6 Aug, 2026

Hukum Percaya Mitos dan Ramalan dalam Islam, Ini Dalilnya

Indofakta.com, 2026-08-06 06:21:08 WIB

Bagikan:

JAKARTA -- Mitos dan ramalan masih menjadi bagian dari kepercayaan sebagian masyarakat Indonesia hingga kini. Tidak sedikit orang yang begitu percaya terhadap ramalan dan mitos tersebut, hingga memengaruhi tindak tanduknya dalam kehidupan sehari-hari. Lantas, bagaimana pandangan Islam mengenai hal tersebut?

Baca juga: SAL yang Terombang-ambing: Ketika Dana Darurat Negara Menjadi Alat Tarik-Ulur Kekuasaan Fiskal

Kamis, 6 Agustus 2026, menjadi pengingat bahwa dalam ajaran Islam, mempercayai ramalan atau mendatangi dukun untuk mengetahui perkara gaib merupakan perbuatan yang dilarang. Sebab, ilmu tentang perkara gaib adalah hak mutlak Allah SWT dan tidak diketahui oleh siapa pun, kecuali kepada orang yang Dia kehendaki. Larangan tersebut ditegaskan dalam sejumlah hadis Rasulullah SAW.

Baca juga: Di Balik Palu 10 Tahun Nadiem: Ketika Chromebook Menjadi Perkara Negara

Salah satunya adalah hadis yang diriwayatkan Imam Muslim. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam bersabda: "Barang siapa mendatangi seorang tukang tenung lalu bertanya kepadanya tentang sesuatu, maka salatnya tidak diterima selama 40 malam." (HR Muslim)

Baca juga: Amplop di Meja yang Tidak Pernah Mengaku Kosong

Dalam riwayat lain, ancamannya bahkan lebih keras. Rasulullah SAW bersabda: "Barang siapa mendatangi dukun atau tukang ramal lalu membenarkan apa yang diucapkannya, maka sungguh ia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad SAW." (HR Ahmad)

Baca juga: Generasi yang Memilih Tidak Terlihat

Hadis-hadis tersebut menjadi peringatan agar seorang Muslim tidak menjadikan ramalan sebagai pegangan hidup ataupun meyakini adanya manusia yang mengetahui perkara gaib selain atas izin Allah SWT.

Mengapa Islam Melarang Percaya Ramalan?

Para ulama menjelaskan bahwa informasi yang disampaikan para dukun atau tukang ramal bukan berasal dari ilmu yang benar, melainkan dari bisikan setan yang kemudian dicampur dengan berbagai kebohongan. Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa banyak hadis sahih yang melarang mendatangi dukun dan tukang ramal karena hubungan mereka dengan setan.

Rasulullah SAW bersabda: "Itu adalah sesuatu yang didengar oleh jin, kemudian dibisikkan kepada para walinya, lalu mereka mencampurnya dengan seratus kebohongan." (HR Al-Bukhari)

Karena itu, meskipun sesekali ada ucapan tukang ramal yang tampak benar, hal tersebut bukanlah bukti bahwa mereka mengetahui perkara gaib, melainkan hasil dari bisikan setan yang kemudian dicampur dengan banyak kedustaan.

Tiga Alasan Ramalan Bertentangan dengan Islam

1. Mengaku Mengetahui Perkara Gaib

Salah satu ciri utama tukang ramal adalah mengaku mampu mengetahui masa depan atau perkara gaib. Padahal Al-Qur'an menegaskan bahwa hanya Allah SWT yang mengetahui segala yang gaib. Allah SWT berfirman:

?????? ????????? ????? ???????? ????? ????????? ???????

'Aalimul ghaibi falaa yuzhiru alaa ghaibihiii ahadaa

Artinya: "Dia mengetahui yang gaib, tetapi Dia tidak memperlihatkan kepada siapa pun tentang yang gaib itu." (QS Al-Jin: 26)

Ayat ini menjadi dalil bahwa tidak ada manusia yang mengetahui perkara gaib secara mandiri, kecuali jika Allah memberikan wahyu kepada para rasul yang dipilih-Nya.

2. Mengajak Manusia Bergantung kepada Selain Allah

Praktik perdukunan dan ramalan pada hakikatnya mengalihkan keyakinan seseorang dari tawakal kepada Allah menuju ketergantungan kepada selain-Nya.

Allah SWT berfirman: "Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu wahai anak cucu Adam agar kamu tidak menyembah setan? Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu." (QS Yasin: 60)

Karena itu, seorang Muslim diperintahkan untuk hanya bergantung kepada Allah dalam menghadapi berbagai persoalan hidup, bukan kepada ramalan, jimat, ataupun praktik perdukunan.

3. Ramalan Dipenuhi Kebohongan

Rasulullah SAW menjelaskan bahwa setan terkadang berhasil mencuri dengar sebagian berita dari langit, kemudian menyampaikannya kepada para dukun. Namun, berita yang sedikit itu dicampur dengan banyak kebohongan sehingga menyesatkan manusia.

Aisyah RA meriwayatkan, Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya para malaikat turun di awan lalu membicarakan perkara yang telah diputuskan di langit. Setan mencuri dengar, kemudian menyampaikannya kepada para dukun. Lalu para dukun menambahkan seratus kedustaan dari diri mereka sendiri." (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menjelaskan bahwa kebenaran yang sesekali terdengar dari seorang tukang ramal hanyalah sebagian kecil yang kemudian dibalut dengan banyak kebohongan untuk menipu manusia.

Muslim Diperintahkan Bertawakal kepada Allah

Islam mengajarkan agar seorang Muslim menghadapi masa depan dengan ikhtiar, doa, dan tawakal kepada Allah SWT, bukan dengan mencari kepastian melalui ramalan atau mitos yang tidak memiliki dasar syariat.

Keberuntungan, musibah, rezeki, jodoh, maupun ajal seluruhnya berada dalam ketetapan Allah SWT. Karena itu, memperkuat iman, memperbanyak ibadah, dan menjauhi praktik perdukunan menjadi jalan terbaik untuk menjaga kemurnian akidah. Wallahu a'lam.

(Wy/Red)

Bagikan:

© 2026 Copyright: Indofakta Online