Tumpan Sadari, Rumah Pertama Raja Tinita Sitanggang yang Dibangun Hanya Sehari
Samosir -- Di Desa Huta Tinggi, Kecamatan Pangururan, Kabupaten Samosir, tersimpan sebuah jejak sejarah yang hingga kini masih hidup dalam cerita turun-temurun masyarakat. Tempat itu dikenal sebagai Huta Sitanggang Bau, lokasi berdirinya rumah pertama Raja Tinita Sitanggang yang diyakini dibangun hanya dalam waktu satu hari. Karena itulah rumah tersebut dikenal dengan sebutan Jabu Tumpan Sadari.
Raja Tinita Sitanggang merupakan putra bungsu Raja Panukkunan. Menurut kisah para leluhur, Raja Tinita memiliki kesaktian luar biasa sehingga mampu mendirikan sebuah rumah adat hanya dalam sehari. Peristiwa itulah yang kemudian melahirkan nama Tumpan Sadari, yang hingga kini tetap dikenang sebagai bagian dari sejarah keturunan Sitanggang.
Kampung yang dibangun Raja Tinita berada di lokasi yang sangat strategis, diapit dua jurang panjang di sisi barat dan timur. Demi keamanan, perkampungan tersebut dikelilingi benteng tanah atau parit ni huta serta ditanami rumpun-rumpun bambu sebagai pagar alami. Tata letak ini menunjukkan bagaimana masyarakat Batak pada masa lampau membangun perkampungan yang kokoh dan mudah dipertahankan.
Secara fisik, rumah pertama Raja Tinita memang sudah tidak ada lagi. Usianya yang diperkirakan telah mencapai lebih dari tiga hingga empat abad membuat bangunan tersebut hancur dimakan waktu. Namun, untuk mengenang keberadaan kampung leluhur itu, keturunannya kemudian membangun kembali sebuah Rumah Batak di lokasi yang sama, walau saat ini sudah tidak dihuni lagi.
Di kawasan Huta Sitanggang Bau itu juga masih ditemukan losung, tempat menumbuk padi yang menjadi bukti kehidupan masyarakat pada masa lampau. Tak jauh dari lokasi tersebut terdapat sebuah mata air yang dikenal sebagai Mual Sitanggang Bau. Airnya tetap jernih, segar, dan menurut warga setempat tidak pernah mengering, bahkan ketika musim kemarau panjang melanda.
Raja Tinita Sitanggang diketahui memiliki tiga orang putra. Putra sulungnya, Mangiring Raja, tetap menetap di Desa Huta Tinggi. Putra kedua, Raja Hobaon, bermukim di kawasan Salaon. Sementara putra ketiga, Raja Niapul, bermukim di Kenegerian Buhit. Dari ketiga garis keturunan inilah keturunan Raja Tinita berkembang hingga ke berbagai daerah.
Kini, Huta Tumpan Sadari Sitanggang Bau telah lama tidak berpenghuni. Semak belukar mulai menutupi bekas perkampungan yang dahulu menjadi pusat kehidupan keturunan Raja Tinita. Jika tidak segera dipugar, ditata, dan dilestarikan, bukan tidak mungkin jejak sejarah yang begitu berharga ini akan hilang ditelan zaman.
Warisan leluhur bukan sekadar cerita, melainkan identitas yang harus dijaga. Melestarikan Huta Sitanggang Bau berarti menjaga sejarah, menghormati para pendahulu, dan mewariskan nilai-nilai budaya kepada generasi yang akan datang agar mereka tetap mengenal asal-usulnya.(Jst)