1 Warga Tewas Akibat Gempa M6,7 di Sulawesi Tengah, Ratusan Jiwa Terdampak

1 Warga Tewas Akibat Gempa M6,7 di Sulawesi Tengah, Ratusan Jiwa Terdampak

PALU -- Getaran kuat yang datang tiba-tiba pada Selasa siang menyisakan kepanikan di sejumlah wilayah Sulawesi Tengah. Di balik kepulan debu bangunan yang retak dan suara sirene yang terus terdengar, satu kabar duka akhirnya dikonfirmasi: seorang warga meninggal dunia akibat gempa berkekuatan magnitudo 6,7.

Pada Selasa, 16 Juni 2026, gempa bumi tersebut mengguncang wilayah Sulawesi Tengah dan memicu kerusakan di beberapa kabupaten sekitar pusat gempa. Dikutip dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), korban meninggal dunia ditemukan di Kabupaten Sigi. Hingga pukul 19.00 WIB di hari yang sama, BNPB mencatat sedikitnya satu korban jiwa dan ratusan warga terdampak akibat guncangan tersebut.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menyampaikan bahwa data sementara terus diperbarui seiring proses pendataan di lapangan. Ia mengatakan, laporan awal menunjukkan adanya korban jiwa di Kabupaten Sigi yang menjadi salah satu wilayah dengan dampak paling signifikan.

Gempa tersebut tercatat oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) berpusat di daratan pada koordinat 1,03 derajat Lintang Selatan dan 120,24 derajat Bujur Timur dengan kedalaman sekitar 10 kilometer. Lokasi episenter berada sekitar 42 kilometer tenggara Kota Palu, 54 kilometer timur laut Kabupaten Sigi, 70 kilometer barat laut Kabupaten Poso, dan 81 kilometer tenggara Kabupaten Donggala.

Dalam catatan awal penanganan darurat, BNPB menyebut sedikitnya 312 jiwa atau 110 kepala keluarga terdampak gempa. Angka ini masih bersifat sementara karena proses pendataan terus dilakukan di lapangan oleh tim gabungan.

Kabupaten Sigi menjadi wilayah dengan dampak paling besar. Di daerah ini, tercatat 272 jiwa terdampak dengan 89 kepala keluarga. Selain itu, 22 warga mengalami luka ringan dan 13 lainnya mengalami luka berat.

Sementara itu, di Kabupaten Parigi Moutong, sebanyak 40 jiwa atau 21 kepala keluarga turut terdampak. Di Kota Palu, dua warga dilaporkan mengalami luka ringan, sedangkan di Kabupaten Poso terdapat satu warga yang mengalami luka akibat guncangan gempa.

Kerusakan fisik juga mulai teridentifikasi di sejumlah wilayah. BNPB mencatat sedikitnya 67 rumah terdampak dengan tingkat kerusakan yang bervariasi, mulai dari ringan hingga berat.

Rinciannya sebagai berikut:

26 rumah rusak ringan

6 rumah rusak sedang

12 rumah rusak berat


Kabupaten Sigi kembali menjadi wilayah dengan kerusakan terbanyak, yakni 47 rumah terdampak. Selain rumah warga, kerusakan juga terjadi pada enam fasilitas ibadah, dua gedung perkantoran, satu jembatan, serta satu unit usaha mikro, kecil, dan menengah.

Di Kabupaten Poso, lima rumah terdampak dengan tiga di antaranya mengalami kerusakan ringan. Sementara di Parigi Moutong, terdapat 15 rumah yang ikut terdampak akibat getaran gempa.

Di Kota Palu, dampak juga terasa pada infrastruktur publik. Jembatan III dilaporkan mengalami keretakan, sementara satu hotel, satu fasilitas umum, dan satu tempat usaha turut terdampak.

BMKG dalam pemantauannya mencatat aktivitas gempa susulan masih terus terjadi. Hingga pukul 14.00 WIB pada hari yang sama, tercatat 55 kali gempa susulan di sekitar titik gempa utama, menandakan kondisi tanah di wilayah tersebut masih belum stabil.

Di tengah upaya evakuasi dan pendataan yang masih berlangsung, situasi di sejumlah titik terdampak masih terus bergerak. Dan di antara angka-angka yang terus diperbarui itu, satu hal yang paling terasa di lapangan adalah bahwa gempa ini belum benar-benar selesai dampaknya bagi banyak warga.

(Wy/Red)