Dikasihi, Dipanggil, dan Diutus: Tiga Langkah Hidup yang Mengubah Cara Kita Memandang Diri dan Sesama
PEMATANGSIANTAR -- Ada kalanya seseorang merasa begitu lelah menjalani hidup. Bukan sekadar lelah secara fisik setelah bekerja seharian, tetapi lelah dalam hati. Lelah menghadapi persoalan yang datang silih berganti, tuntutan kehidupan yang tak kunjung selesai, atau rasa sepi yang tetap terasa meski berada di tengah keramaian.
Pengalaman seperti ini ternyata bukan hanya milik manusia modern. Dalam Injil Matius 9:36, Yesus melihat orang banyak yang datang kepada-Nya dan menyadari bahwa mereka sedang berada dalam keadaan yang sama. Mereka digambarkan sebagai orang-orang yang "lelah dan telantar seperti domba yang tidak bergembala."
Yang menarik, Yesus tidak memandang mereka sebagai sekadar kerumunan. Ia melihat pribadi demi pribadi. Ia melihat kegelisahan yang tersembunyi, luka yang tidak terlihat, serta beban yang tidak terucapkan. Karena itulah hati-Nya tergerak oleh belas kasihan.
Pesan ini menjadi sangat relevan bagi kehidupan saat ini. Di tengah tekanan ekonomi, persaingan kerja, masalah keluarga, hingga berbagai kecemasan yang muncul setiap hari, banyak orang sebenarnya sedang berjalan dalam keadaan lelah secara batin. Namun Injil mengingatkan bahwa Tuhan tidak pernah menutup mata terhadap pergulatan manusia.
Kasih Allah bahkan hadir jauh sebelum manusia mampu membalasnya.
Dalam Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Roma 5:5-11 ditegaskan bahwa Kristus telah wafat untuk manusia ketika mereka masih lemah, masih berdosa, bahkan ketika masih hidup jauh dari Allah. Pesan ini menunjukkan bahwa kasih Tuhan bukan hadiah bagi mereka yang sempurna.
Kasih itu diberikan lebih dahulu.
Manusia tidak perlu menunggu menjadi baik untuk dikasihi Tuhan. Sebaliknya, justru karena dikasihi, manusia memperoleh kekuatan untuk menjadi lebih baik.
Di sinilah dasar kehidupan Kristiani sebenarnya dimulai.
Banyak orang berpikir bahwa hubungan dengan Tuhan dibangun melalui prestasi rohani, doa yang sempurna, atau hidup tanpa kesalahan. Namun bacaan hari ini menunjukkan arah yang berbeda. Segala sesuatu berawal dari kasih Allah yang diberikan secara cuma-cuma.
Kasih itu kemudian melahirkan sebuah panggilan.
Dalam Kitab Keluaran 19:2-6a, Allah berbicara kepada bangsa Israel dan menyebut mereka sebagai harta kesayangan-Nya. Sebuah ungkapan yang menunjukkan kedekatan, penghargaan, dan cinta yang sangat mendalam.
Pesan yang sama juga berlaku bagi setiap orang beriman saat ini.
Di mata Tuhan, hidup manusia tidak pernah dianggap remeh. Setiap orang memiliki nilai yang tak tergantikan. Setiap pribadi memiliki martabat sebagai anak-anak Allah.
Kesadaran inilah yang sering kali hilang di tengah kehidupan modern.
Banyak orang mengukur harga dirinya berdasarkan jabatan, kekayaan, jumlah pengikut di media sosial, atau penilaian orang lain. Ketika semua itu hilang, mereka merasa tidak berarti.
Padahal iman mengajarkan sesuatu yang berbeda.
Nilai seseorang tidak ditentukan oleh apa yang dimilikinya, melainkan oleh fakta bahwa ia dicintai oleh Allah.
Dari kesadaran sebagai pribadi yang dikasihi dan dipanggil itulah lahir tahap berikutnya, yaitu perutusan.
Yesus tidak berhenti pada rasa belas kasihan. Setelah melihat kebutuhan orang banyak, Ia memanggil kedua belas murid dan mengutus mereka untuk melayani.
Perintah-Nya sederhana namun kuat: "Pergilah."
Perutusan ini bukan hanya tugas para rasul, imam, atau biarawan-biarawati. Dalam kehidupan Gereja, setiap orang yang telah dibaptis menerima panggilan yang sama untuk menjadi pembawa kasih dan belas kasihan Tuhan di tengah dunia.
Ladang pelayanan itu sebenarnya sangat dekat.
Tidak selalu berada di tempat yang jauh atau dalam pekerjaan besar yang spektakuler.
Ladang itu bisa ditemukan di:
Keluarga yang membutuhkan perhatian dan pengampunan.
Tempat kerja yang membutuhkan kejujuran dan keteladanan.
Sekolah yang membutuhkan semangat persaudaraan.
Lingkungan sekitar yang membutuhkan kepedulian.
Masyarakat yang membutuhkan damai dan solidaritas.
Perutusan sehari-hari sering kali hadir dalam bentuk yang sederhana.
Menghibur teman yang sedang berduka bisa menjadi bentuk menyembuhkan yang terluka.
Memberi semangat kepada mereka yang hampir menyerah bisa menjadi cara membangkitkan harapan yang hampir mati.
Menerima mereka yang dijauhi atau dikucilkan dapat menjadi wujud nyata menghadirkan kasih Allah.
Menjadi pembawa damai di tengah pertengkaran juga merupakan cara melawan kuasa kebencian yang merusak relasi manusia.
Tindakan-tindakan sederhana inilah yang sesungguhnya membangun dunia menjadi lebih manusiawi.
Pesan Minggu Biasa XI tahun ini dapat dirangkum dalam tiga kata yang saling berkaitan: dikasihi, dipanggil, dan diutus.
Manusia pertama-tama dikasihi Allah tanpa syarat.
Karena dikasihi, manusia dipanggil menjadi milik-Nya dan menerima martabat sebagai anak-anak Allah.
Dan karena menjadi milik-Nya, manusia diutus untuk menghadirkan belas kasih yang sama kepada sesama.
Di tengah dunia yang sering dipenuhi persaingan, kecemasan, dan sikap saling menghakimi, pesan ini menjadi pengingat bahwa kehidupan beriman tidak dimulai dari kewajiban, melainkan dari pengalaman dicintai.
Ketika seseorang sungguh menyadari bahwa dirinya adalah harta kesayangan Allah, ia tidak akan hidup dalam ketakutan. Ia akan mampu melangkah dengan syukur, membagikan kebaikan, serta menjadi saluran kasih bagi orang-orang yang ditemuinya setiap hari.
Karena pada akhirnya, setiap orang dipanggil untuk menjadi jawaban atas kelelahan dan kerinduan sesamanya, sebagaimana Kristus lebih dahulu hadir menjawab kelelahan dan kerinduan manusia. (Wy/Red)
_Sumber: Pastor Michael Hutabarat - Pematangsiantar_