SAMOSIR – Kematian Putra Junius Sidabutar (16), seorang pelajar kelas 1 SMA Negeri 1 Ambarita yang ditemukan meninggal dunia pada Senin, 30 Maret 2026, menyisakan tanda tanya besar. Hingga kini, dugaan bunuh diri yang melekat pada kasus tersebut belum disertai kejelasan motif, sementara informasi yang beredar di tengah masyarakat terus berubah-ubah.
Baca juga: Didukung APBN 2026, Kabupaten Samosir Disiapkan Jadi Sentra Bawang Putih, Vandiko : Program Presiden Yang Harus Disukseskan Sejumlah kejanggalan pun mencuat. Ayah korban, Tunggul Sidabutar, mengaku menemukan Putra dalam kondisi tergantung di kamar mandi menggunakan tali rafia. Namun, selain orang tua dan adik korban, tidak ada saksi lain yang melihat langsung peristiwa tersebut.
Baca juga: Even Perdana HSF Horja Bius Mangase Taon Digelar, Wabup Samosir: Budaya Tak Ternilai, Harus DilestarikanPada saat awal kejadian, sempat beredar informasi bahwa korban mengakhiri hidup akibat tekanan ekonomi keluarga, di mana beberapa kebutuhan sekolah tidak terpenuhi. Namun, informasi tersebut kemudian dibantah oleh orangtua korban, dan muncul lagi dugaan lain, termasuk isu perundungan (bullying) di sekolah yang juga dibantah diucapkan oleh orangtua korban. Perbedaan keterangan ini membuat informasi yang beredar di masyarakat menjadi simpang siur.
Baca juga: Aksi Nyata Jaga Danau Toba, Peran Effendy Naibaho Menginspirasi 'Suan, Unang Taba'Penelusuran wartawan pada Rabu, 1 April 2026 di Desa Huta Ginjang menemukan keterangan dari Kepala Desa Rinsan Situmorang dan sejumlah warga. Beberapa warga mengaku kerap mendengar pertengkaran antara orang tua korban, yang diduga dapat memengaruhi kondisi mental korban. Meski demikian, kepala desa menyebut keluarga tersebut memang tergolong kurang mampu, namun tetap menerima berbagai bantuan pemerintah.
Baca juga: Jaga Ekosistem Danau Toba, Bupati Samosir Bersama Yayasan Pusuk Buhit Tebar 1.000 Bibit Ikan dan Tanam 1.000 PohonUpaya menggali informasi di SMA Negeri 1 Ambarita pada Kamis, 2 April 2026 tidak membuahkan hasil maksimal. Wartawan tidak diizinkan masuk ke lingkungan sekolah untuk melakukan peliputan. Informasi hanya diperoleh dari seorang petugas sekolah di pos satpam berinisial MS.Menurut MS, Putra dikenal sebagai siswa yang baik, pintar, dan pendiam. Ia duduk di bangku paling depan dekat pintu kelas dan dikenal ramah terhadap guru. Saat jam istirahat, Putra sering tetap berada di dalam kelas karena tidak memiliki uang jajan, dan memilih bermain ponsel atau belajar.MS juga menyebut, saat makan siang MBG, Putra terkadang mengonsumsi dua porsi jika ada siswa lain yang tidak hadir. Terkait isu bullying, pihak sekolah membantahnya. Seorang teman sekelas korban juga menyatakan bahwa Putra tidak pernah mengalami perundungan di kelas.Hal lain yang menjadi sorotan adalah kebiasaan ibu korban yang beberapa kali datang ke sekolah untuk meminta ponsel milik Putra melalui petugas. Setiap kali diminta, Putra terlihat malu dan enggan menyerahkan ponselnya.Putra juga diketahui sering pulang paling akhir dari sekolah. Ia menempuh perjalanan sekitar 9 kilometer dengan berjalan kaki, meskipun terkadang diantar oleh teman menggunakan sepeda motor.Wartawan kemudian melanjutkan penelusuran ke rumah duka dan bertemu langsung dengan kedua orang tua korban, Tunggul Sidabutar dan Betty Agustina, serta adik korban, Putri Anggia Sidabutar.Dari keterangan keluarga, tidak ada pesan atau tanda-tanda terakhir yang ditinggalkan korban. Ponsel milik Putra pun hingga kini masih terkunci dan belum dibuka.Sehari sebelum kejadian, Putra diketahui masih beraktivitas seperti biasa. Ia sempat pergi ke rumah tetangga untuk menggunakan Wi-Fi, menyapu halaman rumah, dan pada malam hari masih berkumpul bersama keluarga sambil minum teh.Orang tua korban mengakui kondisi ekonomi mereka terbatas, namun membantah hal tersebut sebagai penyebab kematian anaknya. Mereka juga menyebut tetap memberikan uang saku sebesar Rp15.000 per hari kepada Putra.Pada pagi hari kejadian, Tunggul mengaku menemukan Putra dalam kondisi tergantung di kamar mandi setelah sebelumnya tidak menjawab panggilan. Ia kemudian langsung menurunkan korban.Sejumlah keterangan lain dari keluarga juga memunculkan pertanyaan, termasuk soal ponsel korban yang tidak dibuka hingga kini, serta respons orang tua yang terkesan membatasi keterangan dari adik korban saat ditanya mengenai pesan terakhir waktu bersama korban.Pihak keluarga juga membantah adanya konflik rumah tangga maupun dugaan bullying yang dialami korban di sekolah.Hingga saat ini, belum ada satu pun motif yang dapat dipastikan sebagai penyebab Putra Junius Sidabutar mengakhiri hidupnya. Berbagai keterangan yang berbeda justru semakin menambah tanda tanya dalam kasus ini. Sehingga dibutuhkan penyelidikan lebih dalam oleh aparat yang berwewenang.(Jst)
Sumber:Humas Polres Samosir
Bagikan: