31 Jul, 2026

Perang Iran yang Tak Kunjung Usai, Elektabilitas Trump di Titik Nadir: Hanya 28% Rakyat AS yang Setuju

Indofakta.com, 2026-07-31 14:00:30 WIB

Bagikan:

WASHINGTON -- Hanya dalam hitungan bulan, janji kampanye Donald Trump untuk tidak memulai perang baru di Timur Tengah kini berubah menjadi mimpi buruk politik yang menghantuinya. Hasil jajak pendapat terbaru dari lembaga survei AP-NORC yang dirilis pada akhir Juli 2026 menunjukkan bahwa sekitar dua pertiga orang dewasa Amerika Serikat menilai perang melawan Iran tidak sebanding dengan apa yang telah dikorbankan.

Baca juga: Kebangkitan Spanyol: Dari Reruntuhan Generasi Emas Sampai Mahkota Dunia 2026

Kamis, 30 Juli 2026, menjadi hari ketika realitas perang yang berkepanjangan mulai membentuk ulang lanskap politik Negeri Paman Sam. Survei yang dilakukan pada 23 hingga 27 Juli 2026 itu mengungkap penurunan tajam dukungan publik terhadap kebijakan luar negeri Trump, bahkan di kalangan pendukung setianya sendiri.

Baca juga: Iran Sindir Kuwait di Tengah Perang, Kenang Bantuan Padamkan Api Ladang Minyak 1991

Perang yang dimulai pada 28 Februari 2026 itu telah berlangsung jauh lebih lama dari prediksi awal Trump. Selama konflik berlangsung, 18 personel militer Amerika Serikat telah tewas, namun administrasi Trump justru berupaya merevisi angka-angka tersebut. Sikap kontroversial ini semakin memperdalam jurang ketidakpercayaan publik terhadap transparansi pemerintahan.

Baca juga: Piala Dunia 2026: Tuchel Bangga Inggris Raih Perunggu, tapi Sakit Semifinal Tak Terobati

Hasil survei menunjukkan bahwa hanya 28 persen orang dewasa Amerika Serikat yang menyetujui cara Trump menangani Iran, angka yang menurun signifikan dari 34 persen pada bulan sebelumnya. Bahkan di antara para pemilih Republik, dukungan terhadap kebijakan Iran Trump turun dari 71 persen pada Juni menjadi sekitar 61 persen. Meskipun penurunan ini tergolong kecil secara statistik, pergeseran sentimen di kalangan basis sendiri merupakan sinyal peringatan yang tidak bisa diabaikan.

Baca juga: Final Piala Dunia 2026: Duel Guru dan Murid, Lionel Scaloni vs Luis de la Fuente

Angka persetujuan keseluruhan terhadap kinerja Trump secara umum juga berada di angka 33 persen, sedikit lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada masa kepresidenannya yang pertama. Ini adalah posisi yang rentan, mengingat Trump pernah menempati posisi serupa dengan mantan Presiden Joe Biden saat inflasi melonjak sekitar satu setengah tahun masa jabatannya.

Robert McClary, seorang Republikan berusia 52 tahun dari Sugar Grove, Ohio, adalah salah satu dari sekian banyak pemilih yang mulai kehilangan kepercayaan. Ia memilih Trump pada 2016, namun kini ia tidak lagi yakin dengan arah kebijakan luar negeri sang presiden. "Saya tidak memiliki kepercayaan sama sekali pada pemerintahan ini dan mengapa mereka membawa kami ke dalam perang ini, mengapa mereka mempertaruhkan tentara kami lagi," ujarnya dengan nada skeptis.

McClary mengingat dengan jelas bagaimana Trump berkampanye dengan janji tidak akan memulai perang baru di Timur Tengah. Kini, janji itu terasa seperti pengkhianatan terhadap para pendukungnya yang memilihnya dengan harapan akan adanya perubahan dari kebijakan intervensi masa lalu.

Di tengah kekecewaan itu, hampir tidak ada nafsu publik untuk melanjutkan konflik. Hanya sekitar 2 dari 10 orang dewasa Amerika Serikat yang ingin melanjutkan aksi militer di Iran. Sekitar 3 dari 10 menginginkan jeda dan negosiasi gencatan senjata, sementara 2 dari 10 lainnya menginginkan penghentian total.

Perpecahan di kalangan Republikan sendiri sangat mencolok. Sekitar setengah dari pemilih Republik mendukung kelanjutan aksi militer, terutama mereka yang mengaku "sangat konservatif". Namun, pemilih Republik yang tidak terafiliasi dengan gerakan MAGA justru lebih condong menginginkan gencatan senjata atau penghentian total. Ini menunjukkan bahwa perang Iran telah menjadi isu yang memecah belah basis politik Trump sendiri.

Di sisi lain, warga Amerika masih sangat peduli dengan dampak perang terhadap dompet mereka. Sekitar 72 persen orang dewasa Amerika Serikat mengatakan sangat penting untuk mencegah kenaikan harga minyak dan gas domestik, meningkat dari 67 persen pada Maret lalu. Harga minyak bahkan sempat menembus 100 dolar Amerika per barel pekan lalu, mengakhiri periode harga lebih rendah ketika ketegangan Amerika Serikat dan Iran mereda pada Juni.

Harga gas rata-rata telah melampaui 4 dolar Amerika per galon, dan dampaknya terasa di seluruh sektor ekonomi. Inflasi memang mendingin bulan lalu, namun tetap berada pada tingkat yang tinggi, dan belanja konsumen mulai melambat. Sekitar 4 dari 10 orang dewasa Amerika Serikat mengatakan biaya gas untuk mobil mereka adalah "sumber stres utama" dalam hidup mereka saat ini.

Mikal Baker, seorang independen politik berusia 47 tahun dari Sandy Springs, Georgia, dengan gamblang mengungkapkan frustrasinya. "Saya tidak melihat manfaatnya. Saya tidak melihat total manfaat bagi warga Amerika dari perang ini," katanya. Namun Baker juga pesimistis perang ini akan pernah benar-benar berakhir.

Jennifer Norton, seorang Republikan berusia 71 tahun dari Crossville, Tennessee, mendukung aksi militer di Iran tetapi mulai gelisah melihat harga daging sapi dan hamburger yang terus meroket. Dengan pendapatan pas-pasan, Norton mencoba tetap percaya pada presidennya. "Saya mulai sedikit tidak sabar, tetapi ketika saya merenungkannya sebentar, saya ingat bahwa Pak Presiden Trump adalah seorang pengusaha yang brilian," katanya.

Ia menambahkan, "Dia tidak bisa memberi tahu kita secara persis apa yang dia lakukan, tetapi saya percaya dia melakukan sesuatu. Maksud saya, dia baik-baik saja." Sikap Norton mencerminkan dilema yang dihadapi banyak pendukung Trump, antara kesetiaan buta dan realitas ekonomi yang semakin menekan.

Ryan Sloan, seorang Republikan berusia 39 tahun di Lakeland, Florida, juga mulai tidak setuju dengan konflik di Iran karena ia menginginkan penjelasan yang lebih baik dari pemerintahan Trump. "Harus kita akui, tidak semua orang akan senang dengannya," ujar Sloan. "Saya hanya berharap ada lebih banyak transparansi tentang mengapa hal-hal terjadi seperti yang terjadi."

Sloan meyakini pentingnya mencegah Iran memperoleh senjata nuklir, dengan alasan bahwa Amerika Serikat akan menjadi target nomor satu mereka. Namun, bahkan di antara para Republikan yang sangat peduli dengan ancaman nuklir Iran, sekitar 8 dari 10 mengatakan hal ini sangat penting, ada juga sekitar 7 dari 10 yang menganggap penting untuk mencegah kenaikan harga minyak dan gas serta merundingkan gencatan senjata permanen.

Prioritas publik saat ini jelas tidak sejalan dengan narasi yang terus digaungkan Trump. Meskipun Trump berulang kali menyatakan bahwa perang diluncurkan untuk menjaga senjata nuklir dari tangan Iran, sebagian besar warga Amerika justru lebih peduli pada hal-hal yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari mereka.

Survei AP-NORC terhadap 1.165 orang dewasa ini memiliki margin of error sekitar plus-minus 3,7 poin persentase. Meskipun demikian, tren penurunan dukungan terhadap perang Iran sudah terlalu jelas untuk diabaikan. Ini adalah penolakan telak terhadap pendekatan Trump terhadap konflik yang telah berlangsung jauh lebih lama dari yang ia prediksi.

Salah satu temuan paling menarik adalah bahwa sekitar 4 dari 10 orang dewasa Amerika Serikat kini "sangat" khawatir tentang kemampuan mereka untuk membayar bensin dalam beberapa bulan mendatang, meskipun angka ini sedikit menurun dari 45 persen pada Maret. Ini menunjukkan bahwa meskipun kekhawatiran sedikit mereda, tekanan ekonomi akibat perang masih sangat terasa.

Lebih dari sekadar angka, survei ini mengungkap sebuah narasi yang lebih dalam tentang hubungan antara kebijakan luar negeri dan kepentingan domestik. Bagi sebagian besar warga Amerika, perang di Iran bukanlah tentang kejayaan geopolitik atau pencegahan nuklir, melainkan tentang bagaimana konflik itu memengaruhi harga bahan bakar dan kehidupan sehari-hari mereka.

Dengan pemilihan paruh waktu yang akan digelar pada November mendatang, hasil survei ini menjadi ancaman serius bagi para anggota Kongres dari Partai Republik yang selama ini membela aksi militer Trump. Mereka kini harus menghadapi konstituen yang semakin skeptis terhadap perang yang tidak kunjung usai.

Yang lebih mengkhawatirkan bagi Trump adalah bahwa ketidakpuasan terhadap kebijakan Iran-nya terjadi di tengah dukungan keseluruhan terhadap kepresidenannya yang sudah berada di titik rendah. Jika ia kehilangan dukungan dari basisnya sendiri, seperti yang tercermin dari penurunan dukungan di kalangan Republikan, maka prospek politiknya untuk sisa masa jabatan menjadi sangat suram.

Perang Iran telah menjadi ujian terbesar bagi kepemimpinan Trump di panggung global, dan berdasarkan survei terbaru, ia tampaknya gagal dalam ujian itu. Warga Amerika tidak hanya meragukan strateginya, tetapi juga mulai meragukan motif dan transparansinya.

"Let's face it, not everybody's going to be happy with him," kata Sloan, merangkum sentimen yang mulai menyebar luas. Di negara yang terpolarisasi seperti Amerika Serikat, ketika bahkan pendukung setia mulai mempertanyakan arah kebijakan, itu adalah tanda bahwa sesuatu telah salah secara fundamental.

Akankah Trump mendengarkan suara rakyatnya dan mengubah arah kebijakannya, atau ia akan terus menggali lubang yang semakin dalam? Dengan perang yang telah memakan korban jiwa dan menguras dompet, waktu untuk mengambil keputusan semakin sempit.

(Wy/Red)

Bagikan:

© 2026 Copyright: Indofakta Online