Pencarian Berita


Maryadi Saputra Bongkar Rekayasa Herry Nurhayat Dalam Sidang Tipikor Pembebasan Tanah RTH

Maryadi Saputra Bongkar Rekayasa Herry Nurhayat Dalam Sidang Tipikor Pembebasan Tanah RTH

Bandung -- Sebut Maryadi Saputra Wijaya (37) sebagai investor pembebasan tanah, merupakan rekayasa yang dibuat oleh Herry Nurhayat. Uang yang digunakan Maryadi sebenarnya berasal dari Herry Nurhayat tapi harus berbohong dengan menyebut dirinya investor dalam pembebasan tanah yang berlokasi di Pasir Impun dan Karang Pamulang Kecamatan Mandalajati Kota Bandung. Beberapa bagian keterangan yang ada dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) tersebut dicabutnya karena merasa tertekan dan meminta perlindungan kepada Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK).

Hal tersebut terungkap dalam sidang lanjutan Korupsi Pengadaan Tanah Untuk Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Bandung Kelas I A Khusus (16/9/2020). Sebagai salah satu dari 4 (empat) saksi yang dihadirkan oleh Penuntut Umum KPK, Maryadi Saputra Wijaya menerangkan bahwa dirinya kenal dengan Herry Nurhayat (terdakwa) melalui istri anaknya Herry berteman dengan istri Mariady. Pada Januari 2013, pengusaha di bidang komputer itu bertemu  Herry Nurhayat di kantor DPKAD Kota Bandung dan Herry mengatakan ada  proyek kecil-kecilan,
pengadaan tanah untuk RTH 2013 senilai Rp 10 miliar di Kecamatan Mandalajati Kota Bandung dan Maryadi diminta Herry hanya sebagai Kuasa Jual.

Karena Maryadi sudah menganggap Herry Nurhayat sebagai orang tuanya, pada awal tahun 2013 mau saja disuruh mencari tanah di Cibiru untuk dibebaskan dengan harga di bawah NJOP tapi tidak dapat. Di tempat itu lalu bertemu dengan Dedi Setiadi (Dedi RT) dan Ujang M. Kamaludin (adik terdakwa Kadar Slamet) dan membicarakan butuh modal untuk pembebasan tanah Rp 500 juta, lalu  dilaporkan ke Herry.

Seminggu kemudian Dedi RT menelepon Maryadi dan minta uang Rp 200 juta. Uang diserahkan di Rumah Makan Alas Daun, disaksikan Ujang M. Kamaludin untuk membayar uang muka pembebasan tanah dan mengurus persyaratan pembebasan untuk kemudian dijual ke DPKAD Kota Bandung. Ada 2 (dua) pemilik yang tanahnya minta dibayar lunas. Maryadi meminta uang Rp 200 juta ke Herry dan diserahkan di Lobby Hotel Royal Dago Bandung. Selanjutnya beberapa  waktu, uang diserahkan lagi Rp 200 juta di Simpang Dago. Jadi jumlahnya Rp 600 juta, bukan Rp 500 juta. Setiap penyerahan uang ke Dedi RT, Maryadi selalu bersama Adit, anak Herry Nurhayat ; "saya jadi curiga, ada apa," kata Ujang M. Kamaludin. Setelah uang diserahkan Maryadi mengaku tidak tahu apa yang dikerjakan Dedi RT dan Ujang.

Semua langkah Maryadi diajari oleh Herry Nurhayat. Keterangan memberikan semua syarat untuk pembebasan tanah data tanah ke Wagiyo dan kepada Ivan di DPKAD tidak benar. "Itu disuruh oleh Pak Herry, Pak Herry yang mengajari setelah Pak Herry terkena OTT KPK." Dirinya disuruh datang ke KPK pad akhir 2013. "Badani (bantu) saya. Herry bilang agar saya yang jadi investor. (Modal nya) bukan diberi Herry. Saya gak bisa apa-apa, saya jadi tertekan," ujarnya di hadapan Majelis Hakim yang diketuai T. Benny Eko Supriadi, SH., MH. "Bingung karena saya tidak mungkin sebagai investor," tambahnya.

Tentang keterangannya didalam BAP dikatakan Maryadi sebagai karangan. Ini mengherankan Penuntut Umum KPK, Budi Nugraha. Maryadi bisa menjawab dalam BAP,  selain diajari Herry Nurhayat juga dapatnya dari Dedi RT.
"Diberi catatan oleh Dedi RT dan Herry, ada uang Rp 500 juta dengan jaminan sertifikat, ini ajaran Herry " terangnya.

Maryadi mengaku tidak mendapat uang dari Herry Nurhayat, padahal dalam BAP disebutkan menerima Rp 2,1 miliar. Juga tentang  jumlah keuntungan yang saya terima Rp 300 juta, keterangan ini dicabut olehnya.

Pencairan uang dari pembebasan tanah untuk 2 (dua) Kelurahan di  Mandalajati, dilakukan dalam 2 (dua) tahap. Tahap 1, sebesar Rp 5 miliar. Uang dibawa dalam 4 buah tas untuk raket tennis berwarna hitam yang diterima Maryadi sebelumnya dari Herry, lalu dibawa ke Hotel Corsica. Uang dihitung,  dipisah oleh Dedi RT dan Rp 2,5 miliar diterima Maryadi lalu diserahkan Kepada Adit. Selanjutnya dimasukkan ke dalam mobil milik Adit dan diterima Herry Nurhayat di rumahnya. "Besok juga uang ini habis, untuk dunungan (atasan)," kata Maryadi menirukan kata-kata Herry Nurhayat. Pada tahap 2 (dua) cair lagi sebesar Rp 1,6 miliar cair dan semua diserahkan ke Adit, karena Herry Nurhayat ditangkap KPK, terkena OTT.

Masih menurut Maryadi, sebelumnya Herry pernah  bilang ada keuntungan Rp 2,5 miliar. Modal untuk pembebasan tanah yang diterimanya dari Herry tidak tahu darimana.

Saksi Jahidin (61) adalah pegawai Tomtom Dabbul Qomar, kerja di kost kost an milik Tomtom di Cibiru dan Panyileukan, Cipadung Kota Bandung. Dirinya disebut Agus Setiawan membawa uang dalam karung dari rumah Kadar Slamet menggunakan mobil dibantahnya. Diakui oleh Jahidin, dirinya pernah 3 (tiga) kali ke rumah Kadar Slamet disuruh Tomtom naik sepeda motor karena tidak bisa mengendarai mobil. Pertama menerima amplop putih dari Dedi RT, kedua dan ketiga datang membawa surat dari Tomtom untuk Dedi RT.

Saksi berikutnya adalah Mariana Siti Sundari Soni (57) dan Abdulloh Mustopa kenal para terdakwa. Mariana kenal dan sering ke DPRD Kota Bandung, selain sebagai kader Partai Demokrat, juga untuk kepentingan mencari proyek Bimtek. Pernah dapat kerjaan Bimtek dari Tomtom," ujarnya.

Mariana menjadi saksi dalam kasus RTH, awalnya ketemu Kadar Slamet dan Tomtom, di Rumah makan Panyileukan, membicarakan Bimtek. Selanjut nya, dengan alasan mau ketemu Kadar Slamet di Jatinangor karena akan ada proyek Bimtek. Tiba di Cafe Lapangan Golf 4 sudah ada Tomtom dan beberapa orang tapi tidak ada Kadar Slamet yang janji mau bertemu.

Mengaku tidak tahu urusan RTH, tentang tanah, tidak mengerti bisnis tanah. Berada di cafe tersebut, duduk satu meja dengan Tomtom sekitar 30 menitan, minum jus, tidak ngobrol dgn yg lain kecuali Dedi RT dan Tomtom. Bertemu dgn Abdulloh Mutopa dan mengatakan, "bu Soni ada job tanah," yang dijawabnya tidak mengerti. Beberapa hari kemudian, Mariana dihubungi oleh petugas dari KPK, Harun Al Rasyid dan dipanggil KPK pada tahun 2018.

Tapi menurut Abdulloh Mustopa, ini rekayasa Tomtom. Mariana diperkenalkan Tomtom  sebagai investor yang dibawa oleh Abdulloh. Keterangan Abdulloh dibenarkan oleh Tatang Sumpena, Adang, Saefudin dan Ujang M. Kamaludin. Kedatangan mereka diundang oleh Dedi RT untuk diarahkan oleh Tomtom untuk memberi keterangan di KPK sehubungan kasus RTH mulai diperiksa KPK dan mereka disuruh berbohong. Semua tahu, Tomtom memperkenalkan Mariana sebagai pengusaha. Atas tuduhan itu, Tomtom menanggapinya dengan mengatakan, "Tidak ada rekayasa. Tidak ada skenario. Bu Soni yang janji dengan Kadar Slamet, bukan dirinya. Para saksi tetap pada keterangan. Selain 4 (empat) saksi, Penuntut Umum KPK juga menghadirkan Tatang Sumpena, Adang Saefudin, Ujang M. Kamaludin dan Agus Setiawan yang sudah diperiksa dalam sidang korupsi pengadaan Sarana Pengadaan Tanah Untuk RTH sebelumnya.

Sidang berikut, akan dilanjutkan pada tanggal 21 dan 23 September 2020. Penuntut Umum KPK akan menghadirkan 3 ahli untuk ditambah saksi a de Charge. Pada agenda pemeriksaan saksi mahkota, Penuntut Umum KPK akan menghadirkan kembali para saksi mantan Anggota DPRD yang sudah diperiksa pada sidang hari Senin, 14 September 2020 lalu. (Y CHS)