Kampus Harus Bangun Kampus Sehat untuk Resiliensi Mental
Jabar -- Sektor kesehatan, yang harus menjadi perhatian tak hanya aspek fisik semata , tetapi aspek mental juga harus menjadi perhatian. Masyarakat, yang dibina di lingkungan mulai keluarga, masyarakat dan lembaga pendidikan.
"sehubungan dengan hal itu kampus sebagai bagian dari lembaga pendidikan memegang peranan penting untuk membangun kesehatan mental insan yang dididik yaitu mahasiswa " ungkap Psikiater, dr . Teddy Hidayat" dalam kegiatan yang berlangsung di Universita Telkom, senin * Desember dan Universitas Pasundan, selasa 9 Desember.
Teddy, dalam keterangannya mengatakan kesehatan jiwa mahasiswa dan generasi muda telah menjadi isu krusial yang memerlukan perhatian serius dalam konteks pembangunan sumber daya manusia berkualitas di Jawa Barat.
Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mengungkapkan bahwa Jawa Barat memiliki
prevalensi depresi tertinggi di Indonesia sebesar 3,3% dari populasi usia 15 tahun ke atas, lebih dari dua kali lipat rata-rata nasional yang berada pada 1,4%. Hasil kajian yang dilakukan oleh Tim Koordinasi Kesehatan Jiwa Masyarakat Daerah (TKKJM) Provinsi Jawa Barat tahun 2024 menunjukkan bahwa 42,3% mahasiswa mengalami gejala kecemasan sedang hingga berat, 38,7% mengalami gejala depresi, dan 56,2% melaporkan tingkat stres akademik yang tinggi. Yang lebih mengkhawatirkan adalah 67,4% mahasiswa tidak memiliki mekanisme coping yang memadai untuk menghadapi tekanan yang mereka alami, sementara 71,8% dari mereka tidak pernah mengakses layanan kesehatan jiwa yang tersedia. Kondisi ini diperparah oleh berbagai tekanan akademik, sosial, serta persiapan memasuki dunia kerja yang menuntut kesiapan mental dan emosional yang kuat.
Era digital yang berkembang pesat, sambung Teddy membawa tantangan baru yang belum pernah dihadapi generasi sebelumnya. Studi terbaru oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2024 mengungkapkan bahwa 98,7% mahasiswa menghabiskan waktu lebih dari 8 jam per hari di dunia digital, yang membawa risiko baru berupa cognitive warfare atau perang kognitif.
Fenomena ini merupakan bentuk manipulasi informasi yang dapat mempengaruhi cara berpikir, persepsi, dan pada akhirnya kesehatan mental seseorang. Mahasiswa sebagai digital native menjadi sangat rentan terhadap paparan hoaks, disinformasi, cyberbullying, dan berbagai konten negative yang dapat merusak kesehatan mental mereka. Tekanan dari media sosial untuk tampil sempurna, perbandingan sosial yang konstan, serta kecanduan terhadap platform digital menjadi faktor risiko tambahan yang memperburuk kondisi kesehatan jiwa mahasiswa. Universitas Telkom dan Universitas Pasundan sebagai salah satu institusi pendidikan tinggi terkemuka di Jawa Barat memiliki populasi mahasiswa yang signifikan dan berada dalam posisi strategis untuk menjadi model penanganan kesehatan jiwa di lingkungan kampus, terutama dalam menghadapi tantangan cognitive warfare dan persiapan memasuki dunia kerja yang kompetitif.
Selanjutnya, Muftiah Y Analis Kebijakan pada Biro Kesra menyampaikan berdasarkan Keputusan Gubernur Jawa Barat Nomor 744.05/Kep.135-Kesra/2022 tentang Tim Koordinasi Kesehatan Jiwa Masyarakat Daerah Provinsi Jawa Barat, Biro Kesejahteraan rakyat berfungsi sebagai secretariat. TKKJM mempunyai tugas merumuskan langkah aksi terkait pelaksanaan kesehatan jiwa di Jawa Barat, yang meliputi pusat krisis, tim reaksi cepat, promosi kesehatan jiwa, serta penelitian, pengembangan, Pendidikan dan pelatihan.
TKKJM memiliki fungsi penyusunan rencana aksi upaya kesehatan jiwa di daerah, identifikasi, klarifikasi, dan pemetaan permasalahan kesehatan jiwa masyarakat dalam rangka merumuskan kebijakan umum, pembinaan, monitoring, dan evaluasi pelaksanaan program kerja upaya kesehatan jiwa masyarakat, serta pelaporan hasil pelaksanaan tugasnya kepada Gubernur
Pemerintah daerah, fasilitas kesehatan, organisasi profesi kesehatan, perguruan tinggi, serta
lembaga masyarakat dan berbagai komunitas peduli kesehatan jiwa. Pendekatan multi-sektor ini memastikan bahwa penanganan kesehatan jiwa tidak hanya bersifat klinis, tetapi juga mencakup aspek sosial, pendidikan, dan pemberdayaan komunitas.
Kegiatan Skrining Kesehatan Jiwa Online dan Talkshow jelas Muftiah dirancang sebagai Upaya preventif dan promotif yang mengintegrasikan seluruh fungsi dan bidang dalam TKKJM untuk memberikan respons komprehensif terhadap masalah kesehatan jiwa mahasiswa. Program ini merupakan rencana aksi terpadu yang menggabungkan deteksi dini melalui screening kesehatan jiwa, promosi kesehatan melalui edukasi tentang resiliensi mental dan cognitive warfare.
Pembicara pada Talkshow, Amalia selaku ketua Ikatan Psikolog Klinis Jawa Barat menyampaikan sangat mendukung kebijakan pembangunan sistem rujukan yang jelas, pengumpulan data untuk riset dan pemetaan masalah, serta peningkatan kapasitas mahasiswa sebagai calon kader kesehatan jiwa di kampus mereka.
Dengan membekali mahasiswa dengan pengetahuan tentang kesehatan jiwa, keterampilan mengelola stres, pemahaman tentang cognitive warfare di era digital, serta kesadaran tentang pentingnya kesehatan jiwa di dunia kerja, diharapkan mereka tidak hanya dapat menjaga kesehatan mental mereka sendiri, tetapi juga menjadi agen perubahan yang dapat membantu teman sebaya dan menyebarkan pemahaman positif tentang kesehatan jiwa di lingkungan mereka. Sehingga pada akhirnya dapat mewujudkan generasi muda Jawa Barat yang sehat jiwa, produktif, dan tangguh dalam menghadapi berbagai tantangan di era yang semakin kompleks.(Nr)