Samosir, -- Kasus meninggalnya seorang remaja pelajar di Desa Huta Ginjang, Kecamatan Simanindo, pada Senin (30/3/2026) yang diduga bunuh diri, terus menyisakan tanda tanya di tengah masyarakat.
Baca juga: Didukung APBN 2026, Kabupaten Samosir Disiapkan Jadi Sentra Bawang Putih, Vandiko : Program Presiden Yang Harus Disukseskan Di tengah duka yang belum reda, muncul berita yang beredar di kalangan warga bahwa korban diduga kerap mengalami perundungan (bullying) di sekolahnya, yakni SMA Negeri 1 Ambarita yang disampaikan oleh ibu korban. Namun hingga kini, kebenaran informasi tersebut belum mendapat klarifikasi resmi dari pihak sekolah.
Baca juga: Even Perdana HSF Horja Bius Mangase Taon Digelar, Wabup Samosir: Budaya Tak Ternilai, Harus DilestarikanUntuk menelusuri kabar tersebut, wartawan melakukan upaya konfirmasi langsung ke SMA Negeri 1 Ambarita pada Kamis (2/4/2026). Setibanya di lokasi sekitar pukul 11.00 WIB, wartawan terlebih dahulu melapor ke pos satpam. Namun, akses masuk ke lingkungan sekolah tidak diberikan tanpa izin dari kepala sekolah.Satpam kemudian menghubungi kepala sekolah melalui telepon untuk meminta izin. Dari hasil komunikasi tersebut, diketahui bahwa kepala sekolah sedang mendampingi pihak kementerian yang melakukan kunjungan ke rumah duka korban. Kepala sekolah pun tidak mengizinkan wartawan masuk ke sekolah dan meminta agar menunggu hingga dirinya kembali.
Baca juga: Aksi Nyata Jaga Danau Toba, Peran Effendy Naibaho Menginspirasi 'Suan, Unang Taba'Wartawan kemudian mencoba menghubungi kepala sekolah melalui telepon seluler. Dalam komunikasi itu, kepala sekolah berjanji akan menemui wartawan setibanya di sekolah. Namun hingga sekitar pukul 13.00 WIB, yang bersangkutan tak kunjung datang.
Baca juga: Jaga Ekosistem Danau Toba, Bupati Samosir Bersama Yayasan Pusuk Buhit Tebar 1.000 Bibit Ikan dan Tanam 1.000 PohonTak berhenti di situ, wartawan tetap menunggu hingga pukul 20.00 WIB sesuai dengan komitmen yang sebelumnya disampaikan. Namun kepala sekolah yang diketahui bernama Tigor Rumahorbo tetap tidak memenuhi janji.Akibatnya, upaya konfirmasi terkait dugaan bullying yang disebut-sebut menjadi salah satu faktor di balik kematian korban belum membuahkan hasil.Sikap tertutup pihak sekolah tersebut memunculkan tanda tanya di tengah publik. Tidak adanya klarifikasi resmi justru memicu spekulasi yang semakin liar di masyarakat.Hingga berita ini diterbitkan, pihak SMA Negeri 1 Ambarita belum memberikan keterangan resmi terkait dugaan perundungan yang dialami korban selama bersekolah. Benarkah Korban mengalami bullying di Sekolah semasa hidupnya, dan apakah ada yang ditutupi pihak sekoah?(Jst)
Bagikan: