Pencarian Berita


Kolaborasi Internasional dalam Workshop Kesehatan Jiwa Masa Pandemi Covid -19

Kolaborasi Internasional dalam Workshop Kesehatan Jiwa Masa Pandemi Covid -19

Jabar -- COVID-19 telah menimbulkan banyak masalah dan ancaman seperti kesehatan,    sosial-ekonomi dan ketidakstabilan.   Penyakit ini datang ketika kondisi kesehatan jiwa kurang menguntungkan dan membuat menjadi semakin parah. 

Sebelum pandemi Covid-19 gangguan mental-emosional atau cemas dan depresi di Indonesia 6,1 % atau  11.315. 500 orang (Riskesdas Kemenkes RI 2018), yang diobati secara medik hanya  9 %. Setelah 5 bulan pandemi survey PDSKJI mendapatkan angka gejala cemas 65 %, depresi 62 % dan PTSD 75 %.  Sedang survey  CES-D UNPAD setelah 6 bulan pandemi dengan peserta 1465 orang mendapatkan angka gejala depresi  47 %, stres akut dan  PTSD flash back 35.51% dan avoidant 34.21%. Kondisi ini dapat menyebabkan disabilitas dan menjadi beban  serta kendala dalam pemulihan baik kesehatan maupun ekonomi.  Karena pandemi Covid-19 adalah sesuatu yang baru, maka tidak ada yang punya pengalaman. Agar dapat mengatasi pandemi Covid-19 lebih baik diperlukan pengayaan pengalaman dari berbagai fihak. Oleh karena itu Workshop Kesehatan Jiwa Internasional Masa  Pandemi Covid-19 sangat diperlukan.

  
Psychiatric Online Workshop –International Collaboration atau yang disingkat “The Power” adalah suatu kolaborasi internasional dalam workshop  kesehatan jiwa secara online bagi para praktisi, klinisi dan akademisi kesehatan jiwa.  Tema yang dipilih  adalah “good mental health for all”  atau sehat jiwa untuk semua. Narasumber workshop ini adalah para ahli kelas dunia  dari WPA ( World Psychiatric Association) dan WHO ( World Health Organization) serta dari lebih 10 negara,  berlangsung selama satu bulan mulai 11 Januari 2021 sampai dengan 11 Februari 2021.

 Dalam workshop ini akan membahas berbagai isu-isu strategis di bidang kesehatan jiwa  mulai dari psikoterapi, psikogeriatri, psikiatri komunitas,  psikiatri budaya, psikiatri anak remaja, psikiatri adiksi, psikiatri emergensi - bencana  dan sebagai yang akan diikuti oleh para praktisi, klinisi, akademisi kedoteran jiwa dalam maupun luar negeri. Akreditasi didapat  dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Ikatan Psikologi Klinik (IPK) Indonesia. 


Workshop internasional ini diselenggarakan sebagai bentuk pengabdian yaitu membantu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan tenaga kesehatan dalam mengatasi  permasalahan kesehatan jiwa khususnya pada masa pandemi Covid-19.  Karena sifatnya pengabdian maka biaya untuk mengikuti workshop ini terjangkau mulai yang sangat murah sampai bebas biaya. Masyarakat luas dapat mengikuti tanpa biaya untuk  opening / closing lecture, workshop  pertolongan pertama pada kedaruratan jiwa dan bencana dari MFS Belgia dan Oslo, workshop kesehatan jiwa perempuan dan perlindungan anak serta workshop gangguan jiwa berat (ODGJ). 


Jadwal Acara 
Seri 1  : 11, 15,  Januari 2021 
Seri II  : 22, 23 Januari 2021 
Seri III : 29, 30 Januari 2021 
Seri  IV : 4, 5, 6, 11 Februari 2021   


Workshop internasional ini  penting dikuti baik oleh profesional maupun  masyarakat   karena  
1. Narasumbernya adalah para ahli dari universitas terbaik  dunia yang sangat ahli di bidangnya 
2. Peserta bukan hanya mendapatkan pengetahuan saja (40%) tetapi  lebih banyak keterampilan (60%) 
3. Akan dibahas dan melatih materi terbaru yang dibutuhkan untuk mengatasi masalah kesehatan jiwa masa pandemi  
4. Menggunakan “format online web based sehingga  memiliki cakupan lebih luas dengan biaya sangat murah 
5. Membuka peluang untuk kolaborasi dengan berbagai pihak di dunia   


The Power merupakan prakarsa Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat, Dinas Kesehatan Provinsi Jaw Barat, Unit Pelaksana Teknis Daerah Pelatihan Kesehatan Dinkes Provinsi Jawa Barat,  Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak keluarga Berencana Provknsi Jawa Barat, Ruang tengah dan Ruang empati yang peduli terhadap kesehatan jiwa masyarakat khususnya pada masa pandemi Covid-19.  Diharapkan workshop internasional ini dapat menjadi jawaban atas gap antara ilmu dan praktik dan  dapat menjadi media  peningkatan kompetensi dan membawa cakrawala baru pengabdian di bidang kesehatan mental. Semoga. (nr)