Warkop Jurnalis Samosir Desak Polisi Usut Tuntas Kematian Pelajar di Huta Ginjang

Warkop Jurnalis Samosir Desak Polisi Usut Tuntas Kematian Pelajar di Huta Ginjang

SAMOSIR – Perkumpulan Warkop Jurnalis Samosir mendesak pihak Kepolisian Samosiruntuk mengusut tuntas motif kematian seorang pelajar remaja yang ditemukan meninggal dunia di Desa Huta Ginjang, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir, pada Senin, 30 Maret 2026 lalu. Kasus ini sebelumnya diduga sebagai bunuh diri, namun dinilai masih menyisakan sejumlah kejanggalan.

Desakan tersebut disampaikan oleh anggota Warkop Jurnalis Samosir, pada Sabtu (4/4/2026). Mereka menilai informasi yang beredar di tengah masyarakat hingga kini masih simpang siur, terutama terkait keterangan dari pihak keluarga korban.

“Beda orang yang datang, beda pula pernyataan orang tuanya. Ini membuat informasi yang beredar menjadi tidak konsisten, bahkan saling bertolak belakang,” ujar beberapa wartawan.

Menurut mereka, kondisi ini menimbulkan tanda tanya besar di tengah masyarakat. Oleh karena itu, ia meminta pihak Polres Samosir untuk melakukan penyelidikan secara menyeluruh guna memastikan penyebab pasti kematian korban.

Menurut wartawan yang bergabung dalam komunitas itu, hal ini perlu diusut tuntas, karena tidak mungkin seorang pelajar yang masih sangat muda mengakhiri hidupnya tanpa sebab yang jelas.

Mereka ingin polisi memberikan atensi, karena kejelasan motif sangat penting agar tidak terjadi kesimpangsiuran informasi di masyarakat yang dapat memicu spekulasi liar.

Selain itu, pihak warkop juga mengaku menemukan sejumlah hal yang dinilai janggal setelah menelusuri informasi dari berbagai narasumber termasuk dari lingkungan sekolah korban.

“Kami menemukan beberapa informasi yang tidak lazim dialami oleh seorang remaja seusianya."

Kemudian ibu korban disebut-sebut pernah datang ke sekolah yang berjarak cukup jauh hanya untuk mengambil telepon genggam milik anaknya yang membuat anaknya malu didepan teman sekelasnya. Di sisi lain, korban juga disebut hampir tiap hari pulang berjalan kaki dari sekolah meskipun jaraknya cukup jauh. Kalau memang memiliki cukup uang, seharusnya tidak perlu berjalan kaki sejauh itu.

"HP korban hingga kini masih dipegang keluarga, dan masih terkunci. Sebaiknya HP itu diselidiki, untuk melihat jejak digital didalamnya. Mungkin saja ada bukti petunjuk disana."

Saat penelusuran informasi yanh dilakukan anggota warkop, keterangan warga sekitar termasuk Kepala Desa Huta Ginjang juga turut menjadi sorotan. Beberapa warga mengaku orang tua korban kerap terlibat pertengkaran di rumah dan menunjukkan perilaku yang dianggap tidak wajar. Namun, hal tersebut dibantah oleh pihak keluarga saat diwawancarai.

Tak hanya itu, kejanggalan juga muncul dari kondisi saat korban ditemukan. Korban disebut ditemukan pada pukul 5 pagi dalam keadaan tergantung di kamar mandi menggunakan tali rafia, namun posisi kakinya masih menyentuh lantai.

Wartawan mempertanyakan, apakah tali rafia mampu menahan beban tubuh? Lalu jika benar gantung diri, mengapa posisi kaki masih menyentuh lantai? Selain itu, tidak ada saksi lain yang melihat langsung kejadian tersebut selain orang tua dan adik korban.

Atas berbagai kejanggalan tersebut, Warkop Jurnalis Samosir berharap aparat kepolisian tidak tinggal diam dan segera mengungkap fakta sebenarnya di balik kematian pelajar tersebut.

“Bila diperlukan, kami dari Warkop Jurnalis Samosir siap membantu memberikan informasi tambahan demi mengungkap kebenaran."(Jst)



Sumber Berita: Anggota Warkop Jurnalis Samosir