Konservatif Iran Turun ke Jalan, Tolak Kesepakatan dengan AS dan Kritik Pembukaan Selat Hormuz
TEHERAN -- Gelombang penolakan terhadap proses negosiasi antara Iran dan Amerika Serikat mulai terlihat di sejumlah kota besar Iran. Kelompok-kelompok konservatif dan garis keras turun ke jalan untuk menyuarakan ketidaksetujuan mereka terhadap kesepakatan yang tengah dirundingkan Teheran dan Washington, di tengah meningkatnya spekulasi mengenai arah baru hubungan kedua negara.
Aksi protes berlangsung di Teheran dan Mashhad dengan melibatkan massa yang menilai pemerintah Iran terlalu jauh memberikan konsesi dalam proses diplomasi yang sedang berjalan. Para demonstran secara terbuka mengkritik tim negosiasi Iran serta sejumlah pejabat tinggi negara yang terlibat dalam perundingan tersebut.
Pada Senin (15/6/2026), laporan sejumlah media Timur Tengah menyebutkan bahwa aksi di Teheran digelar di salah satu alun-alun utama ibu kota. Massa meneriakkan berbagai slogan yang ditujukan kepada Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dan Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf.
Dalam aksi tersebut, para peserta menuding sejumlah pejabat telah mengabaikan kepentingan nasional Iran demi mencapai kesepakatan dengan Amerika Serikat. Mereka juga menyinggung pengorbanan para tokoh dan pemimpin Iran selama konflik berlangsung, yang menurut mereka tidak boleh diabaikan dalam proses negosiasi.
Suasana serupa terjadi di Kota Mashhad, wilayah timur Iran. Demonstrasi digelar di depan kantor Kementerian Luar Negeri dengan tuntutan agar pemerintah menghentikan pendekatan diplomatik yang dinilai terlalu lunak terhadap Washington.
Laporan yang beredar di media sosial turut menunjukkan adanya perdebatan sengit antara kelompok pendukung dan penentang kesepakatan di beberapa lokasi. Ketegangan tersebut menggambarkan perbedaan pandangan yang semakin tajam di dalam negeri mengenai arah kebijakan luar negeri Iran.
Menurut laporan surat kabar berbahasa Arab berbasis di Qatar, Al-Araby Al-Jadeed, mayoritas tokoh politik, aktivis, hingga anggota parlemen yang secara terbuka menolak kesepakatan berasal dari kubu konservatif. Banyak di antaranya memiliki kedekatan dengan Saeed Jalili, mantan Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran yang selama ini dikenal sebagai salah satu figur utama kelompok garis keras.
Penolakan juga datang dari media konservatif Iran. Pemimpin redaksi harian Kayhan, Hossein Shariatmadari, mempertanyakan sejumlah poin dalam kerangka kesepakatan yang sedang dibahas, terutama terkait rencana pembukaan kembali Selat Hormuz.
Dalam sebuah editorial yang ditujukan kepada Ghalibaf dan Araghchi, Shariatmadari mempertanyakan alasan pemerintah bersedia melepaskan salah satu instrumen tekanan strategis yang selama ini dimiliki Iran terhadap negara-negara lawan.
Menurutnya, pembukaan kembali Selat Hormuz berpotensi mengurangi daya tawar Teheran dalam memperjuangkan kompensasi atas berbagai kerugian yang dialami Iran selama periode konflik. Ia menilai tuntutan kompensasi merupakan salah satu agenda penting yang selama ini menjadi bagian dari sikap resmi kepemimpinan Iran.
Meningkatnya kritik dari kelompok konservatif menunjukkan bahwa proses negosiasi dengan Amerika Serikat tidak hanya menghadapi tantangan di meja diplomasi internasional, tetapi juga di dalam negeri. Perdebatan mengenai manfaat dan risiko kesepakatan tersebut diperkirakan akan terus menghangat seiring mendekatnya penyelesaian final dokumen yang tengah dirundingkan kedua negara.
(Wy/Red)