Petualangan Putri Pembelot Menyeberangi Empat Negara Tanpa Paspor
SEOUL -- Bayangkan Anda harus meninggalkan rumah, keluarga, dan seluruh kehidupan yang Anda kenal. Anda tidak bisa berpamitan. Anda tidak bisa menoleh ke belakang. Satu-satunya alasan Anda melangkah adalah karena sistem yang membesarkan Anda tidak pernah memberi Anda kesempatan untuk hidup layak.
Itulah kenyataan yang dialami Yoonseo Chae. Pada Jumat, 24 Juli 2026, ia duduk sebagai mahasiswa pascasarjana di Dongguk University, Korea Selatan. Penampilannya tenang dan kata-katanya terukur. Tetapi di balik ketenangan itu, tersimpan perjalanan hidup yang nyaris tidak masuk akal: menyeberangi empat perbatasan negara secara ilegal, tanpa paspor, sambil menghindari tentara dan polisi yang bisa menangkapnya kapan saja.
Yoonseo lahir di Korea Utara pada akhir tahun 1990-an. Masa itu adalah periode paling kelam dalam sejarah negara tersebut. Ratusan ribu hingga satu juta orang meninggal karena kelaparan hebat. Negara tidak pernah merilis angka pastinya, tetapi keluarga Yoonseo merasakan langsung penderitaan itu. Jatah makanan yang biasanya dibagikan negara tiba-tiba berhenti total.
Nenek Yoonseo jatuh sakit karena kurang gizi. Ibunya panik. Melihat ibu dan anak perempuannya yang masih kecil terancam mati kelaparan, ia mengambil keputusan nekat: menyeberang ke Cina untuk mencari makanan. Bagi negara, tindakan seorang ibu yang ingin menyelamatkan keluarganya ini dianggap sebagai pengkhianatan. Status ibunya berubah menjadi pembelot atau pengkhianat negara.
Sejak saat itu, Yoonseo kecil harus menanggung beban berat. Ia dicap sebagai anak seorang pengkhianat. Sang nenek yang kemudian membesarkannya mengajarkan banyak aturan ketat yang waktu itu tidak ia mengerti. Kalau sedang di luar rumah, bicaralah seperlunya saja. Kalau sedang bersama orang lain, berdirilah selangkah di belakang mereka. Kalau ada yang berlaku tidak adil kepadamu, jangan tunjukkan emosimu di wajah.
Aturan-aturan ini membuat Yoonseo remaja merasa jenuh dan kesal. Ia menganggap neneknya dan orang dewasa di sekitarnya sebagai orang-orang yang penakut. Mereka tidak punya keberanian untuk melawan. Mereka masih saja tunduk pada negara yang sudah menghancurkan keluarga mereka. Lebih aneh lagi, mereka menerima uang kiriman dari ibunya yang sudah tinggal di Korea Selatan, tetapi sebagian uang itu malah disumbangkan untuk dana penghormatan mendiang pemimpin Kim Jong Il.
Semua kebingungan itu baru terjawab ketika Yoonseo masuk sekolah menengah. Ia mulai menyadari betapa ketatnya pengawasan terhadap dirinya selama ini. Aparat keamanan negara selalu memantau setiap gerak-gerik keluarganya. Hukuman tidak hanya ditujukan kepada pembelot, tetapi juga kepada keluarga yang ditinggalkan.
Kejujuran berlebihan yang ditunjukkan neneknya, demonstrasi kesetiaan yang selalu dipamerkan, dan kendali ketat terhadap perilaku Yoonseo bukanlah tanda kebodohan. Itu adalah strategi bertahan hidup. Itu adalah satu-satunya cara yang dimiliki keluarganya untuk melindungi Yoonseo dari negara yang tidak kenal ampun. Apa yang selama ini ia sebut sebagai kelemahan, tiba-tiba berubah makna menjadi cinta yang paling tulus.
Dengan pemahaman baru ini, Yoonseo memutuskan untuk memperbaiki statusnya. Sebelas tahun pendidikan wajib di Korea Utara telah menanamkan keyakinan bahwa kerja keras dan kepatuhan bisa menghapus noda keluarga di mata Partai. Kalau ia hidup sesuai aturan dan berprestasi, mungkin negara akan memaafkan dosa ibunya.
Ia mendaftar ke sekolah keguruan. Nilainya tinggi dan memenuhi syarat. Tetapi otoritas menolaknya. Alasannya sederhana: ia adalah keluarga pembelot. Ia mencoba lagi ke kantor pos, ditolak. Ia mencoba ke biro perdagangan, bidang yang sangat disukainya karena ia senang menghitung dan mengelola angka, lagi-lagi ditolak. Jawaban yang ia terima hampir selalu sama. Semua posisi yang memungkinkannya berhubungan dan memengaruhi orang lain tertutup rapat baginya.
Satu-satunya pekerjaan yang tersedia adalah buruh kasar atau keterampilan dasar yang sudah ia miliki. Ia akhirnya bekerja sebagai perawat. Pendidikan sebelas tahun yang selama ini ia percayai ternyata omong kosong belaka. Janji bahwa usaha pribadi bisa memenangkan kepercayaan Partai hanyalah fiksi. Setiap kali permohonannya ditolak, ia mendengarkan alasannya dan tidak bisa menerima kenyataan itu. Pada akhirnya, ia memutuskan untuk pergi.
Keputusan itu tidak datang tiba-tiba. Yoonseo menjalani persiapan selama satu tahun penuh secara diam-diam. Ia tidak bisa memberi tahu keluarga atau teman-temannya. Sepupu-sepupunya yang dulu sering bercanda memintanya mengajak mereka ikut kalau suatu hari ia mencari ibunya, kini tidak boleh tahu apa pun. Diamnya bukan karena ia tidak percaya pada mereka. Ini murni strategi untuk melindungi mereka semua.
Aparat keamanan sangat terlatih membaca ekspresi orang. Kalau keluarga dan teman-temannya tahu bahwa Yoonseo akan pergi, raut kesedihan perpisahan akan terlihat jelas di wajah mereka. Petugas akan langsung menangkap dan menginterogasi semua orang yang terlibat. Melalui pengalaman keluarganya sendiri, Yoonseo sudah tahu persis apa yang terjadi di dalam biro keamanan negara dan kamp kerja paksa. Ia sudah bertekad, jika usahanya gagal dan ia tertangkap, ia akan mengakhiri hidupnya sendiri daripada harus menjalani siksaan.
Pagi hari ketika ia akhirnya berangkat, ia berpamitan pada neneknya seperti biasa. Tidak ada pelukan spesial, tidak ada kata-kata perpisahan yang dramatis. Sang nenek tidak pernah tahu bahwa pagi itu adalah kali terakhir mereka bertatap muka.
Perjalanan melarikan diri berubah menjadi petualangan yang mengerikan. Yoonseo harus menyeberangi empat perbatasan negara tanpa paspor. Ia menghindari tentara bersenjata di belakang dan polisi di depan. Tubuhnya beberapa kali terjungkal menuruni lereng gunung. Ia nyaris tenggelam ketika menyeberangi sungai dengan rakit darurat yang terbuat dari beberapa papan kayu yang disatukan.
Ada saat-saat ketika rasa lapar membuat tubuhnya hampir pingsan. Tetapi ia tidak bisa meminta bantuan kepada siapa pun. Bagaimana mungkin ia meminta tolong kalau ia masuk ke negara orang secara ilegal? Rute pelariannya membentang sunyi melintasi Cina, Vietnam, Laos, dan Thailand sebelum akhirnya tiba di Korea Selatan.
Uniknya, ketika mengenang kembali pengalaman itu sekarang, bagian tersulit dari perjalanan itu tidak terasa menakutkan lagi. Semua rasa takut dan sakit fisik sudah tertelan habis oleh rasa kehilangan yang jauh lebih besar. Momen paling menyakitkan justru terjadi tepat ketika ia berhasil menyeberangi Sungai Tumen dan menginjakkan kaki di tanah Cina. Saat itulah rasa nyeri yang luar biasa merobek dadanya. Seluruh kehidupan yang ia kenal, semua orang yang mencintainya dan ia cintai, kini berada di belakangnya selamanya. Ia ambruk ke tanah, menangis tanpa bisa ditahan.
Setelah tiba di Korea Selatan, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Yoonseo bisa memilih apa yang ingin ia pelajari. Ini adalah kemewahan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Ia memilih akuntansi, bidang yang sejak dulu menarik hatinya. Ketika masih di Korea Utara, ia sudah jatuh cinta pada angka dan pembukuan, tetapi sistem tidak pernah mengizinkannya mempelajari itu.
Di depan angka-angka, latar belakang keluarga tidak berarti apa-apa. Buku besar tidak peduli apakah Anda anak seorang pembelot atau bukan. Kenyataan sederhana ini menjadi penghiburan yang sangat ia syukuri.
Tetapi ada paradoks yang mulai ia rasakan. Semakin ia menikmati kebebasan dan pendidikannya, semakin ia teringat pada orang-orang yang masih terjebak di Korea Utara. Kebahagiaannya sendiri perlahan terasa seperti keegoisan. Bagaimana mungkin ia bisa hidup nyaman sementara teman-teman dan keluarganya masih menderita di tempat yang sama yang dulu menindasnya?
Pertanyaan itu terus menghantuinya. Ia berjanji pada dirinya sendiri, kalau suatu saat ada yang bertanya apa yang sudah ia lakukan untuk mereka yang tertinggal, ia ingin bisa menjawab bahwa ia sudah berusaha sekeras yang ia bisa. Usahanya harus sebanding dengan besarnya cintanya pada mereka. Dari sinilah ia mulai terjun ke dunia advokasi hak asasi manusia.
Yoonseo mulai bekerja dengan berbagai lembaga pemerintah dan organisasi non-pemerintah. Ia berbicara di berbagai forum internasional. Ia menyuarakan nama-nama warga Korea Utara yang tidak bisa berbicara sendiri. Dalam proses itu, ia bertemu dengan banyak orang asing yang menghabiskan waktu, tenaga, dan pikiran mereka untuk memperjuangkan nasib orang-orang yang tidak akan pernah mereka temui secara langsung.
Tidak ada yang mewajibkan mereka melakukan itu. Mereka tidak dibayar mahal. Mereka tidak mencari ketenaran. Mereka hanya percaya bahwa setiap manusia berhak hidup bebas dan bermartabat. Melihat dedikasi orang-orang ini, Yoonseo semakin merasa bahwa bagi dirinya, pekerjaan ini bukanlah pilihan. Ini adalah kewajiban moral yang tidak bisa ditawar.
Saat ini Yoonseo menjalani dua peran sekaligus. Ia terus belajar akuntansi dan akan mempraktikkannya secara profesional. Pada saat yang sama, ia melanjutkan pekerjaannya sebagai pembela hak asasi manusia. Baginya, dua aktivitas ini adalah dua sisi dari mata uang yang sama. Hidup dengan baik dan melakukan apa yang ia sukai adalah bentuk cintanya pada diri sendiri. Bekerja untuk membela warga Korea Utara adalah bentuk cintanya pada orang-orang yang membesarkan dan mencintainya.
Dulu, neneknya mengajarkan bahwa cinta sering kali muncul dalam bentuk yang tidak langsung terlihat seperti cinta. Diam dan tunduk sang nenek, yang waktu itu ia anggap sebagai kebodohan, ternyata adalah pelindung yang paling ampuh. Sekarang Yoonseo mengerti. Cinta neneknya tidak diungkapkan dengan kata-kata manis atau pelukan hangat, melainkan dengan kewaspadaan dan pengorbanan tanpa suara.
Yoonseo menulis kisah hidupnya bukan untuk menggurui atau mencari belas kasihan. Ia hanya ingin menyampaikan satu pesan sederhana kepada siapa pun yang membaca ceritanya. Anda yang lahir di negara bebas tidak perlu kehilangan keluarga, kampung halaman, dan teman hanya untuk bisa hidup merdeka. Anda tidak perlu membawa kerinduan yang akan terasa sakit seumur hidup. Anda tidak perlu terbangun dari mimpi buruk dikejar-kejar tentara.
Di luar sana, saat ini juga, ada banyak orang yang sedang mempertaruhkan segalanya demi mendapatkan kehidupan biasa yang mungkin terasa membosankan bagi Anda. Hari Senin yang melelahkan, rutinitas yang menjemukan, kemacetan di jalan, itu semua adalah kemewahan yang tidak bisa dibeli oleh warga Korea Utara.
Orang sering berkata bahwa kebebasan tidak gratis. Kalimat itu terdengar klise, tetapi Yoonseo tahu persis bobotnya karena ia sudah membayar harga yang sangat mahal. Ia kehilangan tanah kelahirannya. Ia kehilangan kesempatan untuk melihat neneknya lagi. Ia kehilangan seluruh masa lalunya. Namun di tengah semua kehilangan itu, ia tetap menyimpan doa. Ia berharap suatu hari nanti, teman-temannya di Korea Utara bisa merasakan kebebasan tanpa harus membayar apa pun. Kebebasan yang datang dengan wajah biasa-biasa saja, seperti hari Sabtu yang tenang tanpa ancaman.
(Wy/Red)