21 Jun, 2026

Gen ABCC11 di Balik Minimnya Bau Badan pada Sebagian Besar Orang Korea dan Asia Timur

Indofakta.com, 2026-06-21 09:35:06 WIB

Bagikan:

KOREA -- Di tengah terik musim panas yang membuat banyak orang bergantung pada deodoran, ada satu fenomena yang lama menjadi perbincangan dunia: mengapa sebagian besar orang Korea dan Asia Timur jarang mengalami bau badan yang menyengat seperti populasi lain.

Baca juga: Kopi dan Teh Bisa Turunkan Risiko Demensia Hingga 20 Persen, Studi JAMA Ungkap Temuan Baru

Fenomena ini kembali mencuri perhatian publik pada Minggu, 21 Juni 2026, ketika sejumlah temuan ilmiah lama kembali viral dan dikaitkan dengan penelitian genetika modern yang semakin berkembang.

Baca juga: Ilmuwan Temukan Dua Subtipe Autisme yang Berbeda di Otak, Buka Jalan Menuju Terapi yang Lebih Tepat

Jawabannya ternyata tidak sesederhana kebersihan atau kebiasaan hidup, melainkan berkaitan erat dengan faktor biologis yang melekat sejak lahir.

Baca juga: Danantara: Penguatan IHSG Jadi Bukti Kepercayaan Investor terhadap Fundamental Ekonomi Indonesia

Dikutip dari The Korean Times, sejumlah penelitian genetika menunjukkan bahwa sekitar 80 hingga 95 persen penduduk Asia Timur memiliki mutasi pada gen ABCC11, sebuah gen yang berperan penting dalam produksi senyawa penyebab bau badan.

Baca juga: Sikat Gigi Bisa Menyelamatkan Nyawa? Studi Besar Ungkap Cara Sederhana Mencegah Pneumonia Mematikan di Rumah Sakit

Dalam laporan yang juga mengacu pada riset University of Bristol, disebutkan bahwa hanya sekitar 0,006 persen populasi Korea yang masih memiliki bentuk gen “normal” yang aktif menghasilkan bau ketiak seperti umumnya ditemukan di wilayah lain dunia.

Temuan ini membuat para peneliti menyebut gen ABCC11 sebagai salah satu faktor biologis paling dominan dalam menentukan apakah seseorang memiliki bau badan khas atau tidak.

Ian Day, epidemiolog genetika dari University of Bristol, sebagaimana dikutip dari laporan ilmiah internasional, menegaskan bahwa gen ini memiliki pengaruh besar terhadap aroma tubuh manusia.

“Gen ABCC11 pada dasarnya merupakan satu satunya penentu apakah seseorang menghasilkan bau ketiak atau tidak,” ujarnya dalam laporan penelitian tersebut.

Sementara itu, di Amerika Serikat, dokter kulit Madalyn Nguyen yang dikutip NBC News menjelaskan bahwa bau badan umumnya berasal dari kelenjar keringat apokrin di area ketiak dan selangkangan.

Pada individu tanpa mutasi ABCC11, protein tertentu membantu mengangkut lipid ke dalam keringat, yang kemudian diurai oleh bakteri di kulit hingga menghasilkan aroma khas yang dikenal sebagai bau badan.

Namun pada mereka yang memiliki mutasi gen ABCC11, proses tersebut tidak berjalan normal sehingga produksi senyawa pemicu bau menjadi jauh lebih rendah.

Nguyen menjelaskan bahwa kondisi ini juga berdampak pada karakteristik lain yang sering tidak disadari masyarakat.

Beberapa di antaranya adalah:

Keringat yang lebih ringan secara aroma

Kotoran telinga yang cenderung kering dan tidak lengket

Produksi lipid yang lebih rendah pada keringat apokrin


Ia menambahkan bahwa semakin sedikit lipid yang keluar, semakin kecil pula kemungkinan munculnya bau badan yang kuat.

Meski begitu, para ilmuwan hingga kini belum menemukan jawaban pasti mengapa mutasi gen ini begitu umum di Asia Timur, khususnya di Korea.

Sejumlah ahli menduga faktor geografis dan adaptasi lingkungan jangka panjang dapat berperan, sebagaimana pola evolusi manusia yang juga memengaruhi warna kulit di berbagai wilayah dunia.

Dalam perspektif biologi evolusi, manusia di wilayah dingin cenderung memiliki adaptasi berbeda dibanding mereka yang tinggal di daerah tropis, termasuk dalam aspek metabolisme tubuh dan respons kulit terhadap lingkungan.

Fenomena gen ABCC11 ini kini menjadi salah satu contoh paling menarik dalam studi genetika manusia modern, karena menunjukkan bagaimana faktor biologis dapat membentuk kebiasaan sosial tanpa disadari.

Di balik persepsi tentang “orang Korea tidak bau badan”, sains justru membuka fakta yang jauh lebih kompleks, bahwa sebagian jawaban sudah tertulis dalam kode genetik manusia sejak lahir.

Dan hingga hari ini, penelitian mengenai gen ABCC11 masih terus berkembang, membuka ruang baru bagi pemahaman tentang hubungan antara genetika, lingkungan, dan budaya manusia.

(Wy/Red)

Bagikan:

© 2026 Copyright: Indofakta Online