CIMAHI - Senin pagi, 8 Juni 2026, suasana di SD Santo Yusup Cimahi terasa sedikit berbeda dibanding hari-hari sekolah biasanya.
Baca juga: Universitas BTH Siapkan Langkah StrategisBeberapa peserta didik datang sambil membawa perlengkapan untuk ujian praktik Seni Budaya dan Prakarya (SBdP). Sebagian membawa hasil karya yang telah mereka persiapkan sebelumnya. Sebagian lainnya tampak sibuk merapikan kostum untuk penampilan tari tradisional yang akan menjadi bagian dari penilaian hari itu.
Baca juga: Universitas BTH Siapkan Langkah StrategisPercakapan kecil terdengar di berbagai sudut sekolah. Tawa sesekali pecah di antara kelompok peserta didik yang berkumpul bersama teman-temannya. Tidak tampak ketegangan berlebihan sebagaimana yang sering melekat pada suasana ujian.
Baca juga: Disdik Jabar Peringati Hardiknas 2026, Tekankan Pendidikan Bermutu untuk SemuaMungkin karena mereka mengetahui satu hal.
Baca juga: Prodi Farmasi dan Profesi Apoteker Raih Akreditasi Unggul, Kualitas Pendidikan Kampus UBTH Naik LevelHari itu adalah hari terakhir rangkaian Asesmen Sumatif Akhir Tahun (ASAT) Tahun Pelajaran 2025–2026.Setelah hampir sepekan menjalani berbagai mata pelajaran, mereka hanya perlu menyelesaikan satu tahapan lagi sebelum menutup perjalanan belajar selama satu tahun penuh.Bagi sebagian orang, pemandangan tersebut mungkin terlihat biasa.Namun bagi para orang tua dan guru yang mendampingi proses belajar anak-anak sepanjang tahun, hari itu menyimpan makna yang jauh lebih besar daripada sekadar berakhirnya masa ujian.Karena yang sedang diakhiri bukan hanya rangkaian asesmen.Yang sedang dirayakan adalah perjalanan belajar.Perjalanan yang dimulai berbulan-bulan sebelumnya ketika para peserta didik memasuki kelas dengan tantangan, pengalaman, dan target pembelajaran yang baru. Dalam rentang waktu itulah mereka belajar membaca lebih lancar, memahami pelajaran yang semakin kompleks, membangun pertemanan, menyelesaikan konflik kecil, bekerja sama dalam kelompok, hingga menemukan keberanian untuk tampil di depan kelas.Ketika rapor dibagikan beberapa waktu mendatang, banyak orang tua tentu akan melihat angka-angka yang tertera pada setiap mata pelajaran. Nilai memang menjadi salah satu indikator capaian belajar yang penting.Namun para pendidik memahami bahwa ada banyak hal yang sesungguhnya tidak pernah sepenuhnya tercermin dalam angka.Ada anak yang pada awal tahun pelajaran masih malu berbicara di depan kelas, lalu perlahan mulai berani menyampaikan pendapat.Ada anak yang dahulu sulit bekerja sama dengan teman-temannya, kemudian belajar mendengarkan dan menghargai perbedaan.Ada pula peserta didik yang membutuhkan waktu lebih panjang untuk memahami pelajaran tertentu, tetapi tidak pernah kehilangan semangat untuk terus mencoba.Pertumbuhan seperti itulah yang sering kali tidak dapat diterjemahkan ke dalam nilai rapor.Padahal berbagai penelitian pendidikan internasional menunjukkan bahwa keberhasilan seseorang di masa depan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan akademik. Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) maupun UNESCO dalam berbagai kajian pendidikan menempatkan kemampuan berkolaborasi, kreativitas, komunikasi, ketahanan menghadapi tantangan, dan rasa percaya diri sebagai kompetensi penting yang perlu dikembangkan sejak usia sekolah.Karena itu, semakin banyak sekolah yang mulai memandang asesmen bukan hanya sebagai alat untuk menghasilkan angka, tetapi juga sebagai sarana memahami perkembangan peserta didik secara lebih utuh.Di sela-sela mengawasi pelaksanaan ujian praktik, Ibu Kepala SD Santo Yusup Cimahi, Hedvigis Retno Astanti, S.Pd., menjelaskan bahwa Asesmen Sumatif Akhir Tahun merupakan instrumen untuk mengukur capaian pembelajaran peserta didik selama satu tahun pelajaran.Menurut beliau, asesmen bukan sekadar rutinitas untuk mengisi rapor ataupun memenuhi kebutuhan administrasi sekolah."Asesmen Sumatif Akhir Tahun menjadi instrumen untuk mengukur capaian pembelajaran murid di akhir masa pendidikannya selama satu tahun. Kegiatan ini tidak hanya sebagai rutinitas untuk mengisi rapor atau sebagai beban tanggung jawab administrasi guru, tetapi sebagai alat ukur sejauh mana murid menguasai materi secara akademik, dan juga sebagai bentuk tanggung jawab sekolah kepada masyarakat dalam bentuk laporan resmi bahwa proses belajar mengajar telah dituntaskan," ujarnya.Beliau menjelaskan bahwa nilai ASAT nantinya tidak berdiri sendiri. Hasil asesmen tersebut akan diolah bersama berbagai penilaian sumatif lainnya serta penilaian formatif yang telah dilakukan sepanjang tahun.Dengan demikian, perkembangan peserta didik tidak ditentukan hanya oleh satu hari ujian.Proses belajar yang berlangsung setiap hari tetap menjadi bagian paling penting dalam penilaian.Rangkaian ASAT sendiri dimulai pada Selasa, 2 Juni 2026, dengan mata pelajaran Pendidikan Agama dan Pendidikan Pancasila. Pada Rabu, 3 Juni 2026, peserta didik mengikuti asesmen Bahasa Indonesia dan IPAS. Kamis, 4 Juni 2026, mereka mengerjakan Matematika dan Bahasa Sunda. Kemudian pada Jumat, 5 Juni 2026, asesmen dilanjutkan dengan Bahasa Inggris dan Kedom.Seluruh rangkaian ditutup pada Senin, 8 Juni 2026, melalui ujian praktik SBdP.Sekilas, jadwal tersebut tampak seperti agenda ujian sekolah pada umumnya.Namun jika dicermati lebih dalam, tersimpan pesan pendidikan yang cukup kuat.Sekolah tidak hanya memberikan perhatian pada mata pelajaran akademik. Pendidikan Agama, Pendidikan Pancasila, Kedom, hingga praktik seni menunjukkan bahwa pembentukan karakter, kreativitas, budaya, dan keterampilan sosial juga memperoleh perhatian yang sama pentingnya.Pendekatan tersebut sejalan dengan arah pendidikan Indonesia yang semakin menekankan pembelajaran yang holistik dan pengembangan kompetensi secara menyeluruh.Di ruang kelas 1, suasana ujian praktik menghadirkan pemandangan yang menarik. Anak-anak tampak antusias mengikuti praktik melukis dengan memanfaatkan bahan-bahan sederhana yang ada di sekitar mereka. Daun-daun menjadi salah satu media yang digunakan untuk menghasilkan karya seni.Bagi Ibu Tina Rostina, S.Pd.SD., Wali Kelas 1 SD Santo Yusup Cimahi, kegiatan tersebut bukan sekadar tugas praktik yang harus diselesaikan peserta didik.Menurut beliau, kegiatan tersebut menjadi kesempatan bagi anak-anak untuk belajar bahwa kreativitas dapat tumbuh dari lingkungan sekitar."Harapannya anak-anak berkreasi dengan bahan-bahan yang ada di sekitar, terutama daun-daun, untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat dan sesuatu yang indah bagi para peserta didik. Untuk menciptakan hasil karya seni, kita tidak perlu memikirkan hal-hal yang sangat dahsyat. Kita mulai saja dari lingkungan sekitar peserta didik," tuturnya.Di balik karya-karya sederhana yang dihasilkan anak-anak, tersimpan proses belajar yang penting. Mereka diajak mengamati lingkungan, mengembangkan imajinasi, serta berani menuangkan gagasan dalam bentuk karya.Ibu Tina juga berharap peserta didik yang akan melanjutkan ke kelas 2 dapat semakin berkembang dalam hal kedisiplinan, tanggung jawab, dan semangat belajar."Pesan saya untuk para peserta didik yang nanti akan naik kelas, semoga karakternya lebih disiplin lagi, lebih semangat lagi, dan lebih bertanggung jawab."Beliau juga mendorong anak-anak untuk memanfaatkan teknologi secara positif dalam mendukung pembelajaran, terutama ketika berada di rumah. Hal tersebut sejalan dengan upaya sekolah yang terus mengembangkan pembelajaran berbasis teknologi melalui konsep Smart Cyber School.Sementara itu, di ruang praktik kelas 2, suasana tidak kalah meriah. Peserta didik bersiap menampilkan tarian tradisional Indonesia yang telah mereka latih sebelumnya.Beberapa anak mengenakan kostum yang dipersiapkan bersama orang tua mereka. Menariknya, sebagian kostum dibuat dari bahan-bahan daur ulang, termasuk kardus yang diolah menjadi atribut pertunjukan.Bagi Ibu Karisma Tangke Tondok, S.Pd.SD., Wali Kelas 2 SD Santo Yusup Cimahi, keterlibatan keluarga menjadi salah satu hal yang paling membahagiakan dalam pelaksanaan ujian praktik tersebut."Ada yang dibuat dari barang bekas seperti kardus. Sungguh luar biasa dukungan dari para orang tua peserta didik," ujarnya.Menurut beliau, penilaian tidak hanya berfokus pada ketepatan gerakan tari. Kreativitas kostum, ekspresi, keberanian tampil, kemampuan bekerja sama, serta kesesuaian gerakan dengan iringan musik juga menjadi bagian penting dalam penilaian."Dari visi misi SD Santo Yusup dapat dilihat dari kerja sama antar peserta didik, ekspresi, dan talenta yang mereka miliki."Melalui kegiatan tersebut, anak-anak tidak hanya belajar mengenal kekayaan budaya Indonesia. Mereka juga belajar berani tampil di depan umum, menghargai proses latihan, bekerja sama dengan teman, dan membangun rasa percaya diri.Ibu Karisma berharap peserta didik yang akan naik ke kelas berikutnya dapat terus mengembangkan kedisiplinan, kemampuan berkolaborasi, semangat belajar, serta karakter positif yang telah mulai tumbuh selama tahun pelajaran ini.Ada satu fakta menarik yang mungkin belum banyak diketahui generasi muda saat ini.SD Santo Yusup Cimahi berdiri pada tahun 1947.Artinya, sekolah tersebut lahir hanya dua tahun setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya.Ketika generasi pertama belajar di sekolah ini, kondisi Indonesia tentu sangat berbeda dibanding saat ini. Belum ada internet, telepon pintar, maupun teknologi kecerdasan buatan yang kini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.Namun hampir delapan dekade kemudian, sekolah yang sama terus berupaya beradaptasi dengan perkembangan zaman.Di bawah naungan Yayasan Santo Dominikus Cimahi, SD Santo Yusup mengembangkan konsep Smart Cyber School In Veritas, sebuah pendekatan yang berupaya memadukan nilai-nilai pendidikan karakter dengan pemanfaatan teknologi modern.Dalam konsep tersebut terdapat satu kata yang memiliki makna mendalam, yakni Veritas, yang dalam tradisi Dominikan berarti kebenaran.Nilai tersebut menjadi semakin relevan di tengah era digital ketika anak-anak hidup dalam arus informasi yang begitu besar. Mereka tidak hanya perlu belajar mencari informasi, tetapi juga belajar membedakan mana informasi yang benar dan mana yang tidak.Pada akhirnya, pertanyaan terbesar banyak orang tua sering kali bukan tentang berapa nilai Matematika atau Bahasa Indonesia yang diperoleh anak mereka.Yang lebih ingin diketahui adalah hal-hal yang jauh lebih mendasar.Apakah anak saya bertumbuh?Apakah ia menjadi lebih percaya diri?Apakah ia lebih bertanggung jawab dibanding tahun lalu?Apakah ia belajar menghargai orang lain?Apakah ia berani mencoba hal-hal baru?Pertanyaan-pertanyaan itulah yang sesungguhnya menjadi inti dari pendidikan.Karena pendidikan bukan hanya tentang apa yang diketahui seorang anak.Pendidikan adalah tentang pribadi seperti apa yang sedang dibentuk setiap hari.Menjelang siang pada Senin, 8 Juni 2026, aktivitas ASAT perlahan berakhir. Peserta didik mulai meninggalkan ruang praktik sambil membawa hasil karya, pengalaman baru, dan cerita yang akan mereka bagikan kepada keluarga di rumah.Di ruang guru, para pendidik mulai memasuki tahap berikutnya, yakni mengolah hasil asesmen yang nantinya akan dipadukan dengan berbagai penilaian lain sepanjang tahun pelajaran.Di atas kertas, rangkaian ASAT memang telah selesai.Namun perjalanan pendidikan tidak pernah berhenti pada hari ujian.Ia terus hidup di ruang kelas, di rumah, di lingkungan pergaulan, dan dalam berbagai pengalaman yang perlahan membentuk karakter anak-anak.Ketika bel sekolah berbunyi siang itu, yang berakhir bukan hanya rangkaian asesmen.Yang sedang diteruskan adalah perjalanan pendidikan yang telah berlangsung sejak tahun 1947.Perjalanan yang hingga hari ini tetap menjaga tujuan yang sama: membantu setiap peserta didik menemukan potensinya, bertumbuh dalam kebenaran, mengembangkan karakter yang baik, serta melangkah menuju masa depan dengan pengetahuan, kepercayaan diri, dan nilai-nilai kehidupan yang akan mereka bawa sepanjang hidup. (Wahyu Stg)
Bagikan: