Diet Bebas Gula Ternyata Punya Dampak Tersembunyi, Studi pada Tikus Ungkap Hal Tak Terduga
JAKARTA -- Selama ini, mengurangi konsumsi gula sering dianggap sebagai langkah terbaik untuk menjaga kesehatan tubuh.
Mulai dari mengurangi risiko kerusakan gigi hingga membantu kesehatan mental, diet rendah gula banyak direkomendasikan dalam berbagai panduan kesehatan.
Namun sebuah penelitian terbaru pada hewan laboratorium menunjukkan bahwa menghilangkan gula sepenuhnya dari pola makan justru bisa membawa efek samping yang tidak terduga.
Senin, 22 Juni 2026, hasil studi tersebut kembali menjadi sorotan setelah dipresentasikan dalam pertemuan ilmiah Endocrine Society dan dilaporkan oleh sejumlah media sains internasional.
Penelitian yang dilakukan oleh tim dari Dasman Diabetes Institute di Kuwait ini menggunakan 12 ekor tikus yang dibagi ke dalam dua kelompok dengan pola makan rendah lemak, dengan dan tanpa sukrosa atau gula pasir.
Para peneliti menjelaskan bahwa diet rendah lemak memang sering dianggap menyehatkan, tetapi dampak jika gula benar-benar dihilangkan dari pola makan masih belum banyak dipahami.
Dalam periode pengamatan selama 16 minggu, tikus yang tidak mengonsumsi gula menunjukkan sejumlah perubahan kondisi kesehatan dibanding kelompok lainnya.
Salah satu temuan utama adalah terganggunya keseimbangan bakteri di dalam usus.
Pada kelompok tanpa gula, jumlah bakteri baik menurun, sementara bakteri yang memicu peradangan justru meningkat.
Perubahan ini menjadi perhatian karena kesehatan usus diketahui sangat berhubungan dengan metabolisme tubuh secara keseluruhan, meskipun para ilmuwan menegaskan bahwa maknanya pada manusia masih belum dapat dipastikan.
Selain itu, tikus tanpa asupan gula juga menunjukkan gangguan dalam pengaturan kadar gula darah, yang membuat kontrol energi tubuh menjadi kurang stabil.
Tanda-tanda resistensi insulin juga ditemukan, yaitu kondisi ketika tubuh kurang efektif menggunakan gula dalam darah, yang dalam jangka panjang berkaitan dengan risiko diabetes tipe 2.
Peneliti juga mencatat adanya penumpukan lemak di hati pada kelompok tikus tanpa gula, meski berat badan mereka tidak jauh berbeda dengan kelompok yang tetap mengonsumsi gula.
Meski demikian, para ilmuwan menegaskan bahwa penelitian ini masih berada pada tahap awal dan dilakukan pada hewan, sehingga belum bisa langsung disamakan dengan kondisi manusia.
Beberapa ahli juga mengingatkan bahwa hasil ini perlu diuji ulang dalam penelitian yang lebih luas sebelum dijadikan dasar kesimpulan medis.
Menurut peneliti, temuan ini justru menunjukkan bahwa keseimbangan nutrisi lebih penting dibanding hanya menghilangkan satu jenis zat makanan secara ekstrem.
Seorang imunolog dari Dasman Diabetes Institute, Rasheed Ahmad, menyebut bahwa hasil penelitian ini menyoroti pentingnya menjaga keseimbangan mikrobiota usus melalui pola makan yang seimbang.
Ia menjelaskan bahwa menghilangkan sukrosa sepenuhnya dari diet rendah lemak dapat memengaruhi kesehatan usus dan sistem metabolisme tubuh secara keseluruhan.
Di sisi lain, sejumlah dokter juga menilai bahwa nutrisi manusia jauh lebih kompleks daripada sekadar menghapus satu komponen makanan tertentu.
Penelitian ini juga mengamati adanya gangguan pengaturan glukosa dan tanda-tanda peradangan pada usus serta hati, yang mengindikasikan adanya perubahan metabolik pada tubuh tikus.
Namun para peneliti menegaskan bahwa hasil ini masih perlu dikonfirmasi lebih lanjut melalui studi pada manusia agar dampaknya bisa dipahami dengan lebih jelas.
Secara keseluruhan, studi ini menambah daftar panjang penelitian yang menunjukkan bahwa pola makan ekstrem, termasuk penghilangan total gula, tidak selalu memberikan hasil yang lebih baik bagi tubuh.
Para peneliti menutup laporan mereka dengan penegasan bahwa keseimbangan dalam asupan karbohidrat tetap penting untuk menjaga kesehatan sistem pencernaan dan metabolisme.
(Wy/Red)