Pencarian Berita


Penjualan Buku LKS SD dan SMP Masih Marak di Sumedang

Penjualan Buku LKS SD dan SMP Masih Marak di Sumedang

Sumedang --  Banyak SD dan SMP yang menjual Lembar Kerja Siswa (LKS) kepada anak didiknya meski sudah dilarang melalui PP No 17 tahun 2010.  Masih Adanya Laporan masih maraknya di beberapa Sekolah Dasar Negeri (SDN) dan Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) di Sumedang yang masih menjual buku Lembar Kerja Siswa (LKS).

Ketika Indofakta dikomfirmasi melalui Kabid SD ( Sekolah Dasar ) Encang Mapudin mengatakan "apapun alasan sekolah menjual buka setiap sekolah yang di bawah naungan Disdik Kabupaten Sumedang mulai SD,SMP dilarang menjual buku,pada umumnya LKS ,karna pemerintah telah menyuplai semua buku mata pelajaran ke setiap sekolah seluruh Indonesia,dan hal ini sesuai hasil temuan rekan Pers dilapangan ,saya secara pribadi mengucapkan terimakasih dan dalam waktu dekat saya bersama para kasi akan menindaklanjuti hal tersebut dan meminta dan  menindak tegas pelaku yang terlibat Jual beli LKS."

"Terutama Kepala Sekolah tersebut dan saya secara pribadi baru mengetahuinya ,apalagi saat ini masa pandemi,Dinas Pendidikan Kabupaten Sumedang sesuai hasil kajian ,selama masa pandemi telah menyampaikan pada umumnya masyarakat Sumedang ,bahwa metode pembelajaran ada 7 item,sebab sampai saat ini  KBM tatap muka belum berani kita laksanakan,mengingat situasi dan kondisi meningkatnya Covid 19 di Kabupaten Sumedang ” jelasnya.

Dirinya juga menyayangkan, meskipun pemerintah melalui PP No 17 tahun 2010 telah melarang penjualan buku, namun ternyata praktik tersebut masih juga dilakukan oleh beberapa sekolah Negeri di Sumedang baik SD maupun SMP.ujarnya.

Encas (Kabid SD ) dalam waktu dekat monitoring kelapangan  dan koordinasi bersama  aparat hukum menghapuskan praktik pelanggaran itu, "saya secara pribadi maupun dinas pendidikan Sumedang investigasi kelapangan dan saya Kabid SD akan langsung terjun kelapangan dan pihaknya menggali informasi lebih dalam, dari beberapa orang yang mengaku telah dipungut biaya pembelian LKS itu” pungkasnya.

“Hari ini, kami telah memiliki nama-nama dari beberapa sekolah yang diduga telah melakukan penjualan buku LKS kepada peserta didiknya. Memang ada dari berbagai tingkat, yaitu SDN dan SMP,” ucapnya dan ini terjadi diduga  seluruh  sekolahan di Sumedang,ujarnya.

Berdasarkan informasi yang terhimpun harga buku Modul /LKS mulai dari Rp 10.000 s/d 80.000 ,setiap mata pelajaran sudah ada buku paket,dan buku paket tersebut bisa dipinjamkan ke anak didik dan kalaupun buku paket tersebut tidak memenuhi ke setiap siswa sebab setiap sekolah jumlah siswa/i tentu berbeda beda,pihak sekolah tentu mempunyai teknis biar buku tersebut bisa dipergunakan anak-anak,nah SD dan SMP berapa mata pelajaran tinggal dikalikan saja,berapa jumlah siswanya dan berapa buku paket semua mata pelajaran “ ujarnya.

Ia mengaku, pihaknya sangat menyayangkan jika memang benar masih terjadi tindakan penjualan buku LKS/ modul , yang dilakukan oleh pihak sekolah. Pasalnya, dalam PP No 17 tahun 2010 ditegaskan bahwa tidak boleh ada penjualan buku maupun seragam sekolah,  oleh pihak manapun dalam lingkungan sekolah,aturanya sudah jelas,dan pihak sekolah dan komite mematuhi  aturan dan terapkan di setiap sekolah,Pemerintah tiap tahun terus menaikkan anggaran baik dari APBN,APBD kabupaten/kota begitu APBD provinsi  untuk dunia pendidikan,dan saya tegaskan “saya sangat menyesalkan tindakan sekolah yang jual buku LKS/modul.pungkasnya.

“Baik itu guru, kepala sekolah, komite, itu tidak boleh ada yang merangkap sebagai toko buku (menjual buku). Ini sudah diatur dalam peraturan. Dan kami selaku Pemerintah Sumedang, sangat menyayangkan apabila memang benar terjadi,” tandasnya

Ketika Indofakta komfirmasi kepala Dinas Pendidikan Sumedang H.Agus Wahidin melalui pesan Whatshap menyampaikan”

Sekolah mana? Nanti sy utus para kasi utk klarifikasi. Karena dalam kondisi BDR ini LKS memang sangat membantu para siswa dan orang tua, agar dapat terpandu belajarnya dengan baik.

Tapi memang jangan sampai LKS memberatkan orang tua siswa.

Tapi berdasarkan Informasi yang saya pernah terima, harga LKS hanya berkisar 15 rb rupiah, artinya masih mahal sebungkus rokok dibanding LKS yg sangat bermanfaat bagi pendidikan anak.

Saya sangat faham hal itu. Tp kita harus bersikap adil utk keberlangsungan pendidikan anak anak kita semua. LKS jauh lebih meringankan orang tua. 1 buah LKS dapat digunakan utk 1 semester.

Sebenarnya lebih  mahal pembelajaran daring/virtual yg menggunakan quota dari pada LKS. Tiap daring/virtual itu rata2 habis 10 - 20 rb utk quota. Kalo seminggu 2 x daring. Kalo sebulan? Kalo 1 semester berapa? Tp sampai saat ini tidak ada yg meramaikan qouta !!! Malah meramaikan LKS yg jauh lbh murah dan praktis !!!

Jd sy sebagai kadis akan benar2 bersikap adil dan cermat utk mengatasi kesulitan pembelajaran di masa pandemi ini.( Riks )