Mon,18 June 2018


Erwiana Sulistyaningsih Beri Kesaksian di Hong Kong

Indofakta 2014-12-10 17:23:32 Internasional
Erwiana Sulistyaningsih Beri Kesaksian di Hong Kong

Hong Kong,--- Selasa,8 Desember 2014 di Pengadilan Distrik Wanchai dengan mengenakan baju warna ungu Erwiana Sulistyaningsih datang ke pengadilan untuk menjadi saksi atas kasus kekerasan yang dialaminya.

Asean Migrant Coordinating Body (AMCB) bersama Jaringan Buruh Migran Indonesia ( JBMI) mengadakan aksi piket didepan Pengadilan Distrik Wanchai untuk memberikan dukungan pada Erwiana dan korban lainya pada sidang perdana yang menghadirkan Erwiana dan saksi-saksi lainya.

JBMI sendiri telah memulai memberikan dukungan untuk Erwiana sejak minggu (7/12) dengan meluncurkan kampanye hastag serentak pada pukul 12:00 melalui berbagai media sosial. Hastag yang ramai di facebook bertuliskan #Justice4Erwiana #Justice4AllMigran, #JokowiBebaskanBMIDariPJTKI, #JokowiRatifikasiC189.

Kasus Erwiana Sulistyaningsih adalah kasus yang menjadi perhatian dunia karena terjadi di Hong Kong yang selama ini dikenal sebagai negara yang aman untuk pekerja rumah tangga migran. Kasus Erwiana menjadi bukti bahwa praktek perbudakan terjadi di Hong Kong.

Erwiana bukan korban kekerasan yang pertama terjadi pada buruh migran Indonesia. Banyak kasus pekerja migran yang mengalami penganiayaan dan kekerasan yang disebabkan karena faktor kondisi kerja serta aturan dari pemerintah Indonesia dan Hong Kong melalui kebijakan-kebijakan dalam bidang perekrutan, pengiriman serta pemulangan tenaga kerja migran termasuk aturan-aturan menyangkut sistim perlindungan dan sistim layanan terhadap pekerja migran Indonesia di luar negeri.

Kegagalan pihak pemerintah untuk menjamin perlindungan dan layanan sepenuhnya kepada para pekerja migran khususnya terhadap pekerja rumah tangga asing, telah menyebabkan munculnya sejumlah kasus-kasus kekerasan, penyiksaan dan bahkan kematian dari pihak pekerja migran Indonesia.

Tanggungjawab sepenuhnya yang diberikan pihak pemerintah Indonesia kepada pihak agen perekrutan pekerja migran Indonesia yang diatur melalui UU no. 39 tentang sistim pengiriman dan perlindungan bagi kaum pekerja migran Indonesia di luar negeri, hal inilah yang pada kenyataannya telah memaksa sejumlah pekerja rumah tangga Indonesia di luar negeri harus menerima perlakuan kekerasan dan eksploitasi yang tidak adil terhadap mereka yang dilakukan oleh pihak majikan.

Situasi ini telah dibuktikan dengan apa yang dialami oleh Erwiana. Dan ini adalah kenyataan yang terjadi serta dialami oleh ribuan pekerja rumah tangga Indonesia di Hong Kong, Taiwan, Malaysia dan sejumlah negara lainnya di Timur Tengah.

Erwiana memberikan kesaksian hari ini dalam bentuk bahasa Indonesia yang dibantu penerjemah kedalam bahasa Inggirs.  Saat saya bekerja selama lima minggu, saya mencoba untuk kabur karena majikan tidak memberikan saya gaji, kata Erwiana pada kesaksianya yang dibantu oleh penerjemah.

Erwiana juga menjelaskan bagaimana dia mencoba kabur dari rumah majikan Law Wan Tung dengan lari menuju lobby rumah dan meminjam telepon petugas penjaga keamanan rumah. Erwiana menelpon agen Chan Asian serta memberitahu kalau ingin ganti majikan serta tidak digaji. Agen yang menjawab telepon mengatakan kalau akan membantu dengan mengatakan baik-baik kepada majikan. Namun Agen justru mengirimkan staffnya dibawah rumah Law Wan Tung  dan staff agen mengembalikan Erwiana kepada Majikan. Erwiana juga menambahkan setelah kejadian itu majikan menyimpan semua barang miliknya termasuk buku catatan telepon dan mulai melakukan penyiksaan.

Dalam kesaksianya Erwiana juga mengatakan dia mencoba kabur yang kedua kalinya tapi tidak tahu harus kemana sedangkan dia tidak memiliki paspor, HKID dan uang serta tidak tahu harus kemana pergi selain itu pintu rumah selalu dikunci. Erwiana tidak pernah diberi kunci rumah. Majikan akan mengawasi saat Erwiana mengelap pintu rumah dan pekerjaan ini dilakukan antara jam 4 pagi.

Luka-luka yang terjadi pada tubuh Erwiana dilakukan oleh Majikan Law Wan Tung dengan menggunakan berbagai macam benda yaitu gagang Vacum Cleaner yang terbuat dari besi, penggaris, hanger dari besi, gagang pel serta menggunakan tangan.

Majikan sering memukul kepalanya dan bagian tubuh lainya yang menyebabkan Erwiana pusing. Bahkan majikan memasukan gagang Vacum Cleaner kedalam mulut Erwiana yang menyebabkan mulut Erwiana terluka. Majikan sering memukul tangan Erwiana dengan penggaris dan juga hanger baju ke tubuhnya.

Tidak hanya itu saja majikan juga menonjok hidung Erwiana yang menyebabkan Erwiana kesulitan bernafas serta hidungnya mengeluarkan darah.

Pada saat Erwiana membersihkan langit-langit rumah dan membersihkan AC dengan menggunakan tangga, tiba-tiba majikan menarik bajunya yang menyebabkan Erwiana jatuh dan mengalami luka-luka.

Majikan juga pernah menelanjangi Erwiana didalam kamar mandi dan menyiramkan air ke tubuhnya dengan air dingin kemudian menyalakan kipas angin selama  1 sampai 2 jam tepat ke tubuhnya saat Erwiana telat bangun tidur.

Selain itu dalam kesaksianya Erwiana juga menjelaskan bahwa majikan selalu mengancam akan membunuh keluarganya jika dia mencoba untuk menceritakan keadaanya pada orang lain.

Erwiana pernah menyampaikan kepada anaknya Law Wan Tung namun mereka tidak memperdulikanya,jelas Erwiana. Penyiksaan ini dilakukan oleh majikan saat anak-anaknya tidak dirumah atau dilakukan didalam kamar majikan dalam kondisi pintu kamar terkunci dari dalam.

Pada sidang ini Law Wan Tung hanya mengaku bersalah pada tuduhan tidak memberikan asuransi pada Erwiana namun tidak mengaku bersalah pada  20 tuduhan lainya termasuk pada kasus penyiksaan yang dilakukan pada dua PRT sebelumnya.

Erwiana mengaku dipaksa untuk tanda tangan bukti pembayaran gaji dan hal ini dilakukan kadang 2 bulan sekali atau 3 bulan sekali. Selama bekerja dengan Law Wan Tung Majikan tidak pernah memberikan gaji dan hanya memberikan slip bukti pembayaran namun tidak tahu nama perusahaan yang menerima uang itu.

” Saya disiksa oleh majikan berkali-kali yang membuat tubuh saya sakit semua dan kepala saya sering pusing. Makanan yang tidak cukup dan jam kerja yang panjang membuat saya semakin lemah ditambah dengan penyiksaan yang dilakukan sehingga saya tidak bisa bekerja” kata  Erwina yang terlihat tegas menjawab semua pertanyaan Jaksa Penuntut Umum hingga akhir sidang hari ini.

Erwiana juga menjelaskan Majikan memulangkan ke Indonesia saat Erwiana terjatuh di kamar mandi dan tidak bisa melakukan apapun.

Sebelum dipulangkan ke Indonesia pada 9 Januari 2014 jam 10 malam.  Majikan kembali mengancam akan membunuh keluarganya jika Erwiana menceritakan penyiksaan yang dialaminya dan melarang Erwiana berbicara dengan siapapun yang ditemuinya.

Sebelum diantar ke bandara Hong Kong dengan menggunakan taksi,  Erwiana dilatih untuk berjalan dan diberi make Up pada wajahnya dan majikan memakaikan  6 lembar baju  serta dua celana panjang dan membungkus kaki Erwiana yang sudah terluka dengan perban. Kemudian Majikan membantu membungkusnya dengan kaus kaki dan mengenakan sepatu pada Erwiana.  Hal ini dilakukan majikan agar Erwiana tidak terlihat seperti disiksa.

Sringatin, juru bicara dari Jaringan Buruh Migran Indonesia menegaskan bahwa Majikan yang melakuan kekerasan harus dihukum dan dipenjara. Hal ini harus dilakukan untuk menyakinkan bahwa tidak ada kekerasan kedepan yang dilakukan oleh majikan lain di Hong Kong maupun dinegara lain.

Sringatin juga menambahkan bahwa tuntutan kami adalah pemerintah Indonesia segera mengambil langkah nyata dengan merubah peraturan yang menyebabkan kondisi buruh migran semakin matang untuk dieksploitasi oleh majikan dan agen.  Kami menuntut agar segala bentuk kekerasan segera berakhir.

Sidang dilanjutkan pada Rabu 10 Desember 2014 dimana pembela selalu mengatakan semua tuduhan Erwiana mengada-ada dan rekayasa, bohong. Pambela mantan majikan Erwiana mendatangkan 3 saksi (suami, dan dua teman anaknya)

 

Sumber : http://imwu.buruh,migran.or.id

 

Berita Terkait