Bandung,-- Wacana bergabungnya Ketua Umum Projo, Budi Arie Setiadi, beserta para relawannya ke Partai Gerindra, mendapatkan tanggapan dari kader Partai Gerindra di daerah. Salah satunya dari kader Partai Gerindra Jabar.
Baca juga: Anggota Fraksi Gerindra DPRD Jabar Taufik Hidayat Ajak Masyarakat Ulurkan Tangan Bantu Korban Bencana Alam SumatraHal ini, diungkapkan Wakil Ketua Bidang OKK DPD Partai Gerindra Jabar, Dr. Buky Wibawa, dalam release yang diterima media, Jumat malam (7/12).
Baca juga: Lahan Kritis Meluas, PDI Perjuangan Serukan Mitigasi Bencana Jadi Prioritas Anggaran" daya, Buky Wibawa, kader Partai Gerindra sejak tahun 2008 dan saat ini menjabat sebagai Wakil Ketua I Bidang Organisasi, Keanggotaan, dan Kaderisasi (OKK) DPD Partai Gerindra Jawa Barat, menyampaikan sikap menolak langkah tersebut dengan pertimbangan ideologis dan prinsipil" ungkap Buky
Baca juga: ADPSI Dukung Efisiensi AnggaranPenolakan ini , jelas Buky tidak didorong oleh sentimen pribadi, melainkan oleh kesadaran kolektif kader akan pentingnya menjaga marwah dan integritas Partai Gerindra sebagai partai kader, bukan partai kendaraan politik.
Baca juga: Perubahan Regulasi Pajak dan Retribusi Daerah Respon Kondisi FaktualPartai Gerindra dibangun dari proses panjang pengorbanan dan konsistensi ideologi perjuangan, bukan hasil pragmatisme politik sesaat.Sejak awal berdiri pada 2008, Partai Gerindra memposisikan diri sebagai partai yang membentuk kader, bukan menampung penumpang politik. Kaderisasi berjalan melalui sistem yang terstruktur, berjenjang, dan berbasis nilai perjuangan sebagaimana digariskan oleh Ketua Umum kami, Jenderal (Purn.) Prabowo Subianto.Prinsip ini menjadi fondasi moral sekaligus instrumen ideologis yang menjaga arah partai tetap lurus dalam dinamika politik nasional.Wacana bergabungnya figur eksternal seperti Budi Arie dan kelompok relawan Projo, terutama ketika partai tengah berada dalam posisi kuat dan berkuasa, berpotensi menimbulkan distorsi terhadap kultur perjuangan partai.Dalam kajian politik kelembagaan (institutional political studies), sambung Buky fenomena ini dikenal sebagai “co-optation risk”—yakni risiko pengambilalihan nilai dan arah perjuangan partai oleh elemen non-organik yang tidak melalui proses kaderisasi internal.Sebagai partai ideologis, Partai Gerindra harus berhati-hati agar tidak terjebak dalam pola “partai oportunistik”, di mana loyalitas ditentukan oleh momentum kekuasaan, bukan oleh kesetiaan pada nilai dan cita-cita perjuangan rakyat." kami menegaskan, Partai Gerindra adalah rumah perjuangan, bukan rumah singgah politik. Ini adalah tempat bagi mereka yang bertahan di kala kalah, bukan hanya datang ketika menang. Menjaga marwah partai berarti menjaga integritas ideologi dan menghormati pengorbanan para kader yang membesarkan Gerindra dengan keringat, waktu, dan idealisme.Sebagai kader yang telah bersama Partai Gerindra sejak awal berdiri, saya meyakini bahwa kekuatan partai ini justru lahir dari akar kaderisasi yang kuat dan loyalitas ideologis, bukan dari penambahan massa instan tanpa integrasi nilai. Karena itu, kami menyerukan kepada seluruh struktur dan kader agar tetap teguh menjaga kemurnian perjuangan partai, dan tidak tergoda oleh romantisme kekuasaan atau popularitas sesaat.Partai Gerindra berdiri tegak di atas nilai nasionalisme, kerakyatan, dan kemandirian politik. Nilai-nilai ini tidak boleh dikompromikan oleh kalkulasi pragmatis apa pun.Partai Gerindra bukan tempat berlindung bagi penumpang kemenangan. Partai Gerindra, ujar Buky adalah barisan pejuang yang tetap setia, bahkan ketika badai politik datang silih berganti.(Adv)
Bagikan: