Pencarian Berita


Para Makelar RTH Bersaksi, Ambil Dan Antarkan Uang Untuk Para Terdakwa

Para Makelar RTH Bersaksi, Ambil Dan Antarkan Uang Untuk Para Terdakwa

Bandung -- Para makelar Pengadaan Sarana Ruang Terbuka Hijau (RTH) mengaku mengambil uang dari Bank BJB dan mengantarkannya kepada para terdakwa korupsi sebesar lebih dari enam puluh sembilan miliar atau tepatnya Rp69.631.803.034,7. Kecuali Kadar Slamet, dua terdakwa lainnya yaitu Tomtom Dabbul Qomar membantah dan Herry Nurhayat keterangan para saksi bohong.

Sidang lanjutan dengan agenda masih pemeriksaan pokok perkara, Penuntut Umum KPK menghadirkan 8 (delapan) orang saksi a charge di ruang sidang I, Kusumah Atmadja (12/8/2020). Para saksi adalah kelompok makelar tanah yang masih ada hubungan keluarga terdakwa Kadar Slamet.

Hingga jam 22.17, sidang yang dipimpin oleh T. Benny Eko Supriadi tersebut baru memeriksa 5 (lima) orang saksi ditambah 1 (satu) saksi konfrontasi yaitu Ujang Kamaludin (adik Kadar Slamet).

Dalam kesaksiannya, Hadad Iskandar yang membebaskan tanah di Wilayah Cibiru, bersama kelompoknya telah menikmati uang se Rp1.260.650.000,00. Uang diterima dalam 2 tahap. Awalnya, Hadad ditugaskan oleh Kadar Slamet untuk mencari tanah di wilayah Kelurahan Cisurupan Kota Bandung. Hadad lalu, bersama grup nya dan Karmana mencari tanah di Cisurupan. Karmana selain membebaskan tanah milik orangtuanya juga menjadi makelar, mempunyai grup sendiri juga bergabung dengan Hadad Iskandar.

Pada tahap I, grup Hadad berhasil membebaskan 50 an bidang tanah dengan harga di bawah NJOP (Nilai Jual Objek Pajak) yaitu Tp 6,7 miliar. Tanah tersebut lalu dibayar oleh pihak DPKAD Pemkot Bandung sebesar Rp17.962.159.250.,00 Pada tanggal 10 Agustus 2012. Pencairan dilakukan oleh DPKAD Kota Bandung dengan mengeluarkan cek yang diserahkan kepada Kuasa Jual yang orang nya sudah diatur oleh Hadad dan Karmana. Setelah dibayar kepada para pemilik tanah, uang tersisa Rp 9,5 miliar. Untuk Kadar Slamet Rp 6,137 miliar, sisanya sesuai kesepakatan dibagi antara grup Hadad dan grup Karmana dimana Hadad sendiri memperoleh 600 juta. Dari sisa uang juga digunakan Hadad dan Karmana untuk mengembalikan pinjaman sebesar Rp 120 juta (dengan pinjaman 100 juta). Besarnya jatah Kadar Slamet menurut Hadad adalah untuk "dibagi ke atas," yang maknanya kurang dipahami Hadad dan Karmana.

Masih menurut Hadad yang diperiksa secara simultan dengan Karmana, pada tahap 2 sekitar Agustus 2012 - Desember 2012,  dibebaskan 36 bidang tanah meski faktanya 39 bidang (3 bidang tidak ada untungnya, jadi dilepas dimana pemilik langsung menjualnya ke Pemkot Bandung). Meski tidak pernah berhadapan dengan Notaris/PPAT Maudin Ahmad Mulyana, SH dalam pembuatan surat Kuasa Jual menerima pencairan berupa cek yang semuanya senilai Rp6,948.742.937 yang diterima para Kuasa Jual pada awal tahun 2013. Kepada pemilik tanah dibayar Rp 3,5.miliar. Uang masih tersisa Rp3.158.604.500,00. Diserahkan oleh Hadad ke Kadar Slamet Rp2.559.954.500 melalui Dedi Setiadi lalu sebesar Rp468.800.000,00 merupakan jatah Hadad dan Rp129.350.000,00 jatah Karmana.

Saksi berikutnya adalah Maman. Dalam keterangannya, disuruh oleh Karmana menjadi Kuasa Jual tanah milik orangtuanya senilai Rp 400 juta dan mendapat fee Rp 7 jutaan.

Keterangan saksi Agus Setiawan cukup menggelikan. Keterangannya sering ber ubah-ubah dan anak dari Hadad Iskandar itu masih akan dihadirkan pada sidang berikut.

Demikian juga Dodo. Saksi yang juga adik kandung Hadad ini dengan berani mengatakan telah menyerahkan uang kepada Herry Nurhayat sebesar Rp 2,5 miliar dibantah Herry. Keterangan semua saksi bohong semuanya, kata mantan Kepala DPKAD Kota Bandung itu. Demikian juga Tomtom membantah keras keterangan Dodo dan Agus yang mengatakan Tomtom menerima uang Rp 2,5 miliar melalui Jahidin yang datang naik.mobil.padahal Jahidin tidak bisa menyetir. Akibatnya Dodo yang menikmati fee Rp 50 juta masih dihadirkan pada sidang berikut bersama 3 saksi lainnya yang belum sempat diperiksa. (Y CHS).