Token Listrik Disebut Lebih Boros? Ini Fakta yang Sering Disalahpahami Banyak Orang
JAKARTA -- Keluhan ini mungkin pernah terdengar di lingkungan sekitar. Ada yang merasa token listrik cepat habis, lalu menyimpulkan bahwa listrik prabayar lebih boros dibandingkan listrik pascabayar.
Sekilas, anggapan tersebut memang terdengar masuk akal. Banyak pengguna token listrik mengaku harus lebih sering membeli pulsa listrik dibandingkan perkiraan mereka. Sementara pengguna listrik pascabayar hanya menerima tagihan di akhir bulan tanpa melihat langsung sisa energi yang digunakan setiap hari.
Namun, benarkah sistem token listrik memang lebih boros?
Jawabannya tegas: tidak.
PT PLN (Persero) memastikan bahwa tidak ada perbedaan tingkat konsumsi listrik antara pelanggan prabayar dan pascabayar. Keduanya menggunakan sistem pengukuran yang sama, tarif yang sama sesuai golongan pelanggan, serta satuan energi yang sama, yaitu kilowatt hour (kWh).
Manajer Komunikasi, Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PLN UID Jawa Timur, Dana Puspita Sari, menjelaskan bahwa perbedaan kedua layanan tersebut hanya terletak pada waktu pembayarannya.
Pada sistem prabayar, pelanggan membeli energi listrik terlebih dahulu dalam bentuk token. Setelah itu listrik digunakan sesuai kebutuhan hingga kuota kWh habis.
Sementara pada sistem pascabayar, pelanggan menggunakan listrik lebih dahulu dan baru membayar tagihan pada akhir bulan berdasarkan jumlah pemakaian yang tercatat oleh meter.
Artinya, satu kWh pada listrik prabayar memiliki nilai yang sama dengan satu kWh pada listrik pascabayar.
Tidak ada pengurangan tersembunyi. Tidak ada pula sistem yang membuat token lebih cepat habis dibandingkan listrik pascabayar.
Lalu mengapa banyak orang merasa token listrik lebih boros?
Jawabannya terletak pada psikologi penggunaan.
Ketika menggunakan listrik prabayar, pelanggan bisa melihat secara langsung sisa kWh yang terus berkurang setiap hari. Setiap kali angka pada meter menurun, muncul kesadaran bahwa listrik sedang digunakan.
Sebaliknya, pada sistem pascabayar, pemakaian listrik tidak terlihat secara kasat mata. Pelanggan baru mengetahui jumlah konsumsi setelah tagihan bulanan diterbitkan.
Karena itulah banyak orang merasa token lebih cepat habis, padahal sebenarnya mereka hanya lebih sering memantau penggunaannya.
Selain faktor psikologis, ada penyebab lain yang jauh lebih nyata, yakni perubahan pola konsumsi listrik di rumah.
Sering kali penghuni rumah tidak menyadari bahwa pemakaian listrik meningkat karena penggunaan perangkat elektronik yang semakin banyak atau semakin lama.
Beberapa perangkat yang dikenal menyedot daya cukup besar antara lain:
AC yang menyala berjam-jam setiap hari.
Pompa air otomatis.
Rice cooker yang terus dalam mode penghangat.
Dispenser air panas.
Setrika listrik.
Mesin cuci.
Water heater.
Kulkas yang bekerja selama 24 jam.
Komputer dan televisi yang jarang dimatikan.
Jika beberapa perangkat tersebut digunakan secara bersamaan, konsumsi listrik dapat meningkat drastis tanpa disadari.
Justru menurut PLN, salah satu keunggulan listrik prabayar adalah kemampuannya membantu pelanggan memantau penggunaan energi secara lebih transparan.
Pelanggan bisa mengetahui sisa kWh kapan saja melalui layar meteran. Dengan begitu, pengendalian konsumsi listrik menjadi lebih mudah dibandingkan sistem pascabayar yang baru menunjukkan total penggunaan setelah satu bulan.
Bahkan, ada cara sederhana untuk mengetahui seberapa besar listrik yang sedang digunakan di rumah saat itu juga.
Melalui meteran listrik prabayar, pelanggan dapat menekan kode 09 pada keypad meter.
Setelah kode dimasukkan, layar akan menampilkan daya sesaat atau instantaneous power dalam satuan Watt secara real-time.
Misalnya, setelah menekan kode 09 muncul angka 510.
Artinya, seluruh perangkat elektronik yang sedang aktif pada saat itu mengonsumsi daya sekitar 510 Watt.
Angka tersebut akan berubah sesuai jumlah perangkat yang dinyalakan.
Jika ingin mengetahui perangkat mana yang paling boros, pelanggan bisa melakukan percobaan sederhana:
1. Catat angka yang muncul setelah menekan kode 09.
2. Nyalakan satu perangkat elektronik tertentu.
3. Lihat perubahan angka yang muncul.
4. Selisih angka tersebut menunjukkan perkiraan konsumsi daya perangkat yang baru dinyalakan.
Cara sederhana ini sering digunakan untuk mengetahui apakah AC, dispenser, pompa air, atau perangkat lain menjadi penyumbang terbesar konsumsi listrik di rumah.
Meski demikian, PLN mengingatkan masyarakat agar tidak sembarangan menggunakan berbagai kode meter listrik yang beredar di media sosial.
Tidak semua kode yang beredar memiliki fungsi yang benar. Sebagian bahkan berpotensi mengganggu fungsi meter apabila digunakan tanpa pemahaman yang tepat.
Karena itu, pelanggan disarankan hanya menggunakan informasi resmi dari PLN atau menghubungi layanan PLN 123 maupun aplikasi PLN Mobile jika membutuhkan bantuan.
Pada akhirnya, besar kecilnya tagihan listrik tidak ditentukan oleh apakah pelanggan menggunakan token atau pascabayar.
Yang menentukan adalah berapa banyak energi listrik yang dipakai setiap hari.
Jadi, jika token listrik terasa cepat habis, kemungkinan besar penyebabnya bukan karena sistem prabayar lebih boros, melainkan karena konsumsi listrik di rumah memang sedang meningkat tanpa disadari.
Dengan kata lain, yang membuat listrik boros bukan meterannya, melainkan kebiasaan penggunaannya.
(Wy/Red)