JAKARTA -- Lapangan bergemuruh ketika Ferran Torres menyambar bola dan mengoyak jala Argentina pada menit ke-106. Penyerang pengganti itu langsung berlari ke sudut lapangan, merayakan gol yang akan menjadi legenda.
Baca juga: Prediksi Skor Spanyol vs Argentina: Messi Akan Membuktikan Bahwa Brankas Paling Kokoh Pun Bisa TerbukaTangannya menunjuk ke langit, sementara pemain Argentina tertunduk lesu. Gol tunggal itu menjadi penutup kisah dominasi mutlak La Furia Roja di final Piala Dunia 2026, sekaligus pernyataan keras bahwa Spanyol telah resmi kembali ke puncak dunia.
Baca juga: Prediksi Skor Prancis vs Inggris: Duel Patah Hati yang Akan Diselesaikan oleh Pemain Paling Ingin LiburanHari Minggu, 19 Juli 2026, akan dikenang sebagai hari di mana Spanyol tidak hanya mengalahkan Argentina, tetapi juga menghancurkan semua keraguan tentang gaya bermain mereka. Tim asuhan Luis de la Fuente itu memulai turnamen dengan hasil imbang 0-0 melawan Cape Verde di laga pembuka.
Baca juga: Trump Kirim Ancaman Terbuka ke Iran: "Berdamai atau Kami Selesaikan Sampai Tuntas"Hasil itu sontak memicu gelombang kritik. Spanyol mencatat 74 persen penguasaan bola, melakukan 734 umpan berbanding 205 milik Cape Verde, namun tak mampu mencetak gol.
Baca juga: Jadwal Lengkap Piala Dunia 2026: 104 Laga, 48 Negara, dan Final Spanyol vs Argentina yang Siap Mengguncang DuniaBanyak yang menyebut era sepak bola possession Spanyol telah mati. Namun Mikel Merino, gelandang tengah mereka, menepisnya dengan kalem. "Banyak cerita hebat dimulai dari pertandingan yang kurang gemilang, seperti kekalahan Argentina dari Arab Saudi di 2022 yang kemudian juara. Masih awal. Kita masih punya ruang untuk berkembang," katanya.Satu bulan setelah komentar itu, Merino dan seluruh Spanyol membuktikan ucapannya. Di final melawan juara bertahan Argentina, Spanyol tampil bak mesin penghancur yang presisi. Mereka tidak hanya memenangkan trofi, tetapi juga membuat Lionel Messi dan kawan-kawan benar-benar tak berkutik.Ini adalah puncak dari perjalanan panjang yang dimulai dari reruntuhan sebuah dinasti.Selama hampir satu dekade, Spanyol bagai raksasa yang kehilangan jati diri. Generasi emas yang membawa mereka menjuarai Euro 2008, Piala Dunia 2010, dan Euro 2012 mulai menua dan runtuh.Kehancuran besar dimulai di Piala Dunia 2014. Status juara bertahan ternoda oleh kekalahan memalukan 1-5 dari Belanda di laga pembuka grup. Untuk pertama kalinya dalam sejarah Piala Dunia, juara bertahan kebobolan lima gol dalam satu pertandingan.Spanyol angkat koper lebih awal dari fase grup. Lalu di Euro 2016, mereka tersingkir di babak 16 besar oleh Italia asuhan Antonio Conte. Era Vicente del Bosque, sang arsitek kejayaan, resmi berakhir.Namun, del Bosque tidak pernah percaya bahwa itu adalah akhir. "Saya tidak berpikir ini adalah akhir sebuah era. Sepak bola Spanyol punya struktur yang hebat. Kita punya pemain-pemain hebat dan saya tidak berpikir ini sudah berakhir. Ini baru saja dimulai," ujarnya saat itu.Sayangnya, kata-kata Del Bosque tidak langsung menjadi kenyataan. Piala Dunia 2018 malah menjadi panggung kekacauan. Dua hari sebelum turnamen, pelatih Julen Lopetegui dipecat karena diam-diam menerima pinangan Real Madrid. Fernando Hierro ditunjuk sebagai pelatih dadakan, dan hasilnya nihil. Spanyol tersingkir di 16 besar oleh tuan rumah Rusia.Federasi Sepak Bola Spanyol (RFEF) kemudian menunjuk Luis Enrique sebagai juru selamat. Ekspektasi melambung tinggi. David Villa, legenda Spanyol, menyatakan keyakinannya. "Tantangan bagi Enrique selalu 'Spanyol harus menang di setiap turnamen besar yang mereka ikuti.' Dia harus merakit skuad terbaik dan bersaing dengan generasi emas yang tersedia."Namun, era Enrique justru diwarnai kontroversi dan kesombongan. Di Euro 2020, ia tidak membawa satu pun pemain Real Madrid, mengabaikan nama-nama seperti Isco, Marco Asensio, dan Nacho. Ia bahkan sempat berkata, "Saya tidak berpikir ada negara yang ingin bertemu kami."Kesombongan itu diganjar kenyataan pahit. Spanyol tersingkir di semifinal oleh Italia lewat adu penalti. Puncak kegagalannya terjadi di Piala Dunia 2022, di mana mereka pulang di babak 16 besar setelah takluk dari Maroko, lagi-lagi lewat adu penalti. Taktik Enrique dianggap terlalu rumit dan gagal menembus pertahanan low block lawan.Di titik nadir inilah RFEF membuat sebuah taruhan besar. Pada tahun 2022, mereka menunjuk Luis de la Fuente, seorang pelatih yang kariernya di level klub bisa dibilang gagal total. Di Athletic Bilbao, ia hanya bertahan satu musim. Di Deportivo Alavés, lebih buruk lagi: tiga bulan.Satu-satunya prestasi menterengnya adalah membawa timnas Spanyol U-19 dan U-21 juara Eropa. Publik dan media meremehkannya. Namun, di balik rekam jejak klub yang buruk, tersimpan rahasia yang akan membangkitkan La Furia Roja.Nacho Fernández, bek veteran yang pernah merasakan langsung tangan dinginnya, memberikan sebuah perbandingan yang mengejutkan. "Dia sangat mirip Carlo Ancelotti, yang juga memberi Anda kasih sayang dan kepercayaan," kata Nacho.Karakter itu menjadi fondasi revolusi. De la Fuente bukanlah pelatih kaku yang memaksakan penguasaan bola. Ia fleksibel, menyusun strategi berdasarkan lawan. Dan yang paling penting, ia tak ragu melakukan regenerasi total. Di Euro 2024, ia membawa pemain belia macam Lamine Yamal, Nico Williams, dan Fermín López, serta mengandalkan para pemain yang sudah ia ukir di tim muda seperti Rodri, Mikel Oyarzabal, dan Martín Zubimendi.Hasilnya adalah trofi Euro 2024, gelar besar pertama Spanyol setelah paceklik 12 tahun. Mereka mengalahkan Inggris di final. "Hari ini sangat spesial di mana tim terbaik mendapat mahkota juara. Bagi saya, Spanyol adalah tim terbaik di dunia ini. Kami bisa terus berkembang lagi di masa depan," kata De la Fuente malam itu.Dua tahun setelah malam di Berlin, De la Fuente membawa skuadnya ke Piala Dunia 2026 sebagai unggulan teratas versi Opta, dengan probabilitas juara 16,1 persen. Meski sempat goyah di laga awal, Spanyol terus melaju hingga ke partai puncak melawan Argentina.Dan di final itulah, semua orang menyaksikan mahakarya taktik. Spanyol tidak sekadar memainkan Tiki-Taka. Operan pendek mereka punya racun mematikan.Sepanjang 90 menit waktu normal, Argentina yang memiliki Lionel Messi mencatat nol tembakan tepat sasaran. Sebuah rekor memalukan sebagai finalis Piala Dunia. Catatan expected goals (xG) La Albiceleste tepat 0,00.Sementara itu, Spanyol mencatat 235 operan sukses di sepertiga akhir pertahanan Argentina. Sebagai perbandingan, Argentina hanya mampu melakukan 47 operan sukses di area pertahanan Spanyol. Kolektivitas La Furia Roja benar-benar mengurung Messi dan rekan-rekannya.Emiliano Martínez berdiri sendirian sebagai pahlawan Argentina. Ia melakukan 11 penyelamatan gemilang, termasuk menepis tendangan bebas Lamine Yamal di menit-menit akhir. Jumlah penyelamatannya di final itu lebih banyak daripada yang dilakukan Unai Simón sepanjang turnamen, yakni 10 penyelamatan.Namun, Dibu Martínez tak kuasa menahan gelombang serangan tanpa henti.Di menit ke-106 babak extra time, kebuntuan pecah. Ferran Torres, masuk sebagai pemain pengganti, mencetak gol kemenangan. Ia menjadi pemain pengganti kedua yang mencetak gol di final Piala Dunia setelah Mario Götze pada 2014.Frustrasi Argentina langsung meledak. Permainan kasar mereka, yang sudah terlihat dari 25 pelanggaran sepanjang laga, berubah menjadi kericuhan setelah peluit akhir. Leandro Paredes tertangkap kamera memukul Gavi dan Eric García, memaksa wasit mengeluarkan kartu merah meski laga usai.Kericuhan lain pecah antara Nahuel Molina dan Rodri, di mana Molina terlihat memukul dada sang gelandang saat selebrasi. Argentina kalah segalanya: skor, statistik, dan martabat.Ketika trofi emas itu akhirnya diangkat, Toni Kroos, mantan gelandang Real Madrid, menuliskan kalimat singkat di media sosial yang mewakili perasaan seluruh dunia: "Sepak bola menang."Spanyol tidak hanya merebut kembali takhta dunia. Di bawah Luis de la Fuente, mereka membungkam semua sinis yang menganggap possession football sudah mati. Dari reruntuhan generasi emas, lahir generasi baru yang tak kalah berbahaya, dilatih oleh seorang pria yang pernah dianggap bukan siapa-siapa, yang kemudian memberikan Spanyol segalanya.(Wy/Red)
Bagikan: