BIJB kini sedikit menunjukkan perkembangan signifikan" kata Prasetyawati.

Sejak rampungnya Tol Cisumdawu, sambung Prasetyawati jumlah penumpang cukup meningkat pesat. Selama periode mudik Lebaran 2025, jumlah penumpang mencapai lebih dari 12.000 orang, yang merupakan peningkatan signifikan dibandingkan rata-rata harian sekitar 500 penumpang.

Maskapai-maskapai nasional dan internasional mulai membuka rute baru dari dan ke BIJB, menjadikannya sebagai alternatif penting selain Bandara Soekarno-Hatta.
Selain BIJB, pengelolaan Bandara Husein Sastranegara di Bandung juga terus diperkuat, meskipun peran utamanya kini difokuskan pada penerbangan militer, VIP, dan penerbangan perintis. 
“Selain itu, juga harus didorong pengembangan bandara-bandara kecil seperti Bandara Nusawiru di Pangandaran dan Bandara Cakrabhuwana di Cirebon untuk menunjang konektivitas wisata dan ekonomi local,” sarannya.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat juga harus membuka peluang investasi swasta untuk mendukung pembangunan dan operasional pelabuhan laut dan udara. Ruang kemitraan strategis, terutama dalam pengelolaan logistik pintar dan digitalisasi pelabuhan, yang ke depan akan menjadi kunci efisiensi.

" dengan integrasi yang kuat antara pengelolaan pelabuhan laut dan udara" jelas Prasetyawat.

Prasetyawati, menambahkan diharapkan, Jawa Barat mampu menjadi pusat distribusi dan logistik modern yang tidak hanya melayani kebutuhan nasional, tetapi juga terhubung secara global.

Hal ini juga sejalan dengan rencana pembangunan wilayah Rebana Metropolitan sebagai kawasan ekonomi baru yang mengandalkan konektivitas tinggi.

"Pelabuhan dan bandara bukan sekadar tempat keluar-masuk barang dan orang. Tapi merupakan nadi pertumbuhan ekonomi. Jika dikelola dengan baik, ini akan mempercepat pemerataan pembangunan," tutup Prasetyawati.(Adv)

Bagikan:

© 2026 Copyright: Indofakta Online