JAKARTA -- Deretan kabar duka dari program pelatihan dasar militer (Latsarmil) bagi calon manajer koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dan Kampung Nelayan Merah Putih mencuat dalam rentang waktu singkat di awal pelaksanaan program tersebut. Lima peserta dilaporkan meninggal dunia dalam fase awal pelatihan yang digelar sebagai bagian dari Program SPPI dengan skala ribuan peserta.
Baca juga: Pesparani Medan 2026: Sinergi Bimas Katolik dan Pemko Dorong Pembinaan Iman UmatPeristiwa itu terjadi dalam rentang sekitar 10 hari pertama pelatihan yang dimulai sejak pertengahan Juni 2026. Seluruh peserta yang meninggal disebut telah lebih dulu lolos pemeriksaan kesehatan awal sebelum mengikuti kegiatan tersebut.
Baca juga: Sampah Jalur Wisata Ganggu Lalulintas, Kanit Turjawali Polresta Bandung Langsung Ambil TindakanNama-nama korban yang dilaporkan antara lain Yonanda Muhammad Taufiq yang meninggal pada 17 Juni dengan dugaan henti jantung. Kemudian Anisa Muyassaroh pada 18 Juni dengan kondisi heat stroke, serta Novia Rahmadhani Sihotang pada 23 Juni akibat komplikasi tuberkulosis aktif.
Baca juga: SPMB, Rp8 Juta per Kursi, dan Bau Lama yang Tak Pernah Benar-benar HilangPada perkembangan berikutnya, Muhammad Rifki Renaldi Gunawan dilaporkan meninggal dengan riwayat hipertensi dan obesitas yang menjadi catatan medisnya. Sementara itu, Nola Dya Sari meninggal pada 26 Juni dengan kondisi sesak napas dan demam dalam masa pelatihan yang masih berlangsung.Data yang dihimpun dari berbagai laporan media menyebutkan program ini diikuti oleh sekitar 35.000 peserta pada gelombang pertama. Dalam prosesnya, terdapat pula catatan kesehatan tambahan seperti paparan tuberkulosis di salah satu lokasi serta pemulangan sejumlah peserta dengan kondisi khusus.
Baca juga: Paten Permen Probiotik Indonesia Picu Sorotan Ilmiah di DJKIKementerian terkait menyampaikan duka cita atas peristiwa tersebut dan menegaskan bahwa penanganan medis telah dilakukan sesuai prosedur. Di sisi lain, evaluasi terhadap pengawasan kesehatan peserta disebut terus berjalan tanpa menghentikan program secara keseluruhan.Sejumlah laporan juga mencatat bahwa seluruh korban sebelumnya telah dinyatakan lolos skrining kesehatan awal. Namun, catatan riwayat kesehatan seperti obesitas, hipertensi, hingga penyakit infeksi menjadi bagian dari temuan dalam evaluasi yang sedang berlangsung.Kematian beruntun ini kemudian memunculkan sorotan dari berbagai pihak, termasuk kelompok masyarakat sipil yang mempertanyakan relevansi pendekatan pelatihan militer bagi peserta sipil. Desakan untuk penghentian sementara program serta investigasi independen turut mengemuka dalam pemberitaan lanjutan.Di sisi lain, pemerintah melalui pernyataan resmi menekankan bahwa program SPPI merupakan bagian dari pembentukan kapasitas manajerial dan karakter peserta. Penegasan ini disampaikan bersamaan dengan komitmen untuk memperkuat aspek keselamatan dan pengawasan medis.Hingga kini, rangkaian peristiwa tersebut masih berada dalam tahap penanganan dan evaluasi, dengan sejumlah media terus memperbarui perkembangan kasus dari berbagai lokasi pelatihan. Perdebatan mengenai desain program, standar kesehatan, dan risiko pelaksanaan diperkirakan masih akan berlanjut seiring evaluasi berjalan.(Wy/Red)
Bagikan: