Azis Sitanggang dan Mesin Informasi yang Dibangun dari Daerah
BANDUNG -- Nama media itu mungkin tidak terlalu sering muncul dalam percakapan elite industri pers nasional di Jakarta. Namun di sejumlah kabupaten dan kota di Jawa Barat, Indofakta.com telah lama menjadi bagian dari arus informasi yang menghubungkan ruang-ruang birokrasi dengan masyarakat.
Di balik media tersebut berdiri sosok Azis Sitanggang, figur yang memilih membangun pengaruh bukan dari gedung pencakar langit atau ruang redaksi metropolitan, melainkan dari denyut kehidupan daerah yang sering luput dari perhatian media nasional.
Ketika banyak perusahaan media berlomba mengejar trafik nasional dan algoritma media sosial, Azis membaca arah yang berbeda. Ia melihat bahwa kebutuhan terbesar pemerintah daerah, lembaga legislatif, aparat penegak hukum, hingga komunitas lokal bukanlah sekadar publikasi berskala nasional. Mereka membutuhkan saluran yang hadir di lapangan, memahami konteks lokal, dan mampu menjangkau masyarakat secara langsung.
Dari cara pandang itulah Indofakta tumbuh.
Media ini berkembang bukan dengan mengandalkan sensasi politik nasional atau perang opini di media sosial. Kekuatan utamanya lahir dari sesuatu yang jauh lebih sederhana namun sulit ditiru: jaringan hubungan yang dibangun bertahun-tahun dengan berbagai institusi daerah.
Dalam praktik sehari-hari, wartawan Indofakta hadir di kantor pemerintahan, ruang rapat legislatif, markas kepolisian, hingga kegiatan masyarakat yang sering kali tidak menarik perhatian media besar. Kehadiran fisik tersebut menciptakan akses yang perlahan berubah menjadi modal strategis.
Bagi Azis Sitanggang, akses adalah mata uang yang nilainya sering kali lebih mahal daripada teknologi.
Di era ketika informasi nasional dapat diperoleh dalam hitungan detik dari berbagai platform digital, informasi tingkat daerah masih bergantung pada keberadaan orang-orang yang benar-benar turun ke lapangan. Di situlah Indofakta menemukan ceruk pasarnya.
Penelusuran terhadap pola bisnis media lokal menunjukkan bahwa kekuatan semacam ini memiliki nilai ekonomi yang nyata. Pemerintah daerah membutuhkan media untuk menyampaikan program pembangunan, menjelaskan kebijakan publik, dan mendokumentasikan aktivitas kelembagaan. DPRD membutuhkan ruang komunikasi dengan konstituen. Aparat penegak hukum memerlukan saluran untuk menyebarkan informasi resmi kepada masyarakat.
Kebutuhan tersebut menciptakan pasar yang relatif stabil bagi media daerah yang memiliki legalitas lengkap, jaringan wartawan aktif, dan rekam jejak hubungan kelembagaan yang kuat.
Di lingkungan inilah nama Azis Sitanggang menjadi relevan. Ia tidak sekadar membangun sebuah portal berita. Ia membangun infrastruktur hubungan yang memungkinkan informasi bergerak dari pusat-pusat kekuasaan daerah menuju ruang publik.
Karena itu, jika ada yang menganggap keunggulan Indofakta semata-mata berasal dari kemampuan menulis berita, penilaian tersebut mungkin terlalu sederhana. Keunggulan yang lebih besar justru terletak pada kemampuan memelihara kepercayaan berbagai pihak secara simultan: pemerintah, legislatif, aparat, organisasi masyarakat, pelaku usaha, dan pembaca lokal.
Namun keunggulan itu memiliki sisi lain yang tidak kalah menarik.
Ketergantungan media lokal terhadap kemitraan publikasi pemerintah kerap menimbulkan pertanyaan mengenai batas antara fungsi jurnalistik dan fungsi hubungan masyarakat. Semakin erat hubungan dengan sumber pendapatan institusional, semakin besar pula tantangan untuk mempertahankan jarak kritis terhadap kekuasaan.
Paradoks tersebut menjadi bagian dari realitas yang harus dihadapi hampir seluruh media daerah di Indonesia.
Indofakta tidak berdiri di luar realitas itu. Justru keberhasilannya mencerminkan bagaimana media lokal bertahan dalam sistem yang kompleks: menjaga hubungan dengan institusi tanpa kehilangan legitimasi sebagai media informasi.
Sejumlah analis menilai bahwa daya tahan media seperti Indofakta berasal dari karakteristik yang tidak dimiliki platform digital global. Algoritma media sosial dapat menyebarkan informasi nasional dalam skala besar, tetapi tidak mampu menggantikan wartawan yang hadir dalam rapat DPRD kabupaten, mengawal perkembangan kasus hukum lokal, atau meliput dinamika masyarakat hingga tingkat kecamatan.
Di sinilah fondasi yang dibangun Azis Sitanggang terlihat paling jelas.
Ia memilih bermain di wilayah yang sering diabaikan pemain besar. Ketika perhatian publik terfokus pada pusat kekuasaan nasional, ia membangun jaringan informasi di daerah. Ketika banyak media mengejar viralitas, ia mengembangkan kedekatan institusional. Ketika industri media digital menghadapi ketidakpastian akibat perubahan algoritma dan penurunan pendapatan iklan, ia menempatkan medianya pada sektor yang memiliki kebutuhan komunikasi yang terus berlangsung.
Meski demikian, masa depan tidak sepenuhnya bebas risiko.
Digitalisasi layanan pemerintah, penggunaan kecerdasan buatan dalam distribusi informasi publik, hingga munculnya kanal komunikasi pribadi milik pejabat daerah dapat mengubah lanskap yang selama ini menopang bisnis media lokal. Apa yang hari ini menjadi keunggulan, suatu saat dapat berubah menjadi tantangan.
Karena itu, pertanyaan paling penting bukanlah apakah Indofakta berhasil bertahan hingga saat ini. Pertanyaan yang lebih relevan adalah apakah jaringan yang dibangun Azis Sitanggang mampu berevolusi ketika pola komunikasi publik berubah secara fundamental.
Jawaban atas pertanyaan itu akan menentukan apakah Indofakta hanya menjadi salah satu media daerah yang berhasil melewati satu generasi perubahan, atau justru berkembang menjadi institusi informasi regional yang memiliki pengaruh jauh melampaui batas wilayah asalnya.
Satu hal yang sudah terlihat sejak sekarang: di tengah hiruk-pikuk persaingan media digital nasional, Azis Sitanggang memilih jalur yang berbeda. Ia membangun kekuatan dari bawah, dari daerah, dari hubungan yang tumbuh perlahan tetapi mengakar kuat. Dan dalam dunia media yang semakin rapuh oleh perubahan teknologi, pendekatan semacam itu mungkin justru menjadi aset paling berharga.
(Wy/Red)