Kopi dan Teh Bisa Turunkan Risiko Demensia Hingga 20 Persen, Studi JAMA Ungkap Temuan Baru
JAKARTA -- Secangkir kopi di pagi hari yang selama ini dianggap sekadar rutinitas untuk mengusir kantuk, ternyata menyimpan pertanyaan yang jauh lebih besar dari itu. Apakah kebiasaan sederhana ini diam-diam ikut membentuk masa depan kesehatan otak manusia dalam jangka panjang?
Pada Februari 2026, sebuah studi berskala besar yang dipublikasikan di jurnal ilmiah JAMA kembali memicu perhatian dunia kesehatan. Dilansir dari Futura-Sciences, penelitian tersebut melibatkan lebih dari 131.000 orang dewasa yang dipantau hingga 43 tahun untuk melihat hubungan antara konsumsi kopi, teh, dan risiko demensia.
Penelitian ini menjadi salah satu studi observasional terpanjang di bidang kesehatan otak. Para peneliti menemukan pola yang cukup konsisten: konsumsi kafein dalam jumlah tertentu berkaitan dengan penurunan risiko penurunan kognitif di usia lanjut.
Data menunjukkan bahwa konsumsi kopi berkafein sekitar dua hingga tiga cangkir per hari berkaitan dengan penurunan risiko demensia hingga hampir 20 persen dibandingkan mereka yang tidak mengonsumsinya. Sementara itu, konsumsi teh satu hingga dua cangkir per hari dikaitkan dengan penurunan risiko sekitar 14 persen.
Menariknya, kopi tanpa kafein tidak menunjukkan efek perlindungan yang sama. Temuan ini menguatkan dugaan bahwa kafein menjadi salah satu faktor kunci dalam hubungan antara minuman tersebut dan kesehatan otak.
Namun para peneliti juga menemukan batas yang cukup jelas. Setelah titik konsumsi tertentu, manfaat perlindungan tersebut tidak lagi meningkat. Dengan kata lain, lebih banyak tidak selalu lebih baik.
Dalam laporan yang dikutip dari JAMA melalui Futura-Sciences, sekitar 11.000 peserta dari total sampel diketahui mengalami demensia selama periode pengamatan panjang tersebut. Angka ini memberi dasar data yang kuat untuk melihat pola jangka panjang antara kebiasaan minum kopi dan kesehatan otak.
Para peneliti menjelaskan bahwa manfaat tersebut kemungkinan berkaitan dengan kandungan polyphenol dalam kopi dan teh. Senyawa ini dikenal sebagai antioksidan yang dapat membantu melawan peradangan kronis dan stres oksidatif, dua faktor yang sering dikaitkan dengan penuaan otak.
Dalam penjelasan ilmiah yang dikutip dari peneliti senior Daniel Wang, senyawa tersebut juga diduga dapat memengaruhi penumpukan beta-amyloid, protein yang terkait dengan penyakit Alzheimer. Selain itu, kafein disebut berpotensi mendukung neuroplastisitas, yaitu kemampuan otak untuk beradaptasi dan memproses informasi baru.
Meski begitu, para ilmuwan menegaskan bahwa studi ini bersifat observasional. Artinya, hasilnya menunjukkan hubungan, bukan sebab akibat langsung. Ada banyak faktor lain yang bisa memengaruhi hasil tersebut.
Misalnya, kebiasaan hidup seperti pola makan sehat, aktivitas fisik, kualitas tidur, hingga kondisi sosial ekonomi juga berperan besar dalam kesehatan otak jangka panjang.
Beberapa catatan penting dari studi ini antara lain:
Konsumsi 2 sampai 3 cangkir kopi berkafein per hari berkaitan dengan penurunan risiko demensia hingga sekitar 20 persen
Konsumsi 1 sampai 2 cangkir teh per hari berkaitan dengan penurunan risiko sekitar 14 persen
Kopi tanpa kafein tidak menunjukkan efek perlindungan yang sama
Manfaat kognitif cenderung stagnan setelah melewati batas konsumsi optimal
Studi tidak membuktikan sebab akibat langsung, hanya korelasi jangka panjang
Peneliti juga mengingatkan bahwa perbedaan metabolisme kafein pada setiap individu membuat efeknya tidak bisa disamaratakan. Selain itu, diagnosis demensia dalam studi ini didasarkan pada catatan medis, bukan evaluasi klinis langsung.
Di tengah temuan yang menarik ini, para ahli tetap menekankan bahwa kopi bukanlah “obat pencegah demensia”. Fondasi utama kesehatan otak tetap bertumpu pada gaya hidup sehat secara menyeluruh, termasuk olahraga teratur, pola makan seimbang, dan tidur yang cukup.
Namun di sisi lain, temuan ini membuka ruang refleksi yang lebih luas: bahwa hal-hal kecil yang kita lakukan setiap hari, seperti menyeruput kopi di pagi hari, mungkin menyimpan jejak dampak yang baru benar-benar terlihat puluhan tahun kemudian.
Dan pada titik itu, kopi bukan lagi sekadar kebiasaan, tetapi bagian kecil dari cerita panjang tentang bagaimana manusia menjaga ingatannya sendiri.
(Wy/Red)