SIMALUNGUN --- Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Simalungun terus bergerak tegas dan terencana menanggulangi stunting demi masa depan generasi bangsa. Selasa (12/5/2026), Rakor Percepatan Pelaksanaan dan Pelaporan Aksi Konvergensi Penanganan Stunting 2026 digelar di Kantor Bapperida, menjadi tonggak penyatuan langkah seluruh pemangku kepentingan.
Baca juga: Wali Kota Wesly Hadiri Pembukaan Musda KNPI, Sebut Pematangsiantar Butuh Generasi Kreatif, Inovatif, Berintegritas, serta Miliki Semangat Kolaborasi Kegiatan dibuka Sekretaris Bapperida, Lina Oletta Damanik, mewakili Bupati Dr. H. Anton Achmad Saragih. Dalam sambutannya, Bupati menegaskan stunting adalah masalah mendasar akibat kekurangan gizi kronis pada 1000 hari pertama kehidupan, yang berisiko menurunkan kualitas kesehatan dan kecerdasan anak di masa depan.
Baca juga: Wali Kota Wesly Wisuda 65 Lansia, Lulusan Sekolah Lansia Mandiri Pematangsiantar Penanganan harus berjalan konvergensi, holistik, dan tepat sasaran melalui lima aksi utama: analisis situasi, penyusunan rencana, penguatan pelaksanaan, evaluasi hasil, dan perumusan kebijakan.Bupati mengarahkan Tim Satgas dan petugas pelapor agar bekerja lebih maksimal, tertib, dan inovatif, serta memastikan program masuk dalam dokumen perencanaan desa.
Baca juga: Bertemu Wali Kota Wesly, Pimpinan IPK dan PP Sepakat Jaga Kondusivitas, Dukung Pemerintahan, dan Tingkatkan Toleransi di PematangsiantarHotdiaman Saragih melaporkan, rakor bertujuan memperkuat komitmen, menyelaraskan peran, merumuskan perbaikan, dan menjamin ketepatan pelaporan di sistem Bangda.
Baca juga: Gubsu Bantu Bibit Jagung 40 Hektare, Bupati Vandiko Turun Lapangan Tanam Benih Bersama PetaniOber Damanik (Bapperida) sebagai narasumber dalam rakor tersebut menegaskan aksi nyata harus terlihat pada triwulan I 2026 menjelang evaluasi provinsi bulan Juli, dan meminta Dinas Kesehatan memantau ketat pelaporan puskesmas.Sementara itu, Yeli F. Purba (Dinas Kesehatan) menyampaikan penanganan berjalan baik, namun pihaknya masih mengalami berbagai kendala di lapangan. Kendala riil meliputi keterbatasan insentif kader, peralatan ukur rusak di 1.333 Posyandu, rendahnya partisipasi masyarakat, dan kesulitan penyaluran makanan tambahan ke sasaran langunsungSeluruh masukan ini menjadi dasar perumusan strategi lebih matang. Dengan kebersamaan dan kebijaksanaan, Simalungun bertekad mewujudkan wilayah bebas stunting dan melahirkan generasi sehat, cerdas, serta tangguh di masa depan.(Harianto Girsang)
Bagikan: