Golongan Darah O Disebut Lebih Disukai Nyamuk, Ini Penjelasan Ilmiahnya
BANDUNG -- Fenomena anggapan bahwa golongan darah O lebih sering menjadi target gigitan nyamuk kembali menjadi perhatian di tengah masyarakat. Meski banyak dipercaya sebagai mitos populer, para ahli menyebut terdapat penjelasan ilmiah yang dapat menjelaskan kecenderungan tersebut tanpa menutup risiko bagi golongan darah lainnya.
Dalam penjelasan akademis, Guru Besar Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB) IPB, Upik Kesumawati, merujuk pada penelitian di Jepang pada 2004 yang menunjukkan adanya perbedaan senyawa volatil pada tubuh manusia berdasarkan golongan darah. Dalam temuan tersebut, individu dengan golongan darah O disebut memiliki senyawa volatil lebih banyak dibandingkan golongan darah A.
Senyawa tersebut berkaitan dengan produksi zat seperti asam laktat dan karbon dioksida (CO2) yang lebih tinggi. Kondisi ini membuat seseorang lebih mudah terdeteksi oleh nyamuk, meski Upik menegaskan bahwa semua orang tetap memiliki potensi untuk digigit.
“Siapa pun bisa dihisap darahnya, hanya saja ada kecenderungan golongan darah O lebih disukai,” ujar Upik dikutip dari keterangan resmi IPB, Selasa (23/6/2026).
Ia juga menekankan bahwa tidak semua jenis nyamuk mengandalkan darah sebagai sumber energi utama. Dalam penjelasannya, darah hanya dibutuhkan nyamuk betina untuk proses reproduksi dan pematangan telur, bukan sebagai makanan sehari-hari.
Sementara itu, nyamuk jantan memperoleh energi dari cairan tanaman dan nektar bunga. Dengan demikian, mekanisme biologis antara nyamuk jantan dan betina turut menentukan interaksi dengan manusia.
Selain faktor golongan darah, daya tarik terhadap nyamuk juga dipengaruhi kondisi fisik dan lingkungan, termasuk warna pakaian yang dikenakan. Pakaian berwarna gelap disebut lebih mudah menyerap panas tubuh sehingga meningkatkan suhu kulit.
Menurut Upik, kondisi hangat dan lembap menjadi faktor yang disukai nyamuk. “Nyamuk menyukai kondisi hangat dan lembap. Karena itu orang yang menggunakan pakaian gelap lebih sering didatangi nyamuk,” ucapnya.
Di sisi lain, ia juga meluruskan kesalahpahaman yang berkembang di masyarakat terkait penularan penyakit melalui nyamuk. Salah satu mitos yang dibantah adalah anggapan bahwa nyamuk dapat menularkan HIV/AIDS.
Upik menjelaskan bahwa meskipun nyamuk dapat mengisap darah penderita HIV, virus tersebut tidak dapat berkembang di dalam tubuh nyamuk. Virus akan mati dalam waktu singkat sehingga tidak dapat ditularkan kembali kepada manusia.
Untuk upaya pencegahan, ia mengingatkan pentingnya penerapan program 3M Plus sebagai langkah pengendalian vektor nyamuk. Program tersebut mencakup menguras, menutup, dan mendaur ulang barang yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.
Selain itu, penggunaan losion antinyamuk, pakaian tertutup, serta kelambu juga disebut sebagai langkah tambahan untuk mengurangi risiko gigitan nyamuk dalam aktivitas sehari-hari. (Wy)