Remaja China Bohong ke Orang Tua Soal Liburan, Ternyata Diam-diam Jadi Relawan Banjir
JAKARTA -- Wu Yulun baru saja selesai menempuh gaokao, ujian masuk perguruan tinggi nasional di China. Remaja 18 tahun asal Shanghai itu bilang kepada orang tuanya bahwa ia akan berlibur ke Wuxi. Kenyataannya, ia diam-diam berangkat ke daerah bencana.
Bersama teman sekelasnya, Xin Ziyu, Wu menuju Hengzhou di Provinsi Guangxi. Wilayah itu dilanda banjir bandang akibat hujan deras yang dipicu topan. Setidaknya 39 orang tewas. Keduanya bergabung sebagai relawan setelah melihat seruan di media sosial.
Sabtu, 25 Juli 2026, kisah mereka masih viral. Agar orang tua tidak khawatir, Wu menyembunyikan niat sebenarnya. Ia dan temannya menghabiskan uang saku untuk membeli mi instan, lebih dari 250 bungkus pembalut, sosis, dan bubur instan. Paket-paket besar itu disembunyikan di agen pengiriman dekat rumah sebelum mereka berangkat seolah-olah benar-benar liburan.
Perjalanan memakan waktu lebih dari 13 jam. Jarak dari Shanghai ke Hengzhou mencapai sekitar 1.600 hingga 1.700 kilometer. Sesampainya di lokasi, keduanya menyadari tidak memiliki pelatihan penyelamatan. Mereka memilih membantu di pusat distribusi: menyortir, membongkar, dan memindahkan bantuan.
“Kami tidak ingin berperan sebagai pahlawan,” kata Wu.
Selama empat hari mereka bekerja tanpa terlibat di garis depan. Kisah dua remaja yang memilih menipu orang tua demi membantu korban banjir itu cepat menyebar di media sosial China. Di tengah meningkatnya risiko banjir akibat curah hujan ekstrem dan perubahan iklim, aksi diam-diam mereka menjadi pengingat bahwa kepedulian kadang lahir dari kebohongan kecil yang tulus.
(Wy/Red)