18 Jul, 2026

Kisah Bokkot Raja Sitanggang Upar: Dari Anak Miskin Menjadi Raja Sakti Pendiri Keturunan Besar

Indofakta.com, 2026-07-18 04:44:00 WIB

Bagikan:

Samosir -- Di dalam sejarah lisan keturunan Sitanggang Upar, nama Bokkot Raja Sitanggang dikenal sebagai sosok yang penuh perjuangan, memiliki kesaktian, serta menjadi leluhur yang melahirkan keturunan besar yang kini tersebar di berbagai daerah.

Baca juga: SMAN 1 Namlea Buru Dukung Program GAMAS BKKBN, Kehadiran Ayah di Hari Pertama Sekolah Bangun Anak Lebih Percaya Diri

Bokkot Raja Sitanggang merupakan putra dari Op. Lantang Nabolon dengan Boru Situngkir. Ia lahir di Sitanggang Upar dan merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara. Sejak kecil kehidupannya sangat memprihatinkan. Kemiskinan telah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya, namun di balik penderitaan itu tersimpan anugerah luar biasa yang kelak mengubah jalan hidupnya.

Baca juga: Wali Kota Wesly Diwakili Staf Ahli Hamdani dan Ketua Dekranasda Ny Liswati Buka UMKM Siantar Expo 2026

Konon pada masa mudanya, Bokkot Raja kerap berjalan kaki dari Upar Nabolak menuju Pantai Tajur, Danau Toba. Jarak yang jauh tidak menyurutkan semangatnya untuk mandi sekaligus mencari ikan.

Baca juga: Wali Kota Wesly Diwakili Asisten Fidelis Sembiring Rapat Bahas Perwa Posyandu, Kolaborasi Dinsos P3A-TP PKK

Di pantai itulah ia sering bertemu dengan seorang raja bermarga Naibaho Siagian yang gemar memancing. Setiap kali bertemu, Bokkot Raja selalu berkata dengan sopan,
"Tulang, molo dapotmu dekke, lean diau da."
(Paman, kalau nanti mendapat ikan, berikanlah sebagian kepadaku.)
Namun setiap kali pula Naibaho Siagian menjawab,
"Dang olo au."
(Saya tidak mau.)

Baca juga: Kabupaten Samosir Dapat Alokasi TKD Rp38 Miliar, Bupati Tegaskan Komitmen Pengelolaan Tepat Sasaran

Anehnya, setiap kali menolak permintaan Bokkot Raja, Naibaho Siagian tidak pernah memperoleh seekor ikan pun. Ia selalu pulang dengan tangan hampa. Kejadian itu terus berulang hingga akhirnya ia mulai berpikir bahwa ada sesuatu yang istimewa pada diri anak tersebut.

Suatu hari, ketika Bokkot Raja kembali meminta bagian ikan, Naibaho Siagian mengabulkannya. Ajaib, sejak saat itu pancingnya selalu dipenuhi ikan. Ia pun membagikan sebagian hasil tangkapannya kepada Bokkot Raja. Sejak itulah hubungan keduanya semakin akrab.

Karena merasa iba melihat kehidupan Bokkot Raja, Naibaho Siagian akhirnya mengajak pemuda itu tinggal di rumahnya. Ia diasuh layaknya keluarga sendiri dan diberi tugas menggembalakan kerbau serta membantu pekerjaan rumah tangga. Seiring bertambahnya usia, kesaktian yang dianugerahkan Sang Maha Kuasa kepada Bokkot Raja mulai tampak.

Di rumah itulah benih-benih cinta tumbuh. Bokkot Raja jatuh hati kepada putri Naibaho Siagian yang bernama Pondanglan Boru Naibaho. Setelah saling mencintai, ia memberanikan diri menyampaikan niatnya untuk meminang sang putri.

Mendengar permintaan itu, Naibaho Siagian menolaknya secara halus. Baginya, sangat sulit menerima seorang penggembala kerbau menjadi menantunya.

Untuk menghindari penolakan secara langsung, ia membuat sebuah syarat yang tampaknya mustahil dipenuhi. Ia melepas cincin dari jarinya lalu melemparkannya ke tengah Danau Toba yang dalam sambil berkata kepada istrinya,
"Jika cincin ini kembali ke tanganku, barulah aku bersedia menerima Bokkot Raja menjadi menantuku."
Baginya, syarat itu sama saja dengan penolakan.
Namun kehendak Tuhan berkata lain.

Beberapa waktu kemudian, seorang nelayan berhasil menangkap seekor ikan mas berukuran sangat besar. Karena tak seorang pun sanggup membelinya di pasar, ikan tersebut dibawa ke rumah Naibaho Siagian yang dikenal sebagai keluarga berada.

Istri Naibaho membeli ikan itu. Saat membersihkan isi perutnya, ia terkejut menemukan cincin milik suaminya yang dahulu dibuang ke tengah danau.
Ia pun berpikir keras bagaimana cara menyampaikan kabar itu kepada suaminya.

Akhirnya ia meminta agar diadakan pesta manortor.
"Amang Raja, sihol rohakku naeng padenggal tangan."
(Aku rindu ingin manortor.)
Karena sangat menyayangi istrinya, Naibaho Siagian menyetujuinya.
"Nauli boru ni Raja."

Ketika gondang mulai dimainkan, sang istri menari sambil mengenakan cincin yang ditemukan di dalam perut ikan. Saat melihat cincin itu, Naibaho Siagian terkejut. Ia sadar bahwa syarat yang dibuatnya telah dipenuhi oleh kuasa Tuhan.

Dengan penuh keikhlasan ia berkata,
"Saut ma hape si Bokkot Raja gabe helakku."
(Baiklah, Bokkot Raja akan menjadi menantuku.)

Meski demikian, Naibaho Siagian masih memberikan tantangan terakhir.
Ia meminta agar Bokkot Raja membawa emas kawin dalam jumlah sangat banyak serta menyerahkan kerbau dalam jumlah yang tak terhitung. Ia yakin syarat itu mustahil dipenuhi oleh seorang pemuda miskin.

Tanpa ragu sedikit pun, Bokkot Raja menerima syarat tersebut.

Ia kemudian pergi menemui tulangnya di Situngkir sambil memohon pertolongan kepada Mula Jadi Nabolon. Doanya dikabulkan. Ia memperoleh sebuah pusaka sakti bernama Tanduk Toal, terbuat dari tanduk kerbau.

Konon, setiap tanduk kerbau yang disentuh dengan pusaka itu akan berubah bentuk menjadi bengkok. Dengan cara itulah Bokkot Raja berhasil mengumpulkan begitu banyak kerbau hingga tidak ada seorang pun yang berani mengklaimnya.

Saat hari pernikahan tiba, Bokkot Raja datang membawa emas kawin sebanyak satu hudon (periuk tanah) yang dipenuhi emas, serta kerbau dalam jumlah luar biasa banyak.
Barisan kerbau itu disebut membentang dari Situngkir hingga kampung Naibaho Siagian di Pangururan. Kepala rombongan telah tiba di Pangururan, sementara ekornya masih berada di Situngkir.

Melihat semua syarat telah dipenuhi, Naibaho Siagian akhirnya tidak dapat lagi menolak.
Pernikahan Bokkot Raja Sitanggang dengan Pondanglan Boru Naibaho pun berlangsung.

Dari pernikahan tersebut lahirlah dua putra, yaitu Mataniari dan Jatudung. Mataniari menikah dengan Boru Naibaho Siahaan, sedangkan Jatudung menikah dengan Boru Malau Pase.

Bokkot Raja Sitanggang juga dikenal sebagai seorang Parbaringin, penganut kepercayaan Batak sebelum masuknya agama-agama besar. Karena keyakinan dan kesaktian yang dimilikinya, ia memiliki pantangan tidak memakan daging babi maupun daging anjing. Pesan itu diwariskan secara turun-temurun kepada keturunannya.

Selain itu, ia dikenal sebagai raja yang selalu menunggang kuda. Ia memiliki dua bilah pedang pusaka. Satu pedang selalu terselip di pinggangnya, sedangkan satu lagi khusus digunakan ketika berperang. Menurut cerita turun-temurun, pedang perang tersebut sangat haus darah; setiap kali keluar dari sarungnya, pedang itu harus terkena darah sebelum kembali disarungkan.

Selain Pedang, ia juga memiliki dua patung ukiran yang terbuat dari kayu yang disebut Mata Idup, benda ini sakral dan memiliki kemampuan magic yang tak bisa dipandang sebelah mata.

Kemudian ada lagi Gendang besar atau yang disebut Gordang. Gendang ini jarang digunakan, hanya pada saat Bokkot Raja menggelar acara ritual dibulan purnama, ketika bulan purnama itu ditutupi awan, maka ia akan memanggil seorang boru malau untuk memalunya sambil menyebutkan "Paulak bulan i akka lau" seketika awan itupun akan menyingkir dari bulan itu hingga terang kembali dan ritualpun dilanjutkan.

Kini, keturunan Bokkot Raja Sitanggang Upar telah berkembang hingga sekitar 14–15 generasi dan tersebar di berbagai wilayah.
Di Kabupaten Samosir, keturunannya membuka perkampungan di Upar Nabolak, Siantarantar, Lumban Pinggol, Lumban Nahusus, Sait Ni Huta, Lumban Pasir, Lumban Sangkalan (Pangururan), Lumban Sitanggang di Desa Janji Harian, serta Tarabunga, Kecamatan Palipi.

Di luar Pulau Samosir, keturunannya juga membuka perkampungan di Kabupaten Toba, Pakkat, Barus, serta berbagai daerah lainnya di Indonesia.

Demikianlah kisah singkat Bokkot Raja Sitanggang Upar sebagaimana diwariskan dalam tradisi lisan keturunannya. Terlepas dari unsur legenda yang menyertainya, kisah ini menjadi warisan budaya yang terus dikenang sebagai simbol perjuangan, keteguhan, dan asal-usul keturunan Bokkot Raja Sitanggang yang kini telah berkembang luas hingga ke berbagai penjuru negeri.(jst)

Bagikan:

© 2026 Copyright: Indofakta Online