Fakta Mengejutkan dari Kecoa, Ilmuwan Temukan “DNA Pinjaman” yang Tersembunyi Selama Jutaan Tahun
HAMILTON -- Kecoa dikenal sebagai salah satu serangga paling tangguh di dunia, mampu bertahan di berbagai kondisi ekstrem yang sulit ditaklukkan makhluk hidup lain.
Namun di balik reputasi “tak bisa dihancurkan” itu, ilmuwan baru saja menemukan fakta genetik yang jauh lebih mengejutkan dari perkiraan sebelumnya.
Penelitian yang dipimpin University of Sydney dan dipublikasikan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) mengungkap bahwa kecoa ternyata menyimpan ribuan potongan DNA yang “dipinjam” dari organisme lain.
Penemuan ini menjadi sorotan pada 2026 karena mengubah cara ilmuwan memahami evolusi dan ketahanan serangga tersebut.
Menurut peneliti, DNA asing itu berasal dari bakteri bernama Blattabacterium cuenoti, yaitu bakteri yang hidup di dalam tubuh kecoa dan membantu proses daur ulang nitrogen.
Selama ini, bakteri tersebut hanya dianggap sebagai “mitra hidup” biasa, bukan sumber transfer genetik dalam skala besar.
Namun analisis terbaru menunjukkan bahwa terjadi proses yang disebut horizontal gene transfer, yaitu perpindahan DNA antar spesies yang berbeda di luar proses keturunan normal.
Dalam studi tersebut, para peneliti menganalisis genom dari 18 spesies kecoa dan rayap untuk melihat pola perubahan genetiknya.
Hasilnya mengejutkan, karena ditemukan sekitar 40.485 potongan DNA dari B. cuenoti yang tersebar di genom kecoa dan rayap.
Jumlah ini jauh lebih besar dibanding temuan sebelumnya pada hewan eukariotik lain yang biasanya hanya memiliki kurang dari 300 transfer gen.
Beberapa potongan DNA tersebut bahkan diduga sudah ada sejak puluhan juta tahun lalu, menunjukkan bahwa materi genetik ini bertahan sangat lama dalam evolusi kecoa.
Para peneliti menjelaskan bahwa DNA tersebut bisa masuk ke dalam tubuh kecoa ketika sel inang dan bakteri berada dalam kontak yang sangat dekat dalam waktu lama.
Setelah itu, sebagian potongan DNA tersebut “menempel” dan diwariskan ke generasi berikutnya, meski belum sepenuhnya dipahami fungsinya.
Peneliti juga menegaskan bahwa belum jelas apakah DNA ini memberikan keuntungan langsung bagi kecoa atau justru tidak berpengaruh sama sekali.
Bisa jadi, sebagian potongan DNA itu netral, sedikit merugikan, atau bahkan perlahan memberi manfaat dalam proses adaptasi jangka panjang.
Meski begitu, temuan ini membuka perspektif baru bahwa hubungan antara hewan dan bakteri jauh lebih kompleks dari yang selama ini diketahui.
Para ilmuwan kini berencana memperluas penelitian untuk melihat apakah fenomena serupa juga terjadi pada spesies lain yang hidup berdampingan dengan bakteri dalam jangka panjang.
Penelitian ini juga menegaskan bahwa evolusi tidak selalu berjalan lurus, tetapi bisa dipengaruhi oleh “pertukaran gen” yang terjadi diam-diam selama jutaan tahun.
Dengan kata lain, kecoa bukan hanya kuat karena dirinya sendiri, tetapi mungkin juga karena membawa “jejak genetik asing” yang selama ini tersembunyi di dalam DNA mereka.
(Wy/Red)